Di tengah angka deforestasi yang terus naik, sungai yang semakin tercemar, serta lapisan ozon yang semakin menipis, kesadaran akan kelestarian lingkungan menjadi urgensi yang tidak boleh padam. Meski perayaan Hari Bumi pada 22 April lalu telah terlewati, semangat untuk menjaga rumah kita satu-satunya harus tetap menyala sepanjang tahun. Mengenal karya sastra ekokritik merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan.
Mari kita memperingati Hari Bumi dengan membaca karya sastra ekokritik. Karya sastra ekokritik merupakan karya sastra yang menggambarkan hubungan antara manusia dengan alam. Perubahan iklim, budaya, masa kepunahan lingkungan, dan degradasi moral yang kompleks sering melekat pada teks sastra.Seperti pada karya-karya sastra berikut:
“Bilangan Fu” karya Ayu Utami
Berlatar di kawasan Pegunungan Sewu, Gunungkidul, Yogyakarta. Novel ini memadukan isu spiritualitas, agama, dan eksploitasi alam. Konflik utamanya melibatkan rencana penambangan batu gamping yang mengancam kelestarian gua-gua alami dan sumber air di kawasan tersebut. Ayu Utami dengan sangat cerdas mengkritik bagaimana keserakahan manusia sering kali disembunyikan dengan topeng “pembangunan” atau bahkan “agama”. Ayu Utami mengajak kita melihat bahwa merusak alam bukan hanya menghancurkan ekosistem fisik, tetapi juga menghancurkan sejarah bumi dan memori kebudayaan yang tersimpan di dalamnya.
“Puya ke Puya” karya Faisal Oddang
Berlatar di Tana Toraja, novel ini menyoroti konflik antara masyarakat adat yang ingin mempertahankan tanah leluhur dan tradisi mereka, dengan masuknya perusahaan tambang kapitalis yang menjanjikan “kemajuan” namun merusak alam. Novel ini memberikan gambaran yang sangat nyata tentang relasi yang tak terpisahkan antara lingkungan fisik dan spiritualitas budaya lokal. Anda akan memahami bahwa ketika sebuah gunung atau tanah dieksploitasi oleh korporasi, yang hancur bukan hanya ekosistem fisiknya saja, tetapi juga identitas, ruang ritual, dan nyawa sebuah kebudayaan.
“Api Awan Asap” karya Korrie Layun Rampan
Karya sastra klasik Indonesia ini berlatar di pedalaman Kalimantan Timur. Novel ini secara puitis sekaligus tragis memotret kerusakan hutan akibat sistem Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan bencana kebakaran hutan besar yang mengubah lanskap kehidupan suku-suku pedalaman. Buku ini adalah arsip sejarah dan ekologi yang penting. Anda harus membacanya untuk merasakan langsung kepedihan masyarakat lokal yang kehilangan “rumah” dan sumber kehidupannya. Korrie Layun Rampan dengan tajam mengkritik kebijakan eksploitasi alam yang dilakukan oleh pemodal besar dari kota, yang sering kali abai terhadap kearifan lokal suku Dayak dalam menjaga hutan.
Sastra ekokritik hadir sebagai alarm peringatan akan krisis ekologi yang kian nyata di depan mata. Tanpa harus menunggu momen seremonial seperti Hari Bumi, mari kita jadikan karya-karya sastra tersebut sebagai cermin untuk mengevaluasi kembali relasi kita dengan alam semesta.Kesadaran yang tumbuh dalam diri kita setelah membuka lembaran-lembaran buku ini semoga mampu membawa kita melakukan aksi nyata, sekecil apa pun, sehingga bumi kita bisa tetap lestari sampai anak cucu kita nanti, sehingga mereka bisa merasakan bermain layang-layang dengan diteduhi awan dan dibelai angin sepoi-sepoi.




