Setiap tanggal 21 April, ingatan kolektif bangsa Indonesia selalu pulang pada sosok Raden Ajeng Kartini. Kita mengingatnya melalui kebaya, sanggul, atau kutipan ikonik “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Namun, esensi sejati dari perjuangan Kartini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan semata. Esensinya adalah keberanian perempuan untuk merebut ruang suara, mendefinisikan diri sendiri, dan melawan batas-batas patriarki melalui goresan pena. Kini, estafet perjuangan itu mewujud pada kemampuan perempuan dalam menguliti realitas sosial yang kompleks melalui karya sastra yang menggugah.
Literasi Indonesia mendapat kado istimewa pada tahun 2025. Nama Cicilia Oday, penulis asal Kotamobagu, Sulawesi Utara, mendadak menjadi sorotan setelah meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 kategori novel. Karyanya yang berjudul Duri dan Kutuk bukan sekadar prestasi individu, melainkan bukti sahih evolusi perempuan Indonesia menjadi pilar kebanggaan bangsa. Melalui karyanya, Cicilia membuktikan ketajaman intelektual dan kedalaman intuisi perempuan mampu melahirkan mahakarya yang membanggakan.
Dalam Duri dan Kutuk, Cicilia tidak hanya bercerita, ia membedah isu-isu dianggap tabu seperti seksualitas, trauma mendalam, hingga ekofeminisme. Melalui gaya realisme magis, ia mampu mengubah kepedihan menjadi metafora yang indah sekaligus mencekam. Dedikasinya dalam mengeksplorasi isu-isu kompleks menjadikannya salah satu penulis kontemporer yang patut diperhitungkan. Ia membuktikan bahwa perempuan memiliki otoritas penuh untuk membicarakan tubuhnya, luka-lukanya, dan hubungannya dengan alam tanpa rasa takut.
Baca juga: Puisi “Mei: Jakarta, 1998” sebagai Ingatan dan Perlawanan
Menyelami “Duri dan Kutuk” sebagai Simbolisme Luka Perempuan
Duri dan Kutuk menyuguhkan sebuah narasi yang emosional. Fokusnya terdapat pada sebuah rumah tua di samping rumah Adam, yang kemudian ditinggali oleh seorang perempuan bernama Eva. Eva digambarkan sebagai perempuan “bertangan dingin”, yang mampu mengubah keangkeran dan kesunyian menjadi kehidupan di “Toko Firdauz” dengan pekarangan rimbun.
Namun, di balik keindahan taman itu, ada rahasia yang hanya diketahui oleh Adam. Sebagai remaja 13 tahun yang sedang mengalami masa pubertas, Adam terobsesi untuk mengintip Eva dari jendela kamarnya. Lewat mata Adam, terungkap sisi realisme magis dalam novel ini, yaitu tubuh Eva ternyata ditumbuhi oleh sulur mawar, duri, dan akar.
Duri-duri yang tumbuh di tubuh Eva adalah simbol dari trauma. Cicilia Oday ingin menunjukkan bahwa luka batin yang dialami perempuan sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Luka itu tumbuh secara alami di dalam diri hingga akhirnya merambat. Luka itu, terkadang bisa melukai siapa saja yang mencoba mendekat tanpa rasa peduli atau empati.
Kompleksitas cerita ini meningkat dengan hadirnya Sara, ibu Adam yang sangat protektif. Sara merefleksikan masyarakat yang sering menganggap anak laki-laki selalu polos, meski kenyataannya mereka menyimpan rahasia tidak terduga. Melalui ketiga tokoh ini, dapat terlihat betapa kuatnya perempuan dalam memikul beban mental. Mulai dari Eva yang berjuang sembuh dari lukanya, hingga Sara yang berusaha menjaga moralitas keluarganya.
Perempuan sebagai Kebanggaan dan Kekuatan Bangsa
Kehadiran Cicilia Oday di panggung sastra nasional adalah bukti nyata bahwa kehebatan perempuan Indonesia terus tumbuh melampaui zaman. Semangat yang ia bawa adalah nafas yang sama dengan yang ditiupkan Kartini lebih dari seabad lalu. Jika Kartini menggunakan tulisan untuk membuka akses pendidikan bagi kaumnya, Cicilia menggunakan novelnya untuk menyuarakan realitas perempuan yang kerap tersembunyi. Ini adalah bentuk perjuangan baru bagi bangsa Indonesia. Perjuangan untuk menegakkan martabat perempuan melalui kekuatan ide serta karya kreatif.
Kemenangan di Kusala Sastra Khatulistiwa adalah kemenangan bagi seluruh perempuan Indonesia. Cicilia memberikan pesan kuat bahwa perempuan bisa menjadi wajah intelektualitas bangsa. Kehebatan perempuan terletak pada kemampuannya dalam menjalankan peran sebagai perawat kehidupan, sekaligus menjadi kritikus sosial yang tajam melalui karya seni.
Layaknya Eva dalam novelnya, perempuan Indonesia memiliki ketangguhan untuk mengubah “kutukan” sejarah dan marginalisasi menjadi “mawar” prestasi yang harum. Perjuangan Cicilia dalam dunia literasi adalah bentuk nyata dari emansipasi modern. Kualitas karyanya menjadi tolok ukur utama yang mampu melampaui stigma gender.
Meneruskan Estafet Kartini
Kita harus menyadari bahwa Hari Kartini bukan sekadar tentang masa lalu, melainkan tentang masa kini dan masa depan. Kehadiran penulis seperti Cicilia Oday memastikan bahwa api Kartini tidak akan pernah padam. Ia mengingatkan kita bahwa dibalik setiap “duri” kehidupan perempuan, terdapat kekuatan untuk tetap bertumbuh dan berakar kuat di tanah air.
Mari kita rayakan Hari Kartini tahun ini dengan membaca karya-karya perempuan dan mendukung prestasi yang mereka raih. Sebab, setiap perempuan memiliki “pekarangan rimbun” dalam pikirannya yang siap mengubah dunia menjadi lebih baik. Cicilia Oday telah memulai langkah besarnya. Kini, giliran kita untuk terus menyuarakan kebenaran melalui bidang yang kita tekuni masing-masing. Sebab pada akhirnya, perempuan yang berdaya adalah jantung dari sebuah bangsa yang jaya.
Penulis: Sabila Nurul Fadlillah
Editor: Valda Febrianti
Jejak Tiga Luka: Dilema Seorang Sarjana Perempuan




