Tiga dimensi ruang: liang kubur, liang rahim, dan liang ingatan; melebur menjadi satu dalam pementasan teater “Liang”. Melalui pergelaran ini, sutradara mengangkat tema yang sarat akan trauma politik, politik ingatan, dan tubuh perempuan sebagai arsip luka sejarah. Oleh karena itu, pementasan tersebut hadir sebagai ruang aman sekaligus gerakan perlawanan terhadap amnesia sejarah.
“Liang” menjelma menjadi sebuah ‘rahim’ tempat tuntutan keadilan bagi perempuan-perempuan yang dipaksa bungkam disuarakan kembali.
Tiga Liang, Tiga Luka: Memaknai Judul Pementasan
“Liang” bukan sekadar nama, melainkan representasi dari tiga simbol utama yang menopang keseluruhan naskah. Simbol pertama adalah Liang Kubur yang merepresentasikan dimensi sejarah. Hal ini merujuk pada para korban tak bernama dalam peristiwa pembantaian tahun 1965. Selanjutnya, simbol kedua adalah Liang Rahim sebagai representasi trauma atas tubuh perempuan yang “dijajah”. Tubuh tersebut kerap dianggap rusak karena dinilai mandul oleh stigma sosial. Sementara itu, simbol ketiga adalah Liang Ingatan yang merepresentasikan sisi psikologis alam bawah sadar manusia.
Ketiga simbol tersebut sejalan dengan empat pilar tema besar yang menopang naskah “Liang”. Pilar tersebut meliputi politik ingatan, tubuh perempuan sebagai arsip luka, wajah ganda kekuasaan, dan trauma. Selain itu, menurut salah seorang pemerannya, secara garis besar pementasan ini menceritakan tentang memori kolektif. Oleh karena itu, di dalamnya tergambar perjuangan perempuan yang menuntut keadilan atas apa yang telah direnggut secara paksa, di mana setiap babak merepresentasikan satu luka sejarah tersendiri.
Bagi sebagian penonton awam, Liang berpotensi menimbulkan kesan sebagai pertunjukan yang sarat kebencian dan berat untuk dicerna. Namun, ada tawaran sudut pandang lain untuk memaknainya.
“Mungkin bagi mereka yang belum berani atau belum mau melek sejarah, Liang akan memiliki kesan kebencian mendalam. Tapi Liang adalah rahim daripada tuntutan keadilan,” Ungkap sang pemeran utama aktor Liang
Dekonstruksi Sejarah dan Gugatan Lintas Dimensi
Lakon “Liang” berpusat pada tokoh bernama Sekar, yaitu seorang wartawan perempuan yang gigih mengusut berbagai kasus ketidakadilan demi membela kaumnya. Menariknya, pementasan ini menggunakan konsep dualitas latar yang unik, yakni alam nyata (kesadaran) dan alam mimpi (bawah sadar). Di satu sisi, saat berada di alam nyata, Sekar bergerak tak kenal lelah mencari informasi. Namun di sisi lain, ketika di alam mimpi, ia justru dipertemukan dengan representasi perempuan bernasib tragis seperti tokoh Kidung.
Salah satu daya tarik utama dari pergelaran ini adalah keberaniannya melakukan dekonstruksi sejarah melalui kemunculan tokoh Kusno. Tokoh tersebut hadir sebagai representasi arketipe dari figur penguasa besar masa lalu. Biasanya, dalam narasi sejarah arus utama, sosok otoritas tinggi kerap diagungkan sebagai pahlawan tunggal yang tak tersentuh atau selalu menang. Namun, “Liang” justru membalikkan logika tersebut. Oleh karena itu, kehadiran Kusno di atas panggung menjadi ruang untuk menggugat balik kuasa maskulinitas, dominasi narasi tunggal, dan absolutisme otoritas dalam ingatan kolektif.

Baca juga: Menafsir Ulang Five Stages of Grief dalam Bening: Lima Ruang Duka
Pergulatan Batin Sang Aktor Utama
Beban emosional tokoh Sekar rupanya memberikan tantangan emosional yang luar biasa bagi pemeran utama, April, mengalami pergolakan batin yang hebat selama proses produksi yang sangat dinamis dan depresif.
“Jujur, awalnya ada pergolakan batin. Karakter Sekar ini dinamis banget, lonjakan emosinya luar biasa dan bertolak belakang dengan kepribadian asli saya. Sempat merasa tidak sanggup karena karakternya sangat tricky,” ungkap April saat diwawancarai usai pementasan.
Bagi April, Sekar adalah manifestasi tragis dari perjuangan perempuan yang kerap berujung utopis. Sekar rela mengorbankan dirinya, bahkan mengalami pelecehan oleh lingkaran kekuasaan, demi menjadi jembatan keadilan bagi perempuan lain. Namun kenyataannya, keadilan tersebut tetap tidak kunjung didapatkan, sebuah refleksi pahit yang menurutnya masih relevan dengan kondisi zaman sekarang.
Sementara Sekar merepresentasikan perjuangan di alam nyata, tokoh Kidung hadir sebagai simbol luka di alam mimpi. Karakter ini dimainkan oleh Najla Rafifa, yang juga merangkap sebagai tim dokumentasi kelas (@banda_kuria). Dalam pendalaman peran, Najla mengaku lebih berfokus pada penghafalan naskah dan penyelaman rasa ketimbang melakukan riset mendalam seperti sang penulis.
“Aku gak banyak melakukan re-search mendalam persis seperti yang dilakukan penulis, bahkan sampai hari penampilan pun aku masih merasa kurang begitu mengeluarkan jiwa Kidung yang seharusnya. Tapi pokoknya, aku lebih fokus ke menghafal naskah dan memahami perasaan Kidung aja sih,” ungkapnya.
Meski sempat mengevaluasi diri atas pencapaian perannya, Najla memiliki misi personal yang tegas tentang apa yang ingin ia sampaikan melalui sosok Kidung.
“Melalui Kidung, aku mau menyampaikan bahwa luka masa lalu itu nyata dan menetap, bukan sekadar cerita sejarah yang bisa ditutup begitu saja. Aku ingin memperlihatkan bagaimana rasanya menjadi perempuan yang dipaksa bungkam, tubuhnya jadi medan pertempuran politik, dan memorinya dijajah trauma. Lewat gestur dan dialog yang ditulis cantik oleh penulis naskah, aku mau Kidung menjadi suara bagi mereka yang selama ini tenggelam di dalam liang pembungkaman,” tuturnya.
Relevansi dengan Kondisi Bangsa dan Harapan untuk Penonton
Bagi Najla, pementasan “Liang” bukan sekadar seni teater semata, melainkan sebuah gerakan perlawanan terhadap pembungkaman sejarah sekaligus ruang aman untuk merawat ingatan atas luka-luka perempuan yang belum disembuhkan oleh bangsa ini.
Soal harapan untuk penonton, Najla merasa persoalan konsep cerita ini lebih tepat jika digali langsung dari penulis naskah karena ia sendiri memilih fokus pada aspek theatrical performance. Namun, ia tetap menitipkan satu harapan sederhana yang esensial setelah tirai panggung ditutup.
“Minimal banget, setelah penonton keluar dari gedung pertunjukan, ada rasa ‘terganggu’ di hati mereka. Aku harap penonton teredukasi bukan cuma secara kognitif (tahu fakta sejarah), tapi teredukasi juga secara empati. Aku berharap mereka sadar bahwa ruang aman untuk perempuan dan keadilan di bangsa ini masih harus terus diperjuangkan,” pungkasnya.
Senada dengan Najla, April juga memandang “Liang” sebagai sebuah pernyataan sikap kolektif, bukan sekadar tontonan panggung hiburan semata.
“Pergelaran ini jelas mengusung konsep feminisme yang kuat. Kita diperlihatkan bagaimana sistem patriarki bekerja merenggut hak perempuan, tetapi kami berusaha mengemasnya dengan konsep pertunjukan yang berbeda dan baru,” tutup April.
Liang hadir sebagai pergelaran sekaligus pembuktian bahwa ruang akademik dan kesenian tetap konsisten menjadi laboratorium kreatif yang peka terhadap isu-isu kemanusiaan, sekaligus menjadi pemantik diskusi yang krusial bagi tatanan sosial masyarakat saat ini. Liang menegaskan satu pesan universal, bahwa luka sejarah perempuan bukan untuk dikubur dan dilupakan, melainkan untuk terus digali, dibicarakan, dan diperjuangkan.
Penulis: Masropah Humaya Saefi
Editor: Gizvah Wanda




