Setiap pagi, jutaan orang membuka mata hanya untuk menatap layar ponsel. Jempol mereka mulai bekerja bahkan sebelum pikiran benar-benar sadar. Dari satu video ke video lain, dari satu berita ke berita berikutnya. Mereka terseret dalam arus doomscrolling yang disebabkan oleh dopamin instan yang membuat mereka sulit untuk menghentikannya. Namun dibalik dopamin/kepuasan sesaat tersebut, terdapat bahaya yang mengancam mereka. Kira-kira apakah itu? dan bagaimana hal ini bisa terjadi?
Apa Itu Fenomena Doomscrolling?
We Are Social & Hootsuite (2023) melaporkan dalam artikel beritanya yang berjudul “The Changing World of Digital In 2023” bahwa masyarakat Indonesia menduduki peringkat teringgi ke-8 dalam waktu atau durasi yang dihabiskan untuk mengakses media sosial yakni mencapai 3 jam 18 menit perhari. Mahasiswa menjadi kelompok pengguna yang paling rentan. Hal ini dicatat dalam studi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), lebih dari 96% mahasiswa Indonesia berselancar di media sosial setiap hari, yang di dominasi oleh platform Instagram, TikTok, dan YouTube.
Rosenberg (2020) dalam artikelnya berjudul “The Twitter Pandemic: The Critical Role of Twitter in the Dissemination of Medical Information and Misinformation During the Covid-19 Pandemic” menjelaskan bahwa kecenderungan seseorang menghabiskan waktu lama untuk melihat, menyimak, dan menelusuri informasi bernuansa sensasional di media sosial dikenal sebagai doomscrolling. Walaupun konten yang dikonsumsi menimbulkan reaksi emosional intens seperti rasa cemas, takut, atau sedih, pengguna tetap terdorong untuk terus menggulir layar demi memperoleh pembaruan informasi selanjutnya.
Fenomena doomscrolling diperkuat oleh adanya sistem platform media sosial yang sengaja dirancang untuk mempertahankan atensi penggunanya agar terus bertahan dalam ekosistem platform tersebut. Platform-platform yang dimaksud contohnya seperti TikTok, Reels Instagram, dan YouTube Shorts. Aplikasi-aplikasi tersebut didesain untuk menampilkan sistem video pendek dengan aliran tanpa akhir atau infinite loop. Desain ini menjadikan pengguna mudah kehilangan kendali atas waktunya.
Baca Juga: Bahaya Institusionalisasi Perbudakan Modern: Kerja Sama UPI dengan KP2MI
Contoh praktek nyata dari Fenomena doomscrolling dapat terlihat pada kutipan postingan pengguna X berikut ini.

Kutipan tersebut menunjukkan fenomena doomscrolling yang terjadi ketika scrolling dijadikan sebagai aktivitas untuk beristirahat atau pengalihan dari aktivitas utama seperti belajar atau mengerjakan tugas. Namun tanpa disadari, scrolling malah membuat penggunanya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menelusuri video yang terus bermunculan. Secara tidak disadari, fenomena ini memang sengaja diciptakan untuk keuntungan ekonomi dengan memanfaatkan mekanisme psikologis manusia untuk menahan perhatian selama mungkin.
Sistem Algoritma dan Dopamin Instan
Kenyamanan media sosial yang dialami oleh individu yang terkena fenomena doomscrolling, didukung oleh adanya sistem algoritma. Cara kerja algoritma adalah dengan menyajikan konten-konten yang relevan dan sesuai minat penggunanya. Hal ini didapati dari hasil mempelajari pola perilaku pengguna seperti riwayat pencarian, like, komentar, share, dan durasi tontonan. Selain itu, sistem gamifikasi melalui fitur likes, notifikasi, dan kolom komentar menimbulkan rasa keterikatan emosional yang kuat, sehingga pengguna terdorong untuk selalu menggulir media sosial.
Aktivitas menggulir media sosial tanpa henti menciptakan efek dopamine instan. Dopamine instan menurut Abyan, M. (2025) dalam artikelnya berjudul “Dopamin Instan Menurut Habit Loop Theory: Antara Self-Reward dan Kecanduan” adalah perasaan senang sesaat yang muncul begitu cepat dari aktivitas sederhana seperti notifikasi media sosial, makanan manis, atau bahkan dari aktivitas scrolling video pendek. Dalam Habit Loop Theory (Charles Duhigg, The Power of Habit) terdapat penjelasan menarik tentang terbentuknya kebiasaan ini melalui 3 aspek utama yaitu Cue (Isyarat), Routine (Rutinitas), dan Reward (Hadiah). Adapun Cue (Isyarat) sebagai tahap pertama atau pemicu awal misalnya lelah atau bosan. Kemudian Routine (Rutinitas) merupakan tindakan yang dilakukan individu misalnya membuka instagram yang dapat memicu munculnya Rerward (Hadiah) yakni rasa senang/dopamin instan yang membuat individu ingin terus mengulanginya.
Dalam konteks ini, aktivitas menggulir media sosial memberikan “hadiah” atau kepuasan/rasa senang instan. Antisipasi terhadap “hadiah” berikutnya membuat otak terus menginginkan lebih, sehingga pengguna sering kali sulit menghentikan aktivitas ini.
Baca Juga: Ketika Teman Mengalami Kekerasan Seksual: Panduan Sikap yang Aman dan Berpihak pada Korban
Dampak Psikologis yang ditimbulkan
Nur Islamiah, M.Psi., PhD seorang Psikolog IPB University mengungkapkan dalam wawancaranya yang terdapat pada artikel berjudul “Psikolog IPB University: Kebiasaan Doomscrolling dan Zombiescrolling Sebabkan Brain Rot dan Kelelahan Mental”, ada beberapa dampak yang dihasilkan dari fenomena doomscrolling, di antaranya meliputi:
- Rasa Cemas, Stres, dan Depresi.
Aktivitas menggulir layar tanpa henti memaksa otak untuk terus terjaga. Hal ini memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Semakin lama durasi yang dihabiskan pengguna untuk menggulir layar dan terjebak dalam arus informasi negatif, semakin tinggi kadar hormon tersebut. Hal ini dapat mengganggu keseimbangan emosi serta menurunkan kualitas kesehatan mental seseorang.
- Penurunan Rentang Perhatian (Attention Span)
Individu yang sering mengakses konten instan, seperti video pendek di TikTok, Reels Instagram, dan YouTube Shorts, biasanya sulit untuk menaruh fokus serta membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memahami suatu permasalahan yang kompleks. Selain itu, attention span juga menyebabkan penurunan daya ingat dan membuat individu mudah untuk terdistraksi. Sehingga hal ini berpengaruh pada penurunan kemampuan penyelesaian masalah terhadap suatu individu.
- Kelebihan Beban Kognitif (Cognitive Overload)
Informasi singkat yang dikonsumsi terlalu berlebihan tanpa adanya kesempatan untuk dianalisis atau dipahami secara mendalam. Hal ini mengakibatkan melemahnya kemampuan berpikir kritis terhadap suatu individu untuk mengevaluasi suatu informasi. Sehingga, informasi hoax lebih rentan dikonsumsi karena individu lebih mudah menerima informasi tanpa mempertanyakan kebenarannya.
- Dopamin/Hadiah Instan (Instant Gratification/Dopamine)
Sistem algoritma yang diterapkan dalam media sosial dirancang supaya penggunanya terus terpaku pada layar. Setiap kali pengguna menonton konten yang menarik, otak secara otomatis melepaskan dopamin (zat yang menghasilkan rasa senang). Hal ini membuat penggunanya ingin terus merasakan dopamin tersebut berulang kali, sehingga tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menggulir layar tanpa henti.
Saatnya menyadari dan Mengambil Kendali Lagi
Fenomena Doomscrolling menunjukkan bagaimana teknologi berhasil mengendalikan mekanisme psikologi manusia. Kebiasaan menggulir layar tanpa henti disebabkan oleh adanya rancangan sistem algoritma yang memunculkan konsep dopamin/kesenangan instan bagi penggunanya. Meskipun penggunanya mendapatkan kesenangan instan terus menerus, terdapat konsekuensi psikologis yang cukup perlu diwaspadai.
Kebiasaan doomscrolling terbukti dapat meningkatkan stres hingga depresi. Selain itu, hal ini dapat menurunkan fokus dan daya ingat seseorang. Banyaknya arus informasi yang diterima membuat otak kewalahan, sehingga menurunkan kemampuan berpikir kritis seseorang dalam mengelola informasi.
Meski demikian, akar permasalahan tidak sepenuhnya terletak pada sistem teknologi. Namun, kendali utama tetap terletak pada setiap individu untuk mampu memilih, mengatur, dan membatasi aktivitas digitalnya. Dengan mengetahui mekanisme serta dampaknya, kita dapat menyadari sekaligus melakukan cara untuk memutus siklus doomscrolling yang merugikan.
Baca Juga: Setelah Hima Satrasia Bubar, Lalu Apa?
Penulis: Helma Mardiana
Editor: Ghaliah Syahiratunnisa




