Kusala Sastra Khatulistiwa merupakan salah satu penghargaan bergengsi yang ada di Indonesia. Sebelum berganti nama pada tahun 2014 menjadi nama yang sekarang, Kusala Sastra Khatulistiwa, penghargaan ini dulunya bernama Khatulistiwa Literary Award. Kusala Sastra Khatulistiwa hadir semenjak tahun 2001 sebagai bentuk menjaga karya-karya sastra Indonesia agar tetap hidup dan tumbuh di lingkungan masyarakat luas. Kegiatan ini juga memiliki tujuan mengapresiasi karya-karya sastra Indonesia yang lahir di setiap tahunnya. Penghargaan ini tidak hanya diperuntukkan untuk sastrawan ternama, tetapi juga membuka ruang bagi karya-karya muda yang memiliki potensi untuk berkembang dan berdampak di masyarakat.
Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) memiliki tiga kurator yang berperan besar dalam proses berjalannya kegiatan. Ketiga orang tersebut adalah Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria. Kehadiran nama-nama besar ini memperlihatkan keseriusan KSK dalam menjaga standar mutu karya yang masuk. Masing-masing kurator membawa sudut pandang kritis yang saling melengkap. Mereka lah yang akan memastikan bahwa setiap karya yang masuk dan akan diseleksi benar-benar mampu mewakili pencapaian terbaik sastra Indonesia.
Kilas Balik Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2025
Pada tahun 2025, Kusala Sastra Khatulistiwa membuka pendaftaran untuk tiga kategori karya sastra, yaitu kumpulan cerpen, novel, dan kumpulan puisi. Penghargaan kategori kumpulan cerpen diberikan kepada karya yang berjudul Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu karya Sasti Gotama. Selanjutnya penghargaan untuk karya novel dianugerahi kepada Cicilia Oday dengan karyanya yang berjudul Duri dan Kutuk. Terakhir, kategori kumpulan puisi dimenangkan oleh Esha Tegar Putra dengan judul Hantu Padang.
Karya Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2026
Setelah sukses menyelenggarakan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2025, Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia akhirnya kembali membuka pendaftaran karya secara umum dengan ketentuan-ketentuan yang telah mereka rincikan. Mereka telah melakukan penjaringan karya hingga tanggal 28 Februari 2026 lalu. Kategori karya yang dibuka masih sama dengan tahun sebelumnya, yaitu kumpulan cerpen, novel, dan kumpulan puisi.
Setelah melalui proses kurasi oleh kurator dan dewan juri, penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa telah menemukan karya-karya terpilihnya yang diumumkan pada tanggal 23 Agustus 2026 lewat Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa. Pada kategori kumpulan cerpen, penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 diraih oleh Hantu Ulang-alik karya Ratri Ninditya, kategori novel diraih oleh Nukila Amal yang berjudul Ikhtiar yang Tak Benar-Benar, dan Nusantara, Amnesia karya Ari Pahala Hutabarat memenangkan kategori kumpulan puisi.
Acara Kusala Sastra Khatulistiwa 2026 berbeda dengan tahun sebelumnya. Gema Mawardi, Direktur Program dari Yayasan Richard Oh Kusala mengungkapkan bahwa tahun ini, penganugerahan penghargaan memiliki konsep yang berbeda dari tahun sebelumnya. Tahun ini pemberian Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa diberikan setelah pemenang diumumkan kepada masyarakat luas. Sementara pada tahun-tahun sebelumnya, pengumuman pemenang dan pemberian penghargaan dilakukan pada hari yang sama.
Kusala Sastra Khatulistiwa bukan hanya sekadar penghargaan yang diberikan kepada para penulis. Melalui karya-karya pemenang, ajang penghargaan ini turut memegang peran dalam merawat kekayaan sastra serta budaya bangsa.
Penulis: Neiysa Amalia Putri
Editor: Auliya Nur Affifah




