Rubrik Sastra

Pernyataan Cinta Paling Radikal

Pernyataan Cinta Paling RadikalUntuk Toni Tazkia Perdana Ada yang tak ingin kau terimabahwa setiap malam ada tetes darah mawarmembanjiri cintamu yang kadung dahsyatbahwa setiap malam ada cercah daging melatimemancar di pusaramu yang gelap Kutuklah keterasinganjinjing bagian dirimu yang paling borokbelendir dan bau amis padanyasebagai pernyataan cinta paling radikalbukti daya tahan dari ledakan demi ledakankembang api […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Paragraf yang Mati

Paragraf yang Mati Diantara kita ada spasi membentang beserta kalimat-kalimatyang berserakan tanpa aturan bahasa Aku menjadi kata pembuka dalam paragrafUntuk memulai perjalan cerita yang sepertinya akan selesai dengan pertemuan kitaBeberapa kalimat berikutnya tidak nampak kata nomina yang menujuk subjekYa aku aku tidak menemukan mu dalam paragraf ini Kita terpisahkan dalam paragraf yang kian bias dalam […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Hantu dan Bunga

Hantu dan Bunga–kepada Rendi A. Rahman 1/ada yang rendi tidak tahukalau setiap malam aku cobamerapikan kelopak melatidan mawar yang bertebaran dikepalaku untuk kutaburkan di pusarakusendiri. 2/sebenarnya aku tidak akrabdengan mawar dan melatiyang hanya kulihat sekali-kali dikampus saat ada pestakelulusan atau pernikahan 3/rendi juga tidak tahudarahku pernah ngucurkarena tangan bersambutduri di tangkai mawar itu dan aku […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Lagu Topan

Lagu Topan Aku menemukanmudi warung sepi sebagai masa laludi sudut etalase paling kiridan bagian hatiku yang paling kanankau membalut tubuh rapuhdengan lapisan gula kaca berwarnadi inti jiwamu coklat semakin pekatmenawarkan kenangan yang tak lagi                                             bisa […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Sajak Kesaksian 1/5 Abad

Atap-atap rumah gugurBeras penghidupan satu minggu kuyupSebab langit nangis seharianDan bapak termenung putus kerjaMemandangi lantai kian keruh Kami bingung, kenapa si tetangga berada mendapat santunan negara Bulan makin matang di celah plafon yang jebolDan kutu-kutu gudik bar-bar di tubuhKami lihat kulit-kulit mencair jadi nanahKemiskinan pun terasa, pada lapar yang tumbuh cakarnya Pada nasib hitam. Di […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Cinta Dari Jembatan Mirabeau

Cinta Dari Jembatan Mirabeau Dari jembatan Mirabeau cinta dibongkarOleh jeritan surat-surat cinta yang dirobekGigil mantel-mantel yang kehilangan pelukanDan arus sungai yang senantiasa mengalirkanPerhentian bagi pesedih atau kepedihannya Dari jembatan Mirabeau cinta dihirupSebagai aroma dingin partikel saljuMerebak-retakan seluruh kebekuan jantungDan paru-paru menuju titik paling nadir                                                    ujud paling biru Cinta jauh-menjauhi musim semi di MirabeauHanya sunyi dan […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

KOTA API

Oleh Iin Haryani Subadri Di saat mentari menyinari rumput-rumput ilalang di negeri ini. Akar-akarnya tertimbun tanah dan lumpur, terinjak para pejuang yang lari sana-sini, menjadi saksi suara dentuman besi raksasa yang disuapi mesiu dan api. Suara derikan kereta kayu dan ringkikan kuda yang mengangkat kakinya berputar-putar menghindar dari sayatan pedang. Lancipnya bambu runcing menjadi kelas […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

4 Adegan Dalam Suatu Pagi

Fiksi MiniAlfaza Metini Pertanyaan Hidup Jawabanku sederhana: aku hidup hari ini, kemudian mati. Tanpa tahu pernyataan itu berasal dari mana: apakah semacam ketiduran yang tidak bisa dijelaskan selain lelah? Cermin Aku melihat dirinya bengong, ia tidak mengenali dirinya. Sesaat ia tersenyum, benda yang memantulkan sosoknya itu terlihat retak. Asbak Dibandingkan benda lain yang sering dicuci […]

Continue Reading...

Rubrik Sastra

Kuat, Kila

***             Masa-masa itu adalah yang tersulit untuk Kila. Sendiri saja menikmati segala hal yang datang ke hidupnya. Tidak, Kila tidak hidup sebatang kara atau hidup bagai di penjara. Ia punya banyak sekali orang di sekelilingnya. Keluarga, teman, hewan peliharaan, Kila punya semuanya. Namun, tetap saja, kesendirian itu terasa nyata, keramaian seolah hanya ilusi di […]

Continue Reading...