Kabar Literat

SEJARAH YANG RINGAN DAN RACAUAN DI MALAM HARI ⁣ GOBLOG #2

November 18, 2019

SETELAH para Gobloger’s terombang-ambing oleh isu demokrasi—di hari pertama. Di hari selanjutnya, Teater Lakon UPI menyuguhi para penonton setia Gebyar Puisi dan Monolog GOBLOG (GOBLOG), dengan dua sajian pertunjukan yang membuat apresiator menggali pikiran dan menguras perasaan (13/11/19)⁣⁣.
⁣⁣
Pementasan tersebut suara tawa Jo, aktor Goblog hari pertama. Seperti dipementasan Goblog sebelumnya, pewara mengantar penonton pada sajian deklamasi puisi. Saat itulah kesedihan larik-larik puisi sakit Fajar Kliwon, seorang pujangga ASAS UPI mengawali pementasan Goblog, Rabu malam. Fajar menaburkan kesedihan melalui puisi miliknya yang berjudul “Akan Ada Saatnya” dan puisi lain karya penyair legenda W.S. Rendra berjudul “Pamflet Cinta”. Hidangan pembuka tersebut berhasil menaburkan tepuk tangan penonton di Gd. Geugeut-Winda PKM UPI. Para penonton terdiri atas mahasiswa, dosen, dan aktivis teater, cukup terhibur oleh sajian puisi yang dibawa Fajar Kliwon pujangga ASAS UPI. ⁣⁣
⁣⁣
Malam semakit pekat, lampu panggung memerah, menyorot pada seorang yang asyik menari dengan selendang putih. Gesekan rebab membuat suasana mencekam, cukup membuat penasaran akan sajian selanjutnya, yaitu monolog “Batu” karya Bobby Blood yang sekaligus menjadi sutradara pada pementasan tersebut yang diperankan oleh Sherly Maulani. Ia lihai dalam meliak-liukkan tubuhnya dalam membuka pementasan monolog pertama di hari itu.

Monolog “Batu” bercerita tentang sepenggal sejarah penindasan yang terjadi di Indonesia, hingga para pengusasa melalui sistem kapitalisme telah mendarah daging sampai saat ini. Materi sejarah tersebut tentu dibawa secara serius oleh Sarbong (Sherly Maulanai) dan tentunya hal itu sungguh membuat jemu dalam beberapa saat. ⁣⁣
⁣⁣
Namun, di sela-sela pertunjukan, Sherly meledakkan pementasan “Batu” hari itu. Dia mengatakan bahwa dialog yang berbau sejarah tersebut merupakan materi sejarah yang mesti dipelajarinya untuk UTS esok hari. Hal tersebut tentu mengundang gelak tawa seisi ruangan. Tidak cukup sampai di sana, kecerdikan sutradara dalam menaburkan beberapa punch-line lain di adegan-adegan selanjutnya, misalnya ati yang Meracau bercerita tentang seseorang yang hidup dengan seorang tua. Diceritakan dia selalu diperlakukan baik. Hanya saja, dia selalu saja dianggap sebagai orang gila. Karena hal tersebut, membuat dirinya gelisah dan memulai konflik batin. Dia lantas membunuh orang tua tersebut dengan rapi. Tak ada jejak-jejak pembunuhan meski dia telah memutilasi orang tua tersebut, dan lolos pemeriksaan. Cerita berakhir ketika dia mengaku dan menyerahjkan diri atas pembunuhan orang tua tersebut kepada petugas. ⁣


Naskah-naskah Poe memang terkenal kelam dan kejam. Begitupun pementasan kedua ini, sangat memfokuskan unsur dramatik dari awal hingga akhir pertunjukan. Mutia begitu ciamik memadukan ekspresi tawa yang lahir dari seorang yang depresi ala-ala Arthur Fleck. Saya rasa mutia berhasil menyajikan kisah seorang yang depresi karena konflik batin sang tokoh yang dianggap gila. Hal ini tentu didukung pula dengan musik mencekam yang tak terdengar asing bagi pecinta film-film horor. Tetapi yang saya rasakan dalam naskah kedua ini, Mutia cenderung tergesa-gesa dalam membacakan dialog, sehingga saya tidak terlalu menikmati ketika dinamika pertunjukan sedang lambat. ⁣

Dalam pementasan Goblog hari kedua ini. Teater lakon sungguh menghadirkan dua jenis monolog secara kontras. Sejarah yang dibawakan secara ringan melalui teknik Brecht pada monolog Batu. Serta berupaya mencapai katarsis melalui konflik batin yang rasakan tokoh utama dalam naskah Hati yang Meracau. Membuat rabu malam saya terasa berat untuk beranjak dari gedung pertunjukan. (Jundun)⁣

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *