Kabar Literat

Kebersamaan Dalam Keberagaman: Pertunjukan Longser Ririwa

Desember 28, 2019

Jumat (27/12), Komunitas CCL (Celah Celah Langit) mempersembahkan penampilan longser, puisi, dan musikalisasi puisi di daerah Terminal Ledeng, Setiabudi, Bandung. Tema yang diambil oleh CCL adalah “Kebersamaan dalam Keberagaman dalam Melawan Radikalisme”.

Hujan yang menikam Bandung terbukti tidak menghalangi acara ini, justru menambah suasana syahdu. Acara dimulai pukul 19.50 dengan sambutan MC. Ternyata acara ini bekerja sama dengan Kemendikbud. Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi oleh grup band Kapak Ibrahim.

Selanjutnya ada penampilan dari Kapak Ibrahim. “Tak ada yang kekal di bumi, semua kembali padamu.” —Kapak Ibrahim. Penampilan tersebut bisa dibilang sempurna untuk membuka acara. Diselang penampilannya, mereka sempat membawa sedikit humor lalu dilanjutkan membawakan musikalisasi puisi karya Wiji Thukul yang berjudul “Gentong Kosong”, dilanjut dengan lagu “Berani”, dan lagu terakhir yang berjudul “Bumi Pancasila”. Beberapa pemuda tampak berjoget saat lagu dimulai.

Selanjutnya, ada pembacaan puisi, tetapi sebelumnya ada sambutan dari Presiden Celah-Celah Langit (CCL). Puisi dibacakan oleh Zulfa Nasrullah. Ia membacakan dua puisi (Ingatan Seorang Lelaki dan Mari Nulis Puisi). Zulfa berhasil membius para penonton dalam keheningan yang dingin dan terhanyut pada puisinya, menikmati setiap kosakata yang keluar dari mulutnya.

Selanjutnya longser berjudul Ririwa yang berarti “hantu”. Diawali dengan musik dan seorang penyanyi berjoget selaras dengan nada, semua penata terlihat serius sekarang memainkan alat musiknya masing-masing, selesai memainkan lagunya, 3 penari berbaju merah, 1 tuyul, 1 vampir Cina, 1 drakula, 1 pocong, 1 kuntilanak masuk ke panggung berjoget bersama penyanyi tersebut. Setelah itu seseorang (dalang) mengambil mic dan memberi sambutan serta menyalakan obor pada satu simbolisasi lalu melaksanakan doa bersama. Acara dilanjutkan dengan tarian oleh penari.

Cerita dimulai dengan bahasa Sunda. Diceritakan para makhluk gaib sedang resah karena para setan tak mau lagi menggoda manusia karena manusia sudah termakan hoaks, rasis, dan radikalisme. Tiba-tiba datang seseorang bernama Raja naik kuda ditemani 3 anak kembarnya dan seseorang bernama Patih. Mereka berkeluh kesah dengan penuh humor hingga penonton tak sanggup untuk berhenti tertawa. Para makhluk gaib ingin kembali menggoda manusia.

Menjelang akhir bagian cerita, dalang mempersembahkan musik dan tarian untuk memeriahkan acara, di bagian ini penonton dipersilakan untuk ikut menari dan berjoget bersama penyanyi dan penari. Delapan menit kemudian, cerita untuk bagian akhir di mulai. Akhir cerita, terdapat sekumpulan anak muda yang berkunjung ke tempat angker untuk membuat konten video mereka. Saat hantu-hantu datang, mereka sangat antusias untuk memvideokan hantu-hantu tersebut.

Hantu yang biasanya menggoda dan menakuti manusia malah sebaliknya, mereka lari dan tidak ingin bertemu dengan manusia. Raja dan Patih datang ke tempat tersebut. Mereka berdua memerintahkan para hantu (yang aslinya manusia) untuk kembali ke “fitrah”-nya, melakukan kebiasaan hantu seperti biasanya: menggoda dan menakuti manusia. Manusia yang kebingungan, kenapa mereka harus diperintah oleh hantu, akhirnya memberitahu mereka berdua bahwa mereka manusia bukan hantu. Raja dan Patih merasa terkejut. Para manusia yang menyadari bahwa mereka berdualah yang selama ini memerintahkan para hantu untuk menggoda dan menakuti manusia, langsung menangkap mereka berdua, dan cerita pun tamat.

Acara berakhir pada pukul 23.06 dengan musik, nyanyian, dan tarian.

Only registered users can comment.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *