Interupsi

Surat Terbuka: Pak, Sesulit Inikah Mendapat Pendidikan di Kampus Pendidikan?

Mei 22, 2020

Selamat pagi, pak!

Dalam surat ini, saya ingin berbagi keresahan yang barangkali dirasakan juga oleh mahasiswa-mahasiswa lainnya. Saya tak akan berbelit-belit membahas regulasi, landasan hukum, ataupun alur birokrasi. Saya yakin betul, bapak sudah paham dan sadar akan hal tersebut. Mari melihat sudut pandang lain yang lebih dekat dengan kita. Baiklah, kita mulai dengan pertanyaan awal, “Pak, sesulit inikah mendapat pendidikan di kampus pendidikan?”

Kami tahu, bapak adalah orang terpelajar. Mungkin sudah bergelar professor dan doktor. Namun, bukan berarti bapak bisa abai terhadap apa yang kami, selaku mahasiswa, sampaikan. Kami, bisa jadi, masih kurang terdidik dan terpelajar, tetapi kami mengerti betul bahwa akar dari pendidikan adalah menjadikan seseorang sadar bahwa dia adalah seorang manusia, hidup di antara manusia, dan memiliki rasa kemanusiaan. Dengan kampus berlabel pendidikan, apakah betul hal tersebut sudah mengalir bersama darah kita? Rasanya belum.

Di kondisi seperti sekarang, tak ada yang mudah. Kita sama-sama merasakan hal yang demikian, bukan? Saya yakin, bapak mempertimbangkan betul setiap kebijakan yang bapak ambil. Salah satunya adalah pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja, bisakah akses tersebut kami dapatkan dengan murah, pak? Sebab, seperti apa yang kami singgung sebelumnya, “di kondisi seperti sekarang, tak ada yang mudah”. Begitupun dengan orang tua kami. Keluarga kami sulit mendapatkan kebutuhan pokok: sandang, pangan, dan papan. Kondisi ekonomi keluarga kami telah berubah. Banyak di antara orang tua kami yang terkena PHK, mengalami kebangkrutan, penurunan upah, serta diistirahatkan dan tidak mendapat haknya. Adapula orang tua kami yang sudah meninggal dunia. Pak, mestikah kami mengeluarkan sisa harta dari uang pesangon dan perabotan rumah kami untuk membayar biaya yang sudah bapak tetapkan?

Tolong jangan permainkan kami, pak. Sebab, kami sedang tidak main-main. Kami tak sanggup melihat ayah kami menjajakan tulang punggungnya kepada para pengepul. Kami juga tak sanggup memakan hati ibu kami yang ingin melihat kami tersenyum.

Andaikata jawaban yang bapak berikan adalah penangguhan atau cicilan, sungguh, itu tidak menyelesaikan masalah kami. Dengan kata lain, itu hanya menunda masalah ini dan menambah masalah lain. Tak semudah itu kami memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga kami. Negara tak bisa menjamin apapun. Mana ada perusahaan yang sudi memperkerjakan orang tua kami dengan upah layak. Maka dari itu, penangguhan atau cicilan bukanlah apa yang betul-betul kami harapkan.

Bapak selalu menyampaikan, Uang Kuliah Tunggal (UKT) adalah sistem pembayaran dengan cara silang, di mana yang berkemampuan lebih, mesti menutupi yang membutuhkan bantuan. Namun, kami tidak bisa membohongi diri kami sendiri. Bagaimana jika kami semua memang membutuhkan bantuan? Apakah sistem tersebut masih bisa dikatakan relevan? Selain itu, bapak sering pula menyampaikan bahwa Uang Kuliah Tunggal (UKT) itu dihitung berdasarkan penghasilan dan tanggungan keluarga. Namun, bagaimana jika kondisinya seperti hari ini? Hampir sebagian besar dari kami berpenghasilan sedikit dan tanggungannya semakin banyak. Saya tanyakan kembali, apakah sistem tersebut masih relevan?

Perhatikan pula kakak-kakak kami yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya. Mereka hanya tinggal menyelesaikan satu hal: skripsi atau tugas akhir. Namun, dalam pengerjaannya, mereka terhambat oleh kondisi. Mereka frustasi, pak. Apakah bapak masih mau menambah frustasi mereka dengan menuntut untuk membayar penuh biaya pendidikan?  Sesulit ini ya pak mendapat selembar kertas yang berisi pengakuan atas pendidikan?

Jangan lupakan adik-adik kami. Mereka adalah seorang pejuang dan pemimpi. Dengan seluruh hati dan tenaga, mereka mengorbankan apa yang mereka miliki. Mereka bermimpi menempuh pendidikan tinggi. Mereka bermimpi mendapat pendidikan di kampus pendidikan. Namun,  bapak malah menaikkan uang kuliah mereka. Padahal, kondisi ekonomi mereka juga sama seperti kami. Apakah bapak sudah menghitung, berapa adik-adik kami yang tak jadi berkuliah di kampus pendidikan dikarenakan biaya? Mereka terhenti sebab syarat utama (uang) tak bisa mereka penuhi. Apakah pendidikan hari ini tidak berpihak untuk mereka? Apakah kampus pendidikan tak bisa memperjuangkan orang-orang yang ingin mendapat pendidikan? Padahal, kami yakin, mereka semua adalah calon pemimpin negeri ini. Mungkin, di masa depan, salah satu dari mereka yang akan menggantikan bapak mengambil keputusan di kampus ini. Namun sayang, masa depan mereka harus berganti. Pak, kami tak mau melihat adik-adik kami menjual rumah dan pakaiannya untuk berkuliah. Kami tak ingin mereka merasakan apa yang telah kami rasakan.

Kami memohon maaf apabila lancang. Disini, kami hanya menyampaikan keresahan kami. Kami mencintai pendidikan dan kampus pendidikan ini. Namun, kami lebih mencintai mereka yang selalu berjuang agar tetap mendapatkan pendidikan.

Saya yakin, bapak telah khatam dengan yang namanya pendidikan. Di kampus pendidikan ini, saya berharap, kami mendapatkan hak yang sesuai. Di situasi seperti ini, kami semua masih ingin tetap berkuliah. Tolong, jangan biarkan apa yang telah kami bangun, roboh. Tolong, jangan biarkan impian yang hampir kami gapai, menjauh.

Kami adalah mahasiswa bapak. Kami tak bisa disamakan dalam hal ekonomi. Situasi selalu berubah dan ikut mempengaruhi kami. Kami selalu yakin dengan apa yang telah bapak sampaikan, “jangan sampai ada mahasiswa yang berhenti kuliah karena biaya”. Kami yakin, itu akan terwujud!

Baca juga: MENYEDIHKAN! KAMPUS UPI BERSICEPAT MENUNTUT PEMBAYARAN UKT DITENGAH PANDEMI YANG BELUM MEREDA

Only registered users can comment.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *