
Dalam kebiasaan menggulir layar yang tanpa jeda, membaca buku perlahan menjadi kegiatan yang semakin jarang dipilih. Halaman-halaman yang dulu terasa dekat, kini sering kali tergantikan oleh notifikasi yang datang terus-menerus. Namun, dalam momen seperti World Book Day atau Hari Buku Sedunia, kegiatan membaca buku tersebut seolah dipanggil kembali. Dengan cara mengingat dan masih merayakannya dengan cara-cara yang sederhana.

Kegiatan tersebut salah satunya bisa ditemukan di Howl Library and Creative Space. Di tempat ini, orang-orang datang bukan sekadar untuk singgah, tetapi untuk duduk lebih lama, membuka buku, dan benar-benar membaca. Suasananya cenderung tenang, sebab orang-orang yang berkunjung sudah tenggelam dengan bacaannya masing-masing.
Dalam suasana yang tenang dan fokus seperti itu, muncul sebuah pertanyaan: apakah aktivitas membaca memang benar-benar masih bertahan di tengah masyarakat yang semakin akrab dengan layar dan kegiatan menggulirnya?
Minat Baca di Tengah Arus Digital
Mengenai minat baca di Indonesia, topik tersebut masih menjadi perhatian hingga saat ini. Data dari UNESCO menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat tergolong rendah, bahkan kerap disebut hanya sekitar 0,001% atau satu dari seribu orang yang memiliki kebiasaan membaca (2012). Sejalan dengan itu, riset World’s Most Literate Nations yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016 menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal literasi.
Di sisi lain, penggunaan teknologi digital justru terus meningkat. Laporan dari eMarketer memperkirakan jumlah pengguna smartphone di Indonesia telah melampaui 100 juta orang, menjadikannya salah satu yang terbesar di dunia. Hal ini sejalan dengan temuan We Are Social yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia dapat menghabiskan waktu hingga berjam-jam setiap hari di depan layar.
Kondisi tersebut memperlihatkan adanya pergeseran dalam cara masyarakat mengakses informasi, dari membaca buku sampai ke konsumsi digital yang serba lebih cepat dan praktis. Membaca tidak lagi selalu identik dengan buku fisik, tetapi juga melalui layar yang menawarkan kecepatan dan kemudahan. Namun, kebiasaan tersebut sering kali membuat aktivitas membaca menjadi tidak utuh, karena mudah terpotong oleh notifikasi dan distraksi lainnya.
Di Ruang Kecil, Kebiasaan Itu Bertahan

Dalam titik inilah ruang seperti Howl Library and Creative Space menjadi menarik untuk dilihat. Saat berada di tengah anggapan bahwa minat baca menurun, ternyata masih ada orang-orang yang memilih datang, duduk, dan meluangkan waktu khusus untuk membaca buku secara langsung.
Mungkin, perayaan membaca tidak selalu hadir dalam bentuk acara besar. Terkadang, ia justru hadir dan terlihat dari hal-hal kecil, seperti orang-orang yang memilih untuk membaca di salah satu sudut tempat dalam perpustakaan tersebut.
Hari Buku sebagai Pengingat dan Perayaan
Perubahan tersebut juga menjadi salah satu alasan mengapa World Book Day atau Hari Buku Sedunia masih relevan untuk diperingati. Setiap 23 April, perayaan ini bukan hanya tentang buku sebagai objek, tetapi tentang menjaga hubungan manusia dengan membaca—yang perlahan berubah, tapi tidak benar-benar hilang.
Pada kebiasaan yang semakin bergeser ke arah digital, Hari Buku Sedunia menjadi semacam jeda. Sebuah momen kecil untuk kembali bertanya: kapan terakhir kali kita benar-benar duduk dan membaca buku tanpa tergesa-gesa? Sampai di titik ini, membaca tidak lagi sekadar aktivitas, tetapi pengalaman yang patut dirayakan, meski dalam bentuk yang sederhana.
Pengalaman Membaca yang Lebih Dekat
Ketika arus informasi sudah bergerak terlalu cepat, membaca sering kali menjadi aktivitas yang tersisih. Namun, ruang-ruang seperti Howl Library and Creative Space mampu memperlihatkan bahwa masih ada kebutuhan untuk kembali pada pengalaman membaca yang lebih tenang dan fokus. Tidak harus selalu lama atau rutin, tetapi cukup dengan memberi waktu untuk berhenti sejenak dan benar-benar membaca.
Dari beberapa sudut, ada yang duduk sendiri dengan buku terbuka di pangkuannya, sesekali berhenti untuk mencatat sesuatu. Ada juga yang membaca sambil mendengarkan musik sembari ditemani secangkir teh. Tidak ada yang benar-benar terburu-buru, seolah waktu berjalan sedikit lebih lambat di dalam ruangan itu.

Sesekali, suasana itu diselingi oleh kehadiran kucing yang berjalan pelan di antara pengunjung. Beberapa orang tetap membaca sambil sesekali mengelus kucing yang mendekat, tanpa merasa terganggu. Hal-hal kecil seperti itu justru menambah rasa nyaman, membuat aktivitas membaca terasa lebih hidup dan tidak kaku.
Tempat seperti ini memperlihatkan bahwa buku fisik tidak benar-benar ditinggalkan. Ia hanya menemukan caranya sendiri untuk tetap bertahan—melalui suasana, pengalaman, dan pertemuan kecil antara pembaca dengan halaman yang dibuka.
Buku yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Pada akhirnya, membaca mungkin tidak lagi menjadi kebiasaan semua orang seperti dulu. Layar menawarkan cara yang lebih cepat dan praktis untuk mengakses informasi, sementara buku membutuhkan waktu yang lebih lama dan perhatian yang utuh. Namun, selama masih ada ruang dan keinginan untuk meluangkan waktu, kebiasaan itu tidak akan benar-benar hilang.
Dari tempat-tempat seperti Howl Library and Creative Space, Hari Buku Sedunia tidak dirayakan dengan keramaian atau seremoni besar. Ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: halaman yang dibuka, waktu yang diluangkan, dan pilihan untuk tetap membaca.
Mungkin, perayaan itu memang tidak selalu terlihat. Tetapi, selama masih ada manusia yang memilih untuk duduk, membuka buku, dan bertahan lebih lama di satu halaman, maka membaca akan selalu menemukan caranya untuk tetap hidup.
Penulis: Kheizha Aulia & Nasywa Fauziah
Editor: Aliyah Iffa
Baca juga: Eksistensi Figur Negara dalam Stiker “Bantuan Presiden”: Makna Lain dalam Kacamata Barthes




