Ada buku yang baru saja selesai dibaca lalu terlupakan, ada juga buku yang meninggalkan jejak dalam ingatan. Buku ini termasuk ke tipe yang kedua. Kesan itulah yang tertinggal setelah membaca Playlist Sebelum Mati, sebuah antologi puisi karya Muhammad Rifan Prianto. Secara fisik, buku ini terbilang ringkas dengan ketebalan hanya 56 halaman dan memuat 26 judul puisi di dalamnya. Namun, membaca buku ini ternyata membutuhkan waktu yang lumayan lama. Bukan karena bahasanya yang berat atau menggunakan diksi yang sengaja dibuat susah, melainkan karena setiap baitnya padat dengan referensi seni universal. Membaca buku ini membuat saya harus berulang kali berhenti untuk merenung, membuka Google, dan mencerna kembali pertautan maknanya dengan karya-karya maestro dunia seperti Sandro Botticelli, Vincent van Gogh, band rock The Smiths, hingga penulis absurd Franz Kafka.
Ruang Tunggu Menuju Kesunyian
Secara garis besar, puisi di dalam antologi ini berkaitan pada satu tema utama yang sangat intim: kematian, kehilangan, dan cara manusia merelakan perpisahan. Uniknya, atmosfer sunyi tersebut sudah langsung dibangun oleh penulis bahkan sebelum kita menyentuh bait puisi pertamanya. Setelah melewati halaman identitas buku, pembaca tidak langsung diantarkan ke daftar isi. Kita dihadang oleh sekuens lembar kosong yang longgar, diselingi kalimat persembahan puitis yang berbunyi: “Untuk kesepianku.”
Di dalam studi kritik sastra, penataan tata letak (layout) fisik seperti ini erat kaitannya dengan teori Estetika Resepsi (Aesthetics of Reception) khususnya konsep tempat-tempat terbuka atau ruang kosong (blank) dari Wolfgang Iser. Iser menjelaskan bahwa teks sastra sengaja menyisakan kesenjangan agar pembaca aktif masuk dan menjembatani sendiri makna di balik kekosongan tersebut. Di buku ini, Muhammad Rifan secara kreatif mewujudkan konsep blank tersebut dalam bentuk fisik halaman. Jeda visual ini bertindak layaknya sebuah “ruang tunggu” seolah ingin mengajak kita mengambil napas sebentar, agar siap larut dalam frekuensi yang sama di halaman-halaman berikutnya.
Gumaman Lirih dan Alusi Tokoh Fiksi
Masuk ke bagian isi puisi, salah satu daya tarik utama dari gaya penulisan Muhammad Rifan adalah pilihan tipografinya yang sangat personal. Penulis menerapkan aturan yang unik: huruf kapital hanya digunakan sebagai penanda atau “jangkar” di awal setiap bait baru. Namun, begitu masuk ke dalam internal bait yang sama, penulis secara konsisten menggunakan huruf kecil (lowercase) di awal kalimat, bahkan setelah penggunaan tanda titik penutup.
Secara konvensional, tanda titik adalah sekat kaku penanda sebuah kalimat telah selesai. Namun, lewat prinsip kebebasan penyair atau Licentia Poetica, aturan baku tersebut sengaja dilanggar di dalam tubuh baitnya. Hasilnya, setiap bait terasa seperti bisikan lirih yang mengalir tanpa sekat formalitas tata bahasa. Jeda titik di dalam bait berubah fungsi menjadi sekadar helaan napas pendek, sebelum akhirnya dinamika rasa baru dikunci kembali oleh huruf kapital di bait berikutnya.
Selain tipografi, kekuatan diksi buku ini juga terletak pada penggunaan teknik alusi atau memunculkan karakter fiktif dari khazanah sastra dunia. Pembaca akan diajak mengenal tokoh Gregor Samsa (karakter utama yang terasingkan dalam novel Metamorphosis karya Franz Kafka) hingga kisah pengembaraan karakter Pangeran Kecil (The Little Prince) karya Antoine de Saint-Exupéry. Kehadiran para tokoh fiksi ini bukan sekadar tempelan nama, melainkan berfungsi sebagai penegas bahwa rasa sepi yang ditulis di dalam buku ini sifatnya universal dan bisa dialami oleh siapa saja.
Baca juga: Menelusuri Makna Kehidupan dalam lagu “Untuk Apa/Untuk Apa?” Melalui Lensa Postmodernisme
Daya Ajak Pembaca: Menyalurkan Sepi Menjadi Karya
Meskipun buku ini pekat dengan tema kesepian dan kehilangan, membaca Playlist Sebelum Mati sama sekali tidak membawa pembaca masuk ke dalam pusaran depresi yang gelap atau buntu. Alih-alih membuat terpuruk, buku ini memiliki daya ajak yang unik bagi pembacanya. Melalui konsep Teori Intertekstualitas, sebuah teks sastra menyerap dan mentransformasikan makna dari teks seni lainnya, buku ini justru memicu rasa penasaran pembaca untuk ikut bergerak secara kreatif.
Setelah membaca puisinya, kita akan terdorong untuk membuka aplikasi musik demi mendengarkan lagu band The Smiths (There Is a Light That Never Goes Out), menonton kembali film 500 Days of Summer dan Jojo Rabbit, atau menelusuri visual lukisan The Birth of Venus karya Sandro Botticelli di internet. Buku ini berhasil membuktikan bahwa kesedihan dan rasa sepi tidak harus diratapi secara pasif, melainkan bisa menjadi pemantik untuk mengapresiasi dan melahirkan karya seni yang baru.
Sorotan Karya
Dari 26 judul puisi yang disajikan, salah satu yang membekas bagi saya adalah puisi berjudul “Sepotong Telinga untuk Temanku, Paul Gaugine”. Puisi ini menggunakan metode ekfrasis (puisi yang merespons karya rupa) dengan memotret kisah kelam persahabatan antara Vincent van Gogh dan Paul Gauguin. Penulis secara jeli menggunakan teori Defamiliarisasi (Ostranenie) Viktor Shklovsky dengan memplesetkan ejaan sejarah (Paul Gaugine dan kota Auviers) untuk menciptakan kesan distorsi ingatan yang samar akibat kesepian ekstrem, namun tetap menyisakan letupan emosi yang menghentak di akhir bait. Secara keseluruhan, antologi ini adalah sebuah karya yang cerdas, padat, dan menantang kepekaan estetik pembacanya.
Wawancara Singkat Bersama Penulis
Untuk mengulik lebih dalam mengenai proses kreatif di balik layar buku ini, saya berkesempatan melakukan wawancara singkat bersama sang penulis, Muhammad Rifan Prianto, yang juga memiliki latar belakang akademik di bidang bahasa dan sastra. Berikut adalah petikan obrolan kami:
Pertanyaan pertama, “Puisi-puisi di buku ini bagi saya terasa dekat dan mendalam, apakah kisah-kisah kehilangan dan perpisahannya diambil dari pengalaman nyata?”
Penulis menjawab, “Di buku ini, aku mengambil bentuk intertekstualitas. Mudahnya, puisi-puisi yang ditulis merupakan hasil reaksiku terhadap berbagai bentuk teks, seperti lagu, film, karya sastra, hingga seni rupa. Aku mengelaborasikan perasaan personal dengan adegan yang ada di film, atau nuansa agung dan gelap musik kor Lacrimosa , misalnya, membayangkan jadi figur di dalam lukisan, atau cuma sebatas impresiku terhadap berbagai bentuk teks sebelumnya.”
Pertanyaan kedua, “Sebagai seseorang yang memiliki latar belakang akademik di bidang bahasa dan sastra, apakah hal tersebut memengaruhi Akang untuk menjadi lebih perfeksionis saat menulis, atau justru proses kreatifnya mengalir begitu saja?”
Penulis kemudian membalas, “Latar belakang sebagai akademisi itu pengaruh sekali, ya, dalam berkarya. Aku selalu memosisikan teks kreatif sejajar dengan teks ilmiah dalam proses kepenulisan. Ada upaya riset yang kulakukan selama menulis puisi, entah observasi secara pemahaman atau perasaan, bagaimana aku dapat menerjemahkan sesuatu yang abstrak di dalam kepala dan dada, menjadi hal yang utuh dan konkret. Proses ini adalah kesadaran aku sebagai seseorang yang hidup dan tumbuh di lingkup akademisi. Tentu, ingin memberikan sesuatu yang baik dan sempurna, tapi biar semuanya dikembalikan lagi ke para pembaca buku ini.”
Pertanyaan terakhir, “Apakah playlist sebelum mati ini merupakan buku pertama atau sebelumnya sudah ada buku lain, Kang? (Baik solo ataupun kolaboratif)”
Dengan sigap, penulis berkata, “Aku kira, Playlist Sebelum Mati ini jadi buku yang merangkum perasaanku waktu itu, meskipun aku meminjam banyak teks sebagai media untuk dijadikan puisi. Bagaimana aku menghadapi kekalutan dalam hubungan asmara, perasaan terasing, menghadapi kehidupan yang bingung kuartikan, dan lainnya, dan lainnya. Jadi, aku menganggap ini buku pertamaku, anak sulungku sebagai seorang penulis, terlepas dari sejumlah karyaku yang turut mengisi beberapa judul antologi bersama.”
Bagi teman-teman yang tertarik untuk membaca dan mengoleksi buku antologi puisi Playlist Sebelum Mati karya Muhammad Rifan Prianto ini, kalian dapat menyapa dan memesannya langsung dengan menghubungi penulis melalui akun Instagram @muh_rifaan atau lewat pihak penerbit di @sonarpustaka
Penulis: Alya Khairina Hartono
Editor: Aliyah Iffa
Baca juga: Menggugat Kekuasaan Melalui Pergelaran Teater Liang: Dekonstruksi Sejarah dan Luka Perempuan


