Kabar Literat

Apa itu Bandung Writers Festival?

Februari 24, 2020

“Sebenarnya scientific itu berawal dari imajinasi. Tanpa adanya imajinasi, scientific tak akan pernah tercipta,” hemat Pak Haidar Bagir, Jumat (21/02) dalam pembukaan acara Road to Bandung Writers Festival: Sastra dan Kearifan Urban.

Apa sih Bandung Writers Festival Itu?

Bandung Writers Festival (BWF) adalah kegiatan yang mempertemukan para pegiat literasi dalam satu peristiwa, yang berbasiskan semangat edukasi dan rekreasi. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran literasi, membangun budaya menulis, dan menumbuhkan minat membaca. Keseluruhannya terhubung situasi dan kondisi urban beserta persoalannya. Tak hanya berpusat pada keriaan festival saja, BWF juga harus menghasilkan teks yang bertumpu pada konteks.

Kapan Diselenggarakan?

Rencananya sih pada bulan September. Jadi, yang kemarin-kemarin tuh baru “road to” yang pertama, sebelum menuju ke kegiatan BWF yang sebenarnya.

Ada Road to-nya juga, ya? Berapa Lama?

Acara “road to” pertama dilaksanakan hari Jumat—Minggu (21—23 Februari 2020) di Galeri Merak lantai 2, tepatnya di Jl. Merak No. 2 (tanggal 21 dan 22), di 372 Dago Pakar, tepatnya di Jl. Pakar Kulon No. 112 (tanggal 23).

Setelah itu, ada acara “road to” yang kedua. Rencananya akan dilaksanakan pada bulan Juli nanti. Tunggu info lebih lanjut di media sosial Bandung Writers Festival.

Kemarin Kegiatannya Ngapain Aja?

Kemarin Jumat (21/2), acara dimulai dari sepatah dua patah paragraf pembukaan oleh Pak Haidar Bagir. Selanjutnya penampilan pantomim dari Wanggi Hoed. Setelahnya pengunjung dipersilakan untuk melihat-lihat Pameran Kutipan Sastra.

Terdapat 32 kutipan yang digantung dan dipamerkan di dekat empat sudut ruangan persegi panjang. Kutipan-kutipan tersebut sengaja dimuat dalam bentuk karya visual—seperti sebuah pameran—untuk memberikan kesan dan pesan yang berbeda. Kutipan karya sastra ini dipilih sesuai dengan tema pameran, yaitu Sastra dan Kearifan Urban.

Karya-karya tersebut dari para sastrawan yang sudah dikenal publik secara luas, seperti Afrizal Malna, Remy Sylado, W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, dan lainnya; ada juga dari sastrawan muda yang sedang aktif-aktifnya—khususnya di wilayah Jawa Barat—seperti Edwar Maulana, Rendy Jean Satria, Faisal Syahreza, Willy Fahmi Agiska, Zulfa Nasrulloh, dan yang lainnya.

Ada pula dari para penulis muda, mereka memotret kehidupan urban dari kota yang mungkin termasuk paling semrawut: Jakarta. Mereka adalah Naparti “Oomleo” Awangga, Meyanne Rasita, Raja Setiaji, Jadeline, dan satu lagi yang cukup anomali, yaitu Reza Mustar, yang menyampaikan “teks visual” dari kumpulan karyanya yang dimuat di Instagram @komikazer. Adapun kegiatan setelahnya: diskusi literasi dan penampilan musik dari Adew Habtsa.

Baca juga: Presentasi Kelompok Itu Membosankan, Bukan?

Diskusi tentang Apa Aja Nih?

Ada dua sesi diskusi dengan dua persoalan yang berbeda.

Diskusi pertama, “Sastra Masa Kini” pemateri Zulfa Nasrulloh dan moderator Eko Priyantoro. Zulfa memulai diskusinya dengan beberapa pertanyaan: apakah sastra koran, majalah, atau bahkan online termasuk ke dalam sastra masa kini? Penghargaan sastra mana yang mewakili Sastra Indonesia masa kini?

Apakah tagar #poempm dan #30haribercerita merupakan gerakan sastra masa kini paling mutakhir? Apakah karya bestseller selalu menjadi sastra populer, sedangkan karya yang tak laku selalu wajar dianggap sastra serius? Masihkah kota Jakarta dianggap pengeras suara khazanah Sastra Indonesia?

Lewat pertanyaan-pertanyaan tersebut, Zulfa menyimpulkan dalam sesi diskusinya: sastra masa kini mesti melihat “sumber inspirasi” sebagai “sasaran”. Dahulu sastra meminjam realitas (sumber inspirasi) dan kemudian menuliskannya ke dalam medium koran, buku, atau yang lainnya, tanpa memberikan kontribusi (sasaran) dari hasil karya sastra yang realitasnya dipinjam.

“Tugas seorang penulis adalah menyikapi keadaan dan—mulai sekarang mereka seharusnya—memulai riset,” tutup Zulfa dalam sesi diskusinya.

Diskusi kedua, “Sastra Sunda di Era Digital” pemateri Deri Hudaya dan moderator Eko Priyantoro. Pembahasannya terkait “Sastra Sunda Dominan dan Sastra Sunda Tak Dominan”. Menurut Deri, karena bahasa Sunda merupakan bahasa yang unggul dalam masalah rasa, sastra Sunda dominan dipengaruhi oleh karya-karya romantisme. Karya-karya yang konvensional (baca: tidak melawan tradisi), penuh rasa dan ngulik sihir kata, atau singkatnya, peurih henteu sajakna.

Karya sastra Sunda dominan biasanya ditemukan di media penerbit sastra Sunda mayor, termasuk dalam Mangle dan Sastra Guru. Sedangkan, sastra Sunda tak dominan merupakan karya-karya sastra Sunda yang penuh sindiran terhadap tradisi (tulis) sastra Sunda, seperti karya Givi Givani “Sangkuriang” yang tak masuk logika dan terus diulang-ulang (skizofrenik), karya Ihung & Arman Djamparing “AC Cipok 16” yang penuh sindiran terhadap kehidupan sekarang: sibuk kerja dan modern, dan Wahyu Heriyadi “Tung Tung Tung” dan “Keblueks” yang menyindir romantisme pada sastra Sunda dominan. Karya sastra tersebut banyak mengandalkan game atau permainan dalam isinya dan mengabaikan keagungan tulisan yang penuh tata bahasa dan logika, serta menyindir sastra Sunda dominan.

Sebagai penutup dari diskusi kedua dan akhir acara hari pertama, dalam closing statement-nya Deri sempat mengatakan, “Sastra Sunda teh ulah kitu-kitu wae.”

Diskusi dilanjut ke hari kedua, Sabtu (22/02) dan Minggu (23/02).

Only registered users can comment.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *