Interupsi

KULON RASA TEMAN

September 9, 2020

Selamat datang September, selamat datang perkuliahan, dan selamat datang semuanya. Covid belum usai, tetapi perkuliahan sudah dimulai. Seandainya kalimat tersebut berubah menjadi, Covid telah usai, tetapi perkuliahan belum dimulai. Pasti bakal seneng dong. Namun, sayangnya itu semua hanya sebatas angan, dan entah kapan Covid ini hilang. Sabar.

Baik mahasiswa baru maupun mahasiswa lama, sepertinya patut diapresiasi karena menyambut perkuliahan dalam kondisi kenormalan baru. Mahasiswa baru dengan Mokaku virtualnya, dan mahasiswa lama dengan kuliah online-nya.

Kulon alias kuliah online memang dirasa merugikan, tetapi kalau dipikir-pikir santai juga. Kulon memang lebih praktis, tetapi kadang kangen juga suasana perkuliahan tatap muka. Namun, karena keadaan seperti ini, ya mau bagaimana lagi.

Teruntuk maba, ini pertama kalinya kalian menjalani masa orientasi virtual selama 3 hari. Tak perlu lagi ada drama repot mencari kosan atau dug-dag sana sini. Cukup duduk santai berdiam di rumah sambil menikmati susunan acaranya di depan layar, tak lupa koneksi internet yang harus selalu stand bye, dan tiba-tiba tak terasa acara pun selesai.

Sedangkan, bagi mahasiswa lama di minggu pertama ini seperti biasa mendengarkan rincian RPS (Rencana Pembelajaran Semester) di awal pertemuan. Eh, tetapi baru awal pertemuan kok task from home bisa-bisanya sih muncul? Sepertinya terlalu khayal jika menantikan pembelajaran “tidak efektif” atau free dulu selama sepekan perkuliahan.

Sepertinya Zoom, Google Meet, Google Classroom, dan Spot.upi. akan sering kalian gunakan. Memakainya pun terbilang mudah, cukup menerima tautan undangan, menekan tautan, melakukan perbincangan, dan selesai. Namun, terkadang belum selesai malah ditinggal duluan. Layanan seperti ini, siapa yang akan menduga. Secanggih apapun gawaimu, tak menjamin koneksi internet akan stabil. Hanya bisa  bersabar menghadapi sinyal yang tak saling memahami.

Luring atau daring? Offline atau online? Bisa jadi keduanya sedang bersanding. Kejadiannya, ada yang menerima perkuliahan daring, ada yang biasa saja mengikuti alur, bahkan ada juga yang selalu menanyakan kapan kuliah tatap mukanya bisa berlangsung. Intinya terlalu banyak hal yang digantung, pada akhirnya lenyap oleh ketidakpastian.  

Lalu, ada lagi nih. Saat memasuki jam perkuliahan, orang-orang sudah menyiapkan tampilan virtualnya masing-masing. Namun anehnya, kok pembelajaran hanya berlangsung 30 menit? Bukannya, 2 sks sama dengan 100 menit? Lantas, bagaimana dengan sisa waktunya? Ohh iya lupa, kan mahasiswa, apa-apa belajar mandiri. 

Kemarin terlalu dikejar waktu, tetapi sekarang sudah ada yang baru. Kabarnya sih sudah punya ruang virtual online secara pribadi, dan tak usah repot-repot pakai yang gratisan. Alhamdulillah, akhirnya kegelisahan menurun. Jadi, sedikit menambah semangat untuk berkuliah.

Baca Juga: MOKAKU Berakhir, Mari Kita Memulai.

Kita lihat saja sejauh mana kulon (kuliah online) ini bisa memberikan kehadiran yang solutif. Masing-masing bebas berpandangan, baik ataupun buruk. Asal tidak terjadi disparitas tertentu, apalagi dalam hal layanan Pendidikan. Karena kita semua berhak dalam menerima pelayanan terbaik selama masa pandemi, bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *