Pernahkah kamu membayangkan bagaimana jadinya jika karya puisi dihidupkan kembali menjadi sebuah film?
Gubahan film yang diangkat dari sebuah karya sastra sudah banyak dipersembahkan oleh para sutradara ternama di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, para sutradara tak henti memproduksi film hasil ekranisasi. Salah satunya adalah film garapan Kuntz Agus yang diadaptasi dari novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Film karya Brian Khrisna itu dijadwalkan tayang pada penghujung 2026. Namun, mengapa puisi jarang diadaptasi menjadi sebuah film?
Mengapa Puisi Jarang Diadaptasi menjadi Film?
Selama ini, produser film di Indonesia cenderung memilih novel atau cerpen untuk dikembangkan menjadi sebuah film. Alasannya cukup sederhana. Tak lain ialah karena keduanya lebih mudah untuk diadaptasi menjadi naskah film. Alur cerita dan penguatan karakter tokohnya sudah terdeskripsi secara matang.
Sebaliknya, bentuk sastra lain seperti puisi, syair, bahkan pantun masih jarang dieksplorasi sebagai karya audio-visual. Film yang diadaptasi dari puisi pun dapat dihitung dengan jari. Beberapa film layar lebar yang diadaptasi dari puisi, misalnya Hujan Bulan Juni garapan Hestu Saputra, lebih sering kita dengar. Puisi tersebut milik Sapardi Djoko Damono, penyair yang sudah sangat terkenal sebelumnya.
Film lain yang juga berangkat dari adaptasi puisi, seperti Gie, Seribu Kunang-Kunang Di Jakarta, dan Istirahatlah Kata-Kata juga diadaptasi melalui puisi meskipun tidak terlalu populer di kalangan remaja masa kini. Akibatnya, jumlah produksi film yang diadaptasi dari karya puisi masih terbilang sangat minim.
Film Langit Terakhir Ibu Membuktikan Besarnya Potensi Alih Wahana Puisi
Fakta miris dari minimnya produksi film yang diangkat dari puisi itulah yang mendorong mahasiswa akhir Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI angkatan 2023 untuk membuktikan bahwa puisi tak berhenti pada musikalisasi saja. Puisi juga patut diapresiasi dalam bentuk film.
“Selain karena puisi memiliki daya pikat yang romantis, alih wahana puisi ke naskah drama memberiku tantangan tersendiri. Selain itu, alih wahana puisi juga memberikan ruang imajinasi yang lebih luas. Sebagai penulis, aku merasa tidak dibatasi oleh alur yang sudah terstruktur, seperti pada cerpen atau novel,” jelas Adinda Anyelir.
Penulis naskah film pendek Langit Terakhir Ibu itu berhasil membuktikan bahwa rasa yang terselip dalam puisi “Aku Mencintai Ibu” karya Ma’mur Saadie juga tak kalah menyentuh dibandingkan dengan sebuah novel jika diangkat menjadi tayangan layar lebar. Film pendek ini ditayangkan sebanyak dua kali pada 5 Juni 2026 di auditorium FPBS UPI dan 18 Juni 2026 di SDN 204 Cidadap.
“Penayangan sebanyak dua kali ini, khususnya di SDN 204 Cidadap, tidak hanya didasari oleh keterbatasan kapasitas di auditorium. Penayangan ini juga sebagai medium refleksi bagi anak-anak agar lebih menyadari betapa pentingnya figur seorang ibu dalam kehidupan mereka,” tutur Anatasya selaku Produser Lini Langit Terakhir Ibu.

Baca juga: Menggugat Kekuasaan Melalui Pergelaran Teater Liang: Dekonstruksi Sejarah dan Luka Perempuan
Kilas Balik Ingatan Masa Kecil
Penayangan Langit Terakhir Ibu ini berhasil memberikan suasana haru pada akhir pemutaran. Tidak sedikit dari para penonton yang menitikkan air mata hingga memilih termenung tanpa kata lantaran larut ke dalam kisah Langit dan Ibu yang memilukan. Makna kehilangan begitu tersorot, bahkan sejak adegan awal film yang menampilkan tokoh Langit ketika sedang berziarah ke sebuah makam.
“Selama proses syuting, aku seperti diajak kembali mengingat kenangan saat ibuku masih hidup. Ketika kami sedang bercerita, bersenda gurau, dan berbincang ringan. Ketiganya dikembangkan dalam adegan kebersamaan antara ibu dan Langit. Tujuannya sederhana, kami ingin mengajak penonton untuk mengulang ingatan usang se-sederhana apa pun ketika mereka bersama dengan orang terkasih, baik yang masih ada maupun yang sudah tiada,” ucap Yusron Amna, sang sutradara, yang tak henti tersenyum selama pemutaran film berlangsung.
Selanjutnya, sutradara Langit Terakhir Ibu itu turut mengingatkan untuk tetap mensyukuri, menyayangi, dan menghargai mereka yang bertahan di sampingmu hingga kini. Sebab momen yang tampak biasa hari ini bisa menjadi kenangan paling berharga ketika mereka telah tiada.
Yusron berhasil membuktikan bahwa kisah paling sederhana ternyata dapat membawa segudang ingatan masa kecil yang seringkali kita kesampingkan lantaran disibukkan dengan pekerjaan.
Menelisik Makna Kehilangan bagi Sang Sutradara
Lewat pemutaran film pendek ini, Yusron kembali teringat dengan Ari Aster, sutradara film Midsommar. Ari Aster pernah mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa baginya karya film lahir dari jati diri dan ruang emosional pembuatnya. Dengan kata lain, Langit Terakhir Ibu adalah wujud nyata dari gambaran makna kehilangan yang pernah dirasakan oleh Yusron Amna sebagai sutradara.
“Selama menyaksikan, aku seakan ditarik ke masa terberatku ketika kehilangan ayah. Meskipun kisahku berbeda dengan yang ada di film, tetapi aku tahu rasanya kehilangan secara mendadak seperti yang dirasakan oleh Langit. Dari film ini aku bisa lebih sadar, bahwa momen sederhanaku dengan ayah terasa begitu berharga ketika ia sudah tiada,” tutur Alya Salma, salah satu penonton yang memiliki mata teduh hingga ia tak bisa menutupi rasa kehilangannya.
Hampir separuh penonton mengaku film ini membangkitkan kembali kenangan masa kecil yang selama ini tersimpan rapat. Kenangan yang menghadirkan rindu, tanpa mampu memutar kembali waktu.
Tantangan Produksi di Balik Layar
Terlepas dari suksesnya film pendek Langit Terakhir Ibu ini, faktanya masih terdapat kendala yang harus dilewati oleh para kru, yakni pada proses location scouting.
“Banyaknya latar tempat yang berjumlah 8 set pada naskah cukup menyulitkan kru Mandala Karsa, khususnya manajer lokasi. Kami sempat kesulitan dalam mencari tempat syuting agar sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh Sutradara. Terlebih lagi, minimnya anggaran produksi mengharuskan kami berupaya keras agar tidak menggelontorkan dana berlebihan. Walaupun harus terguyur hujan dan tertampar terik matahari Kota Bandung, kami cukup puas dengan hasil film Langit Terakhir Ibu yang melebihi ekspektasi ini,” ungkap Saddam Nurhatami, pria berkacamata selaku produser film pendek Langit Terakhir Ibu.
Sebuah karya film pendek yang mengisahkan Langit dan ibu lahir dari bentuk kesederhanaan cinta seorang ibu kepada anaknya. Potret kehilangan yang disoroti tidak hanya terbatas pada sosok ibu yang telah tiada. Justru kehilangan itu juga menyorot waktu yang tak pernah siap kembali untuk mengulang dirinya.
Di balik setiap adegan, Langit Terakhir Ibu mengingatkan bahwa selalu ada cinta yang hidup di tengah kesederhanaan sosok ibu, seperti senyuman dan kecupan. Cerita sederhana tentang matahari, bulan, dan bintang selalu Langit bawa kemana pun ia pergi. Dari hal-hal sederhana itulah kenangan tetap hidup dan menjadi sesuatu yang abadi.
Sebelum “langit terakhir” itu benar-benar tiba, peluklah mereka yang masih ada. Dengarkan suara mereka lebih lama dan buatlah lebih banyak kenangan hingga yang paling sederhana sekali pun. Sebab pada akhirnya, manusia tidak hidup dari banyaknya waktu yang dimiliki. Ia hadir dari kenangan dan cinta yang tetap hidup meskipun raganya telah tiada.
Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti
Editor: Anatasya Solin Indah Duniandana




