Bandung – Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menggelar Musyawarah Mahasiswa Istimewa pada 17-19 April 2026. Musyawarah Mahasiswa Istimewa ini menghasilkan himpunan baru dengan nama Hima Dikbatrasia yang diharapkan mampu menaungi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Forum ini diselenggarakan sebagai respons atas perpisahan yang terjadi pada Hima Satrasia.
TERBENTUKNYA HIMA DIKBATRASIA
Perpisahan Hima Satrasia diputuskan melalui Musyawarah Mahasiswa yang digelar pada 22 Desember 2025 lalu. Dalam forum tersebut, Hima Satrasia yang selama ini menjadi induk bagi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) serta Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) secara resmi berpisah menjadi dua entitas mandiri.
Pembentukan himpunan baru bagi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) tidak berjalan mulus. Penentuan nama himpunan baru menjadi salah satu momen krusial dalam Musyawarah Mahasiswa Istimewa ini. Sejumlah usulan nama muncul dari berbagai fraksi, seperti Dikbatrasia, Pensasindo, Diksatranesia, Penbatrasia, Diksai, Dibatrasia, dan Distrasia.
Nama Dikbatrasia kemudian disepakati oleh forum setelah dilakukannya skorsing dan lobbying. Semula, nama Dikbatrasia diajukan oleh fraksi 25 dengan nama Dibatrasia yang merujuk pada diksi batra yang berarti pengobatan tradisional. Menurut mereka, himpunan baru diharapkan mampu menjadi obat bagi mahasiswa prodi PBSI. Usulan itu kemudian disempurnakan oleh fraksi 23 yang mengajukan penambahan huruf K menjadi Dikbatrasia untuk mengakomodir kata Pendidikan sehingga pada akhirnya disepakati bahwa Hima Dikbatrasia menjadi nama himpunan baru yang menaungi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dalam forum yang sama, selain menentukan nama himpunan baru juga menunjuk ketua umum baru untuk periode kepemimpinan 2026/2027. Jehan Al-Kautsar selaku calon ketua umum terpilih mengungguli calon lainnya, Kevin Muhammad Pramudya, dalam pemilihan Ketua Umum. Setelah terpilih, Jehan Al-Kautsar membeberkan visi-misinya untuk menumbuhkan identitas Hima Dikbatrasia sebagai himpunan baru dan merealisasikan kebutuhan bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
MENGENAL LEBIH DEKAT HIMA DIKBATRASIA
Jehan Al-Kautsar – Ketua Umum terpilih – ketika dihubungi via daring menegaskan bahwa Hima Dikbatrasia memiliki perbedaan dari pendahulunya, yaitu Hima Satrasia. Perbedaan mendasar terjadi dalam aspek inovasi proker, cara bekerja di himpunan, hingga input serta output yang dihasilkan dari proker yang disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa prodi.
“Banyak hal yang akan menjadi pembeda dari Hima Satrasia, mulai dari cara bekerja, inovasi proker, memperjelas input dan output dari setiap proker, dan masih banyak lagi. Namun, kami akan mengambil beberapa dasar pemikiran yang baik dari Hima Satrasia,” jelas Jehan Al-Kautsar (22/4).
Selain itu, setelah terpilih, dirinya langsung menghubungi tim formatur untuk menyusun struktur kepengurusan yang baru. Kemudian, menginisiasi pembentukan pimpinan organisasi dan divisi untuk segera menyempurnakan susunan organisasi Hima Dikbatrasia. Jehan menambahkan bahwa dirinya segera memulai penyusunan berbagai administrasi yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan Hima Dikbatrasia kedepannya. Kehadiran tim formatur juga membahas hal-hal krusial untuk berjalannya Hima Dikbatrasia.
Lebih jauh, Jehan menjelaskan bahwa terpilihnya dia sebagai ketua umum akan mengusahakan segala kebutuhan mahasiswa program studi dapat terpenuhi. Dirinya juga mengatakan bahwa akan memberikan buku pedoman berisi teknis kegiatan organisasi dan langgam kerja yang diharapkan mampu membantu kepengurusan berikutnya.
PERSIAPAN MENYAMBUT MAHASISWA BARU
Saat ini, fokus persiapan himpunan mahasiswa Dikbatrasia terbagi antara membangun himpunan yang baru terbentuk serta mempersiapkan sambutan kedatangan mahasiswa baru. Di kesempatan yang sama, Jehan menjelaskan bahwa Hima Dikbatrasia sudah siap membantu kehadiran mahasiswa baru program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
“Kami sudah memiliki grup WA yang berisi mahasiswa baru jalur SNBP, itu bisa menjadi tempat komunikasi kami dengan mahasiswa baru. Kami juga memiliki bidang yang memiliki tugas untuk advokasi mahasiswa baru. Dengan hal tersebut kami sudah siap untuk membantu mahasiswa baru,” jelas Jehan (22/4).
Meskipun menyatakan sudah siap dengan kehadiran mahasiswa baru, Jehan mengatakan bahwa Hima Dikbatrasia memerlukan waktu untuk mempersiapkan landasan bagi kaderisasi mahasiswa baru sehingga hasil yang diberikan bisa maksimal. Dengan waktu yang cukup singkat, Jehan belum bisa membeberkan pola kaderisasi yang akan diberikan bagi mahasiswa baru. Namun, dirinya menyatakan bahwa kaderisasi ini nantinya akan memiliki esensi yang baik serta jelas baik dari segi input maupun output yang diberikan.
Penulis: Dicky Satria Pratama
Penyunting: Nabilla Putri Nurafifah




