Top Pick

4 Film Ini Akan Mengubah Persepsimu terhadap Perempuan

Oktober 15, 2021

Menjadi perempuan adalah sebuah anugerah juga tugas yang berat. Kehidupan perempuan sejak dahulu sudah mengalami banyak perjuangan, bahkan hingga saat ini. Akses pendidikan yang sulit untuk perempuan di desa, belum lagi adat dan stigma yang melekat pada perempuan pedesaan.

Terlepas dari segala kesulitan yang harus perempuan pedesaan hadapi dalam hidupnya, mereka memiliki peranan yang penting untuk keberlangsungan hidup di desa. Selain mampu melahirkan anak dari rahimnya, perempuan juga bisa menjadi penggerak ekonomi desa, juga bisa menjadi agen perubahan di desa mereka. Maka untuk mengapresiasi kontribusi perempuan pada desanya, setiap tanggal 15 Oktober dirayakan hari perempuan pedesaan seluruh dunia.

Dalam rangka merayakan hari besar tersebut, Literat punya beberapa rekomendasi film yang mengangkat perjuangan perempuan pedesaan dalam meraih mimpinya dan menjadi agen perubahan bagi desanya.

1. Queen Of Katwe

Siapa bilang perempuan desa tidak bisa menjadi pemain catur dunia? Phiona Mutessi telah membuktikannya. Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini, menceritakan anak perempuan yang berasal dari desa kecil bernama Katwe yang mengubah kehidupannya melalui catur.

Berawal dari keisengannya melihat seorang misionaris bernama Katende yang sedang mengajari anak-anak, Phiona mulai mempelajari catur dan melatih kemampuannya setiap hari. Melihat potensi dalam diri Phiona, Katende melatih Phiona dan mengikutkan Phiona pada lomba-lomba catur di sekolah. Berkat kerja keras dan keyakinannya, Phiona kemudian menjadi juara olimpiade catur di wilayahnya.

2. Dukhtar

Film Pakistan yang rilis tahun 2014 ini menceritakan tentang tradisi pernikahan dini. Allah Rakhi dan anaknya Zainab kabur dari desanya dengan menumpang kepada supir truk, pergi ke kota yang berjarak belasan kilometer dari desanya.

Film ini juga menggambarkan bagaimana perempuaan dianggap sebagai hak milik seseorang. Terkadang juga perempuan dijadikan sebuah alat untuk tujuan tertentu. Seperti yang diceritakan, Zainab dinikahkan pada seorang pemimpin tribal demi kedamaian dan agar tidak terjadi lagi peperangan.

3. Period. End Of Sentence

Film dokumenter Netflix satu ini berlatarkan desa kecil bernama Hapur. Menceritakan tentang seorang perempuan bernama Sneha yang ingin mengubah keadaan desanya. Bersama beberapa wanita lainnya, mereka membentuk sebuah unit usaha pembalut di desa Hapur. Mengingat tingkat penggunaan pembalut di India sangatlah kecil, mereka berinisiasi membuat pembalut murah dengan kualitas yang bagus untuk dijual di desa Hapur.

Dengan durasi 25 menit, film ini tidak hanya mengisahkan perjuangan mereka memperkenalkan pembalut pada warga, penonton juga akan diajak melihat realita menjadi seorang perempuan di desa Hapur. Mulai dari stigma terhadap menstruasi, tabunya topik menstruasi bahkan di kalangan perempuan itu sendiri, dan bagaimana perempuan dianggap tidak bisa melakukan apapun.

4. Moxie

Tidak berlatar di desa, tetapi film ini juga membicarakan permasalahan yang serupa dengan film-film sebelumnya. Mengangkat isu patriarki dan ketidakadilan gender di persekolahan, Moxie menceritakan sebuah klub feminis yang secara anonim didirikan oleh Vivian (Hadley Robinson). Moxie bersuara tentang kasus-kasus ketidakadilan gender yang terjadi di sekolah, seperti perlakuan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki, aturan berpakaian yang tidak adil hingga lepas tangannya pihak sekolah terhadap kasus pelecehan yang dialami perempuan. Tidak hanya itu, film ini menunjukkan toxic masculinity yang dimiliki oleh beberapa siswa laki-laki dan juga gurunya.

Meskipun film ini mengangkat tema yang cukup serius, pengemasan film ini sangat ringan untuk ditonton. Tidak hanya menceritakan perjuangan klub Moxie untuk mendapatkan keadilan di sekolah, film ini juga bercerita mengenai persahabatan, keragaman ras, serta penerimaan diri sebagai bentuk cinta pada diri sendiri.

Itu dia empat film yang mengangkat perjuangan perempuan, khususnya perempuan pedesaan. Semoga setelah menonton film-film tersebut, kawan-kawan semua semakin menghargai perempuan.

Baca juga : LIMA PERPUSTAKAAN DARING ANDALAN MAHASISWA UNTUK MENCARI REFERENSI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *