Top Pick

5 Buku yang Pas Dibaca untuk Mahasiswa Baru Sastra Indonesia

September 8, 2020

Ingatan saya masa menjadi mahasiswa baru Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia hanya sekelebat dan agak samar-samar. Bertemu teman baru dan bermutualan (baca: berteman) rasanya begitu-begitu saja sejak zaman SD, SMP, dan SMA. Tak ada yang benar-benar baru. Singkatnya, tak ada yang menarik, apalagi berkesan.

Untungnya, ada Hima Satrasia, ASAS UPI, dan serangkaian aksi demonstrasi yang seakan tiada habisnya menentang segala kebijakan, baik dari kampus maupun pemerintah, yang merugikan mahasiswa. Kebijakan yang bikin biaya kuliah mahal, misalnya. Atau, pembatasan aktivitas organisasi mahasiswa yang tak kalah ngaco.

Seandainya waktu itu tak ada Hima Satrasia yang menyediakan ruang untuk berproses; tak ada ASAS UPI yang menawarkan arena untuk mengasah kreativitas; dan tak ada UKM demo yang menjadi motor bagi kepentingan mahasiswa, mungkin saya sudah resign setelah UTS semester pertama. Tentu saja, sikap seperti itu bakal dianggap buruk oleh dosen sebab tak lazim bagi mahasiswa pada umumnya. Sungguh, saya selalu terkagum-kagum kepada mereka yang begitu kuat imannya pada presensi kuliah. Menyimak dan mencatat apa-apa saja yang diterangkan oleh dosen, tak peduli apakah itu bisa mengubah keadaan, membebaskan si miskin dari penindasan. Tak heran bila keimanan mereka niscaya diganjar oleh nilai A dan jaminan sarjana dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Tapi, lebih daripada itu, tiga lembaga mahasiswa inilah yang mengenalkan saya kepada hantu-hantu yang bersemayam di dalam buku-buku. Membaca buku, menurut J. Hillis Miller, serupa membangkitkan hantu-hantu dari tidur panjangnya. Hantu-hantu yang terkadang baik hati, lembut, tapi sekaligus bengis dan menyebalkan itu bergentayangan di dalam kepala kita. Menceritakan tentang apa saja, bagai seorang penggerutu yang kesepian.

Tulisan ini, ditujukan buat Anda, mahasiswa baru Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Barangkali, rekomendasi buku-buku yang sebaiknya habis dibaca sebelum memasuki pekan ketiga perkuliahan dapat mempersiapkan diri Anda untuk menepis kejenuhan kelas daring perkuliahan. Kalau tidak berhasil, rasanya Literat akan gembira menerima tulisan protes Anda buat saya.

Kelima buku ini dipilih tanpa dasar pertimbangan yang ketat dan pada dasarnya berasal dari pengalaman saya. Meski demikian, buku-buku ini mengubah pengalaman saya akan aktivitas membaca. Baiklah, berikut rekomendasi dari saya.

1. On Literature: Aspek Kajian Sastra – J. Hillis Miller

Pada urutan pertama, jelas saya akan merekomendasikan buku On Literature ini. Buku ini tidak saja berkaitan dengan mata kuliah semester pertama, pengantar kajian kesusastraan. Buku ini akan memperbaiki cara membaca Anda, yang mungkin saja selama ini keliru. Dan, ini amat penting bagi Anda: mengubah cara membaca sastra sejak dini. Banyak komentator teori sastra mencoba menjawab pertanyaan –sayangnya, banyak di antara mereka gagal–apa itu sastra, tapi sedikit di antaranya yang membocorkan rahasia tentang sastra.

Buku ini dibuka dengan kalimat yang luar biasa gemilang: “Akhir sastra sudah di depan mata.” Sastra akan segera berakhir? Padahal, Anda mungkin baru saja akan memulai petualangan bersama sastra. Yang dimaksud Miller, sastra di era mesin cetak. Dan, bukankah sudah kita saksikan berapa penerbitan cetak (buku atau majalah) sastra yang mulai berguguran.

Percayalah, buku ini lebih bermanfaat daripada omong kosong sastra di era revolusi industri 4.0 yang dibicarakan orang-orang di kampus–termasuk dosen, tapi tak paham secara substansi peralihan ( shifting ) era cetak menuju era digital, yang seringnya hanya diartikan dengan teknologi buku digital. Tanyakan saja kepada dosen Anda jika tak percaya. Saya akan membocorkan sedikit, buku ini tidak akan membuat Anda pandai mengisi soal ujian kajian kesusastraan, apalagi membuat Anda terampil mengkaji karya sastra dengan teori strukturalisme atau formalisme. Sisanya, sila Anda baca sendiri.

2. Orang-orang Bloomington – Budi Darma

Ada begitu banyak karya sastra yang ingin saya rekomendasikan kepada Anda. Tapi, mula-mula mari kita mulai dengan kumpulan cerpen yang satu ini, Orang-orang Bloomington karya Budi Darma.

Budi Darma bisa dikatakan maestro dalam prosa fiksi Indonesia. Bagi Anda yang tidak asing dengan karya-karya terjemahan, Anda akan mendapati pengalaman membaca yang sama pada karya-karya Budi Darma. Seperti pada kumpulan ini, Anda seperti sedang membaca James Joyce dalam kumpulan cerita The Dubliners , juga cerpen-cerpen Franz Kafka.

Dan, yang paling penting, jika Anda tertarik menulis prosa fiksi, Anda akan tahu bagaimana rasanya dikencingi jika membandingkan karya Anda dengan Budi Darma. Bukankah ini sebuah modal yang amat kaya bagi mental Anda?

3. Lelaki Harimau – Eka Kurniawan

Eka Kurniawan, mungkin saat ini bisa disebut sebagai pengarang paling terkemuka di Indonesia. Karya-karyanya amat sering dibicarakan, juga mendapatkan perhatian publik pembaca internasional. Dia hampir menyamai Pramoedya Ananta Toer dalam urusan publikasi karya di dunia internasional. Novel-novelnya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Anda bisa meng-Google sendiri trivia tentang Eka Kurniawan beserta karyanya.

Bisa diperdebatkan, buku mana yang sebaiknya lebih dulu Anda baca, Cantik Itu Luka atau Lelaki Harimau . Tapi, saya lebih memilih Lelaki Harimau . Rahasianya ada pada ketipisan halaman dan alurnya yang memikat. Eka Kurniawan mencuri berbagai teknik penulisan Lelaki Harimau dari berbagai penulis, mulai dari Franz Kafka sampai Gabriel Garcia Marquez.

Sinopsisnya tak perlu saya tulis, ‘kan?

4. Creative Writing – AS Laksana

Setelah Anda menerima takdir bahwa kini Anda adalah seorang mahasiswa sastra Indonesia, lalu mengikuti perkuliahan daring yang membabat uang saku, dan Anda memutuskan untuk mengetahui lebih lanjut tentang sastra lewat berbagai kegiatan di kampus, mungkin Anda mulai berpikir, “Keknya , gue bisa deh jadi penulis”. Artinya, Anda sudah berada di jalur yang tepat. Kecuali Anda memang ingin membuktikan ramalan saya bahwa jurusan sastra akan segera bangkrut dalam waktu dekat.

Antusiasme untuk menjadi seorang penulis harus terus dipupuk. Apalagi, jika Anda telah memperbaiki cara membaca sastra. Dua komponen ini sudah lebih dari cukup jadi modal Anda untuk menjadi penulis. Anda hanya membutuhkan sebuah panduan. Sayangnya, di masa pandemi ini, Anda akan sulit berdiskusi dengan senior-senior Anda, mencuri pengalaman-pengalaman mereka agar bisa menulis karya sesuai keinginan redaktur media.

Satu-satunya yang bisa Anda andalkan untuk saat ini adalah bacaan ” how-to “. Buku ” how-to ” menulis karya sastra melimpah ruah di market place (mengingat toko buku masih belum aman dikunjungi). Tapi, sedikit saja yang serius mengajarkan Anda menulis dengan sungguh-sungguh. Sisanya hanya omong kosong.

Buku Creative Writing ditulis oleh AS Laksana yang sudah mengampu kelas penulisan yang teruji. Banyak penulis-penulis terbaik berasal dari kelas tersebut. Buku ini juga, jelas saja, sangat mudah dipahami dan dipraktikkan.

5. Inilah Esai – Muhidin M. Dahlan

Jika Anda merasa tak punya cukup bakat dalam usaha menipu pembaca. Maksud saya, Anda sadar bahwa Anda tak memiliki cukup kemampuan dalam menciptakan dunia imajiner, di mana pembaca akan terhisap ke dalam cerita Anda dan berharap tak pernah keluar dari sana. Tapi, Anda ingin tetap pandai menulis. Esai mungkin bisa jadi salah satu pilihan. Meski, agak sulit membayangkan bagaimana menulis esai tanpa sentuhan imajinasi.

Tapi, selain demi karier kepenulisan Anda yang tak boleh padam, menulis esai banyak manfaatnya bagi kehidupan kemahasiswaan. Jangan membayangkan Anda membutuhkan keterampilan khusus menulis esai untuk memenuhi tugas mata kuliah. Percayalah, tidak banyak dosen yang punya cukup waktu buat membaca tugas-tugas Anda.

Manfaat yang saya maksud memang lebih pragmatis, tapi ini betul-betul berguna dan niscaya akan membuat Anda beserta orangtua Anda bahagia. Memburu beasiswa dan sponsor biaya kuliah, apalagi beasiswa pascasarjana di luar negeri. Salah satu syarat paling umum untuk mendapat beasiswa adalah menulis esai. Keterampilan Anda menuangkan gagasan subjektif adalah kunci penilaiannya. Dan, buku ini, bisa menuntun Anda untuk menulis esai yang baik. Buku ini juga, saya rasa, akan membuat Anda rakus membaca esai-esai yang ditulis oleh para penulis esai yang andal.

Yang kurang dari tulisan ini yaitu rekomendasi buku kumpulan puisi yang sebaiknya Anda baca. Sayangnya, saya tak merasa punya kompetensi dalam menimbang puisi. Menikmati puisi, bagi saya teramat subjektif. Tapi, bolehlah saya rekomendasikan satu-dua penyair yang sebaiknya Anda perhatikan: Octavio Paz dan Wisława Szymborska. Untuk penyair Indonesia, bisa saja Anda lebih banyak tahu ketimbang saya.

Baca Juga: Mahasiswa Baru Diksatrasia Perlu Baca Buku Ini

Rasanya, tak berat bagi Anda untuk mencoba tantangan ini. Membaca 5 buku rekomendasi saya sebelum pekan ketiga perkuliahan. Bukan saja redaksi Literat yang akan gembira menerima tulisan protes Anda, juga saya sendiri. So , saya amat menanti tanggapan dari Anda.

Dou San, alumni mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *