
Seorang penyair, penulis esai, penerjemah, dan ahli klasik bernama Anne Carson lahir di Toronto, Ontario, Kanada, pada tanggal 21 Juni 1950. Carson, yang kini berusia 76 tahun, pernah terinspirasi oleh seorang pengajar bahasa Latin di sekolah menengah saat ia mempelajari bahasa Yunani. Bahasa Yunani inilah yang menghantarkan banyak karyanya sekarang dengan mengangkat tema-tema klasik dan menggabungkannya dengan gaya modern.
Memang, tulisannya banyak memadukan berbagai genre, seperti puisi dengan esai, kritik sastra, dan bentuk-bentuk prosa lainnya. Carson selalu menyandingkan tema-tema kuno dengan topik kontemporer, seperti yang terlihat dalam Economy of the Unlost (1999). Buku esai kritik sastra ini berisi perbandingan antara karya-karya Simonides dari Keos (seorang penyair kuno) dengan Paul Celan (penyair modern). Pengaruh klasik yang kuat ini juga Carson bawa ke dalam Wrong Norma (2024), sebuah kumpulan puisi prosa dari beragam tema. Ditambah lagi, penyandingan tema kuno dengan topik kontemporer juga Carson buat dalam menerjemahkan puisi-puisi Yunani Kuno ke panggung pertunjukan. Dalam proyek-proyek ini, ia sering berkolaborasi dengan para penari dan musisi ternama, seperti Laurie Anderson dan Lou Reed.
Meraih Nobel Sastra Tahun 2026
Atas karya-karyanya yang berani dan inovatif, The Swedish Academy menganugerahkan Hadiah Nobel Sastra 2026 kepada Anne Carson pada 8 Oktober 2026. Mereka menyatakan bahwa tulisan-tulisan Carson terdapat berbagai macam dialog jenaka yang disandingkan dengan model tradisi klasik sehingga terciptalah bentuk baru bagi sastra kontemporer.

Writers who enlarge our understanding of what literature can be.
“(Carson adalah) Penulis yang memperluas pemahaman kita tentang apa yang bisa menjadi sastra.”
Begitulah menurut Laura Jansen, seorang profesor bidang klasik dan sastra bandingan di Universitas Bristol Inggris. Dilansir dari The Associated Press, Jansen memberikan penilaian bahwa penghargaan yang diraih Carson merupakan contoh terbaru dari pengakuan Hadiah Nobel Sastra.
She wrote prose as poetry and poetry as prose, so she’s in many ways so innovative in her forms.
“Dia (Carson) menulis prosa layaknya puisi dan puisi layaknya prosa sehingga dalam banyak hal dia sangat inovatif dalam bentuk-bentuk karyanya.”
Sebagai pemenang ketiga dari Kanada setelah Alice Munro dan Saul Bellow, Carson meraih pengakuan internasional tanpa banyak muncul di hadapan publik. Ia bahkan memilih untuk tidak mengadakan konferensi pers setelah pengumuman penghargaan. Namun, lagi-lagi prestasinya mendapat sambutan hangat dari komunitas akademik dan universitas tempat ia pernah mengajar, seperti University of Toronto, Princeton, dan McGill.
Proses Kreatif
Dalam sebuah tayangan gelar wicara, Anne Carson kerap berbicara tentang tantangannya yang mengharuskan ia menulis sambil menghadapi gangguan kesehatan. Ia sempat mengalami frustrasi karena kesulitan menulis dengan tangannya akibat penyakit Parkinson. Penyakit tersebut menyebabkan bentuk grafem tulisan tangannya menjadi tidak rapi dan sulit dibaca. Menulis dengan ketikan pun bukanlah pilihan. Baginya, meski kini banyak orang beralih menggunakan ketikan, ia tetap merasa hal tersebut tidak seasyik menulis dengan tangan. Pengalaman menulis yang asyik itu kini terhambat oleh ketidakmampuannya dalam mengontrol gerakan tangan.
Tantangan lain yang ia soroti muncul saat menerjemahkan puisi. Ini tentang bagaimana ia membiarkan kekosongan dalam bahasa supaya dapat memberikan ruang berpikir untuk pembaca. Menurutnya, celah kosong tersebut berkaitan dengan pandangan Platonis bahwa puisi dan “kegilaan” berdampingan erat di dalam pikiran manusia. Ini merupakan sebuah kondisi psikologis yang mempertemukan penyair, orang gila, dan orang yang sedang jatuh cinta. Kedalaman emosional dan sisi rapuh manusia inilah yang kemudian ia tuangkan dalam novel puitis Autobiography of Red (1998) serta sekuelnya, Red Doc> (2013). Lewat karya tersebut, Carson mengeksplorasi hubungan mendalam antara tokoh utama dan sang ibu. Melalui momen saat sang tokoh utama menemani ibunya yang sedang sekarat, karya Carson berhasil menyentuh hati banyak pembaca. Bagi Carson, menjembatani kedalaman emosi manusia yang begitu kompleks ke dalam kata-kata yang terbatas itulah yang menjadi tantangan terbesar bagi seorang penerjemah.
Karya terkenal Anne Carson
Sebagai seorang penulis yang menolak batasan genre, Carson telah melahirkan berbagai karya eksperimental yang diakui secara internasional. Melalui pendekatan uniknya, ia berhasil menjembatani teks-teks klasik dengan kepekaan dunia modern. Berikut adalah beberapa karya miliknya.
- Eros the Bittersweet (1986): Sebuah esai filosofis mendalam yang membedah hakikat hasrat dan cinta romantis lewat kacamata sastra Yunani kuno.
- Plainwater (1995): Kumpulan esai puitis dan catatan perjalanan eksperimental yang menggunakan elemen air sebagai metafora utama untuk menggali ingatan serta kedukaan.
- Autobiography of Red (1998): Novel berbentuk puisi yang terinspirasi dari fragmen mitos klasik Herakles dan Geryon. Kemudian, diubah menjadi kisah pertumbuhan modern yang emosional.
- The Beauty of the Husband: A Fictional Essay in 29 Tangos (2001): Sebuah puisi naratif peraih T.S. Eliot Prize. Mengeksplorasi secara intim dan getir tentang runtuhnya sebuah pernikahan, terinspirasi dari pemikiran John Keats.
- If Not, Winter: Fragments of Sappho (2002): Proyek terjemahan legendaris yang mengumpulkan sisa-sisa fragmen puisi kuno milik penyair perempuan Yunani, Sappho. Dilengkapi dengan celah-celah kosong teks yang hilang.
- Nox (2010): Sebuah buku elegi unik berbentuk lipatan akordeon yang merangkum proses emosional Carson dalam merenungkan kematian mendadak saudara laki-lakinya.
- Antigonick (2012): Bentuk penyajian ulang yang radikal atas naskah tragedi klasik Antigone karya Sophocles. Memadukan puisi kontemporer dengan ilustrasi visual yang berani.
Penulis: Risma Yuniar
Editor: Muhammad Hilmy Harizaputra




