Q&A

Q&A Literat Bersama Willy Fahmi Agiska

November 6, 2019

Q: Apa yang dipikirkan ketika pertama kali mendengar nama Bang Willy yang menjadi juara?

A: Waktu itu ya merasa aneh, karena penulis-penulis yang masuk ke KPI itu kebanyakan saya lihat adalah penulis-penulis yang sudah terkenal, banyak melintang di dunia perpuisian bahkan sudah banyak menerbitkan buku. Nah saya kan, katakanlah mungkin salah satu penyair muda yang juga itu merupakan buku pertama yang diikutsertakan. Sudah pertama, tipis pula. Hanya berisi 22 puisi. Jadi saya benar-benar gak nyangka ternyata juri itu memberikan perhatian lebih kepada buku tipis yang sedikit puisinya. Tapi, memang itu buku yang merangkum penyairan saya dari awal menulis tahun 2012 sampai 2018. Jadi, 22 puisi itu rentang waktu 2012 sampai 2018.

Q: Apa yang dilakukan dan dipikirkan ketika malam hari setelah mendapatkan juara?

A: Setelah mendapat itu, saya merasa penghargaan itu kadang-kadang seperti kutukan, karena saya banyak diperhatikan orang. Jadi, ada tuntutan supaya lebih rajin lagi, karena kan saya dari berbagai penulis termasuk penyair pemalas mungkin disebutnya. Karena per tahun itu bisa jadi tidak hanya lebih, satu tahun itu bisa 20 puisi atau hanya 15. Sudah seperti itu, saya juga jarang mengirim ke media, mungkin hanya beberapa kali lah. Jadi ketika menang HP itu saya berpikir justru ingin segera berkarya lagi dan ingin melupakan karya sebelumnya.

Q: Apa motivasi Kang Willy?

A: Motivasi saya menulis, terutama menulis puisi itu ya karena dorongan atau panggilan. Jadi, saya menulis kalau di dalam diri saya ada yang memanggil. Entah itu pengaruh dari saya bersentuhan dengan sosial keseharian atau dari bacaan-bacaan yang saya baca, atau hal-hal lainnya. Jadi, keterpanggilan itu yang membuat saya terus menulis sampai hari ini. Dan yang kedua, ya rasa cinta terhadap puisi. Saya merasa puisi sudah menjadi bagian dari hidup saya selama ini.

Q: Firasat apa yang dirasakan sebelum menjadi juara?

A: Gak ada.

Q: Apa yang harus dilakukan ketika akan menulis puisi?

A: Pertama ya harus banyak membaca puisi orang-orang. Kedua, yang paling penting kalau ingin jadi penulis ya saya mau tidak mau harus membiasakan disiplin menulis, disiplin membaca, dan sebagainya. Karena tanpa hal itu saya tidak akan berkembang sampai kapan pun. Tapi, saya sedang berusaha untuk menciptakan disiplin yang tetap.

Q: Apa yang menjadi kendala dalam menulis puisi?

A: Mungkin ini ada kaitannya dengan disiplin. Dalam menciptakan disiplin menulis, disiplin membaca itu yang paling berat adalah setia terhadap disiplin yang kita ciptakan, karena banyak faktor godaan dari luar. Entah itu ajakan menonton atau jalan-jalan gak jelas, ngobrol-ngobrol yang gak jelas. Ya itu, setia pada disiplin yang kita ciptakan. Entah itu disiplin menulis atau disiplin membaca. Membaca karya apa pun. Entah sastra, filsafat, atau sebagainya. Karena menurut saya menulis tidak bisa tertutup dalam menerima berbagai referensi, karena sastra dihidupi oleh referensi semua ilmu pengetahuan.

Q: “Penari” dibuat pada tahun 2012. Masih ingat? Bacain dong.

A: Mungkin sambil nyontek ya, saya kurang hafal semuanya. Ini salah satu puisi awal saya menulis. Dulu semester 3, mungkin seumuran kalian. Dan ini juga puisi pertama yang dimuat, diikutsertakan di Pertemuan Penyair Nusantara 6, Jambi. Itu baru pertama kali ngirim dan baru pertama kali serius menulis, judulnya “Penari”. Sepuluh anak sungai di tanganmu, tiba-tiba saja seperti akan meloloskan laut. Laut yang senantiasa dibentuk oleh gerak-gerik ombak juga ikan-ikan. Atau dari yang karam dan tenggelam. Sebab, kamu juga tercipta dari segala yang bergerak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *