Kabar Literat

Kisah Cinta Hari Rabu, Zaman Sudah Berubah dan Akan Selalu Berubah

Oktober 2, 2021

Rabu (29/09), mahasiswa Institut Seni Bandung Indonesia (ISBI) menampilkan pergelaran teater yang berjudul ‘’Kisah Cinta Hari Rabu’’ karya Anton Chekov yang telah disadur oleh Sapardi Djoko Damono. Pergelaran dilaksanakan dalam dua sesi, sesi pertama dilaksanakan pukul 16.00 WIB, sedangkan sesi kedua dilaksanakan pada pukul 19.30 WIB secara luring di tempat komunitas Celah-Celah Langit (CCL). Pelaksanaan pergelaran teater dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan dan telah dipersetujui oleh ketua RW setempat serta satgas Covid-19. Pergelaran ini berlangsung selama satu jam lebih dari setiap sesi, dengan jumlah penonton yang terbatas.

Pergelaran ini disutradarai oleh Ambar Pratiwi, dan juga staff yang lain, yaitu Adel Pratiwi (Pimpinan Produksi), Puji Koswara (Stage Manager), Alwi & Rafe (Tim Artistik), Mariana Alfat Rizka (Penata Custom), Lightthink (Penata Cahaya), Samuel & Eman (Dokumentasi). Anggi & Dwi (Ticketing), Ridwan, Roby Achmad & Danisa ( Humas). Tidak lupa para aktor yang berperan sebagai tokoh dalam pergelaran teater ini ialah Irma Maulani, Gema Fadilah, dan Bondan A Saputra.                                                               

Dalam segi artistik tampak sangat minimalis dengan background yang khas dari sebuah pergelaran teater, tiga buah kursi, tiga meja antara lain; meja tamu, meja sebagai dekorasi penempatan telepon rumah, meja tata rias dan satu figura potret laki-laki yang berusia separuh baya. Aktor dan pemusik berpadu dan berkolaborasi menghasilkan suatu bentuk drama musikal yang menarik namun tidak terlalu mencolok. Dengan aktor yang berjumlah tiga orang bisa menghasilkan suatu dialog yang segar serta menghibur. Penonton pun merasakan atmosfer yang diciptakan dari pergelaran ini.

Alasan mengapa naskah yang berjudul ‘’Kisah Cintah Hari Rabu’’ karya Anton Chekov ini dipilih oleh Ambar Pratiwi selaku sutradara. Menjelaskan dalam wawancaranya, ‘’Pertama ini dekat dengan kita, dan ini sepertinya akan terus ada perihal stigma perempuan yang dituntut untuk segera menikah sementara dalam waktu bersamaan perempuan juga dituntut memiliki karir yang bagus.”                       

‘’Semoga masyarakat, khususnya yang menonton mendapatkan ilmu atau manfaat yang lebih, bahwasannya perempuan juga sama seperti laki-laki, manusia juga. Dan semoga stigma masyarakat terhadap perempuan yang belum menikah tidak terlalu repot.’’ tutup Ambarwati. Itu adalah alasan dari sutradara mengapa naskah tersebut dipilih untuk pergelaran teater yang dilaksanakan secara langsung. Alasan yang memiliki sikap serta pesan yang kuat terhadap stigma masyarakat yang selalu menuntut hal yang berlebihan khususnya kepada kaum wanita.

Sementara itu, naskah tersebut mempunyai permainan latar yang cukup unik. Penonton dibuat untuk membayangkan 50 tahun ke depan tepatnya 2010, sedangkan kondisi penonton dalam naskah diposisikan ada di tahun 70-an. Kekuatan hal tersebut bisa dilihat dari musik keroncong yang paling dominan dimainkan oleh para pemusik sebagai penegesan latar. Selain itu, Ambarwati selaku sutradara menjelaskan bahwa pendekatan terhadap naskah sendiri dilihat dari penulis adaptasi yaitu Sapardi Djoko Damono (SDD) mengarahkan ke nuansa Jawa, karena budaya di Jawa sendiri masyarakat mempunyai kepercayaan terhadap hari-hari semisal Senin, Selasa, Rabu dijadikan weton sebagai hari baik. Tetapi pada kenyataannya di akhir cerita naskah tersebut tidak sesuai yang diharapkan oleh para tokoh. Pergelaran tersebut secara khusus diadakan pada hari Rabu juga sebagai upaya menghormati Pak Sapardi sebagai yang membuat naskah. Bisa dikatakan pergelaran teater ’’Kisah Cinta Di Hari Rabu’’ merupakan pergelaran yang bisa disaksikan oleh penonton secara langsung di saat terjadinya pandemi Covid-19. Tentunya pergelaran dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat. Setelah sekian lama kegiatan perihal kesenian khususnya teater di Kota Bandung yang selalu dilaksanakan secara daring, maka pergelaran teater kali ini bisa menjadi oase di tengah gersangnya kegiatan kesenian di Kota Kembang, yang di mana atmosfer yang dirasakan sangatlah berbeda apabila dibandingkan dengan kegiatan kesenian yang dilaksanakan secara daring. Terkait hal itu, Ambarwati memberi pernyataan, ‘’Semoga semua bisa memanfaatkan media digital atau media apa pun itu, sekarang kita harus memikirkannya ke depan, karena memang walaupun kita rindu dengan panggung, rindu kepada penonton yang secara langsung, kita harus melihat peluang-peluang itu, meski gedung kesenian dikunci, tapi jangan sampai imajinasi terkunci.’’ujar Ambarwati.

Baca juga: Peringatan Hari Tani Nasional 61 : Kesatuan dan Persatuan Dari Massa Untuk Mewujudkan Tujuan Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *