“Mahasiswa kuliah, tapi mereka kosong. Dosen mengajar, tapi tidak mencerdaskan”
Kalimat itu terbesit dari kepala saya ketika menjalani aktivitas perkuliahan. Mahasiswa hadir di ruang kuliah, tetapi kerap pulang dalam keadaan kosong. Di kelas yang tampak ramai, proses belajar sering kali berhenti pada pemenuhan formalitas. Angka kehadiran dicatat, presentasi dijalankan, dan tugas dikumpulkan.
Perkuliahan memang berjalan, tetapi tanpa pendampingan yang benar-benar membimbing nalar mahasiswa untuk memahami. Pertanyaanya bukan semata mengapa mahasiswa tampak malas, melainkan bagaimana sistem pendidikan tinggi membentuk situasi semacam ini?
Ketika dosen melakukan praktik manajerial dan menyerahkan proses belajar sepenuhnya kepada mahasiswa untuk belajar sendiri, mempresentasikan sendiri, lalu dinilai dari hasil akhirnya, pendidikan kehilangan fungsi dasarnya. Alih-alih diarahkan dan didampingi, mahasiswa justru dilepas atas nama kebebasan akademik. Mereka seperti anak-anak yang dibiarkan mencari jalan di hutan akademik yang menuntut hasil, tetapi abai terhadap proses.
Dalam situasi semacam itu, teknologi tidak hadir sebagai sarana proses belajar, melainkan jalan pintas. ChatGPT digunakan untuk membuat presentasi, menyusun pertanyaan, bahkan menjawab kembali. Mahasiswa tidak lagi mengejar pemahaman, melainkan angka; bukan kedalaman berpikir, melainkan nilai yang aman.
Jika praktik ini terus dibiarkan, apakah kita sedang menjalankan pendidikan tinggi, atau sekadar rutinitas akademik yang perlahan mengosongkan nalar mahasiswa?
Esai ini akan mengurai bagaimana sistem pendidikan berjalan seperti zombi. Mereka mati, tetapi hidup dengan akal yang kosong. Mari melihat apa yang melatarbelakangi dosen menjalankan praktik manajerial, dan bagaimana dampak kepada mahasiswa apabila praktik ini terus berlanjut.
Ketika Dosen Mengajar, tetapi Tidak Mencerdaskan
Sebelumnya, perkenalkan, saya mahasiswa dari universitas ternama di Indonesia. Saya akan sedikit berkeluh mengenai sistem pendidikan yang tidak mencerdaskan yang saya alami selama perkuliahan berlangsung. Saya rasa, masalah di ruang kuliah tidak bisa terus-menerus disembunyikan di balik dalih sistem. Sistem memang memberi tekanan, tetapi pilihan untuk mengabaikan mahasiswa tetaplah keputusan tenaga pendidik (dosen).
Di kelas yang saya ikuti, dosen hadir bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai pengelola administrasi pembelajaran. Dosen membuka perkuliahan, membagi kelompok, menentukan jadwal presentasi, lalu menghilang. Seolah tugas mendidik selesai begitu RPS (Rencana Pembelajaran Semester) dijalankan.
Kondisi ini mencerminkan praktik yang bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. UU ini menegaskan pendidikan tinggi harus mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (termuat dalam pasal 5 ayat 1).
Sehari-hari saya ke kampus, apa yang terjadi di ruang kuliah jauh dari tujuan ini. Mahasiswa hadir, tetapi bimbingan dialogis yang mendalam jarang muncul. Perkuliahan dijalankan, tetapi tidak mencerdaskan, dan kesempatan mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi berpikir kritis sering terabaikan oleh dosen.
Saya kira ini hanya kegelisahan saya saja, tetapi ketika saya sedang membuka aplikasi X (dulunya Twitter), saya menemukan tweet dari ITS Fess yang bertanya, “kenapa gue ngerasa cara mengajar guru si SMA better than dosen, bahkan sekelas ITS. gue kadang di kelas mikir “ni dosen ngerti ngajar ga si? apa gaada training mengajar buat mereka? karna emang gabisa dimengerti ngomong apa. ini gue yg emang bego apa klian berpikiran gini juga?” (Ditulis 4 Januari 2026, Sumber X)
Kemudian cuitan tersebut dibalas oleh akun @arcodella. Balasannya menjadi perhatian publik dengan 229rb tayangan, 679 postingan ulang, 175 kutipan, 7.322 suka dan masih terus bertambah. Ia menuliskan, “Bullshit yang bilang mahasiswa mesti belajar sendiri cari apa2 sendiri, anjing kita bayar lho mahal2 harusnya dosen emng HARUS BISA NGAJAR. Kita itu customer yang bayar UKT. Gue paling kesel sih sama dosen yg setiap kali masuk yg mahasiswanya presentasi.” (Ditulis 4 Januari 2026, Sumber X)
Komentar ini sangat selaras dengan keresahan yang saya alami di kampus. Perkuliahan direduksi menjadi tugas dan presentasi tanpa arah. Diskusi dibiarkan berjalan tanpa koreksi. Kesalahan konsep tidak diluruskan. Pertanyaan mahasiswa tidak diperdalam. Di sinilah peran dosen sebagai pendidik kehilangan eksistensinya. Dosen hadir secara formal, tetapi absen secara intelektual.
Ironisnya, sebagian dosen tetap merasa telah menjalankan kewajibannya. Tugas diberikan, nilai keluar, laporan kinerja terpenuhi. Mahasiswa boleh memahami atau tidak, itu urusan mereka. Logika semacam ini menunjukkan sistem pendidikan tinggi telah menjauhkan dosen dari tanggung jawab dasarnya, yakni mendampingi proses belajar mahasiswa.
Dosen, Sistem, dan Kepemimpinan Zombi
Sependek pengalaman saya selama kuliah 5 semester ini, saya merasakan perkuliahan sering terasa hampa. Dosen hadir, tetapi tidak sungguh membersamai proses belajar; mahasiswa ditinggal sendiri menavigasi tugas dan materi. Situasi seperti ini bukan sekadar ketidakhadiran individu dosen, tetapi bagian dari masalah struktural yang lebih luas. John Smyth dalam The Toxic University: Zombie Leadership, Academic Rock Stars and Neoliberal Ideology (2017) menamai kondisi ini sebagai “kepemimpinan zombi” di universitas modern, layaknya dosen dan pimpinan universitas menjadi figur yang hidup, tetapi arah dan kreativitasnya mati. Fokusnya kian bergeser; dari pendidikan yang mencerdaskan menuju pengakuan angka, prosedur, dan pencitraan akademik.
Smyth juga menyoroti dampak neoliberalisme akademik yang menempatkan pasar, persaingan, dan produktivitas sebagai nilai utama universitas. Mahasiswa diposisikan sebagai konsumen formalitas, sementara dosen menjadi pengelola output dan reputasi.
Selain itu, Smyth mengingatkan logika ini menimbulkan efek sistemik: pendidikan tinggi kehilangan kemampuan membentuk pemikir kritis. Ruang akademik yang seharusnya menjadi wadah terkumpulnya ide kini menjadi arena formalitas pengakuan angka.
Dari pengalaman saya kuliah, hal ini membuktikan bahwa praktik manajerial dan tekanan administratif yang berlebihan bukan hanya masalah satu universitas, tetapi bagian dari fenomena global yang menimpa universitas di banyak negara. Saya merasakan tekanan ini setiap kali diharuskan menyelesaikan tugas besar tanpa arahan menghadapi target administratif, sementara ruang untuk berdialog dan berpikir kritis nyaris tidak ada.
Praktik Manajerial: Dosen menjadi Manajer, Bukan Pendidik
Saya sering merasa aneh ketika berada di ruang kelas. Dosen hadir untuk memeriksa apakah mahasiswa sudah memenuhi daftar tugas, bukan memberi masukan yang membangun. Tugas penulisan artikel dan presentasi diwajibkan, tetapi arahan mendasar hampir tidak pernah hadir.
Mahasiswa ditinggal sendiri, mencoba memahami materi tanpa panduan yang diberi, sementara dosen sibuk dengan urusan administratif dan manajerial—seperti mengejar jabatan, sertifikasi, pangkat, dan pengakuan individual lainnya. Inilah yang dimaksud dengan praktik manajerial.
Hal ini sebenarnya berkaitan langsung dengan sistem penilaian kinerja dosen yang diatur negara. Peraturan Menteri PANRB Nomor 17 Tahun 2013 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya mengatur secara rinci bagaimana dosen dinilai, dipromosikan, dan diakui secara profesional.
Dari peraturan di atas, kinerja dosen diukur melalui angka kredit yang berasal dari publikasi ilmiah, penelitian, pengabdian, dan laporan administratif. Proses membimbing mahasiswa di ruang kelas seringkali dianggap tidak bernilai besar secara angka, meskipun itulah inti pendidikan.
Kondisi ini diperkuat oleh riset Human Resource Management Strategy in Higher Educational for Functional Position Improvement oleh Sulistiyanto (2025). Riset ini menunjukkan strategi manajemen sumber daya manusia di perguruan tinggi kerap menitikberatkan pada promosi jabatan fungsional dan administrasi, sementara pendampingan mahasiswa menjadi prioritas kedua.
Hal tersebut semakin terasa ketika saya melihatnya secara langsung di ruang-ruang kuliah; dosen lebih banyak mengelola angka dan hal prosedural daripada mencerdaskan mahasiswa. Ketika dosen lebih sibuk mengejar jabatan dan sertifikasi daripada hadir di ruang kelas, maka yang runtuh bukan hanya kualitas perkuliahan, tetapi juga kepercayaan mahasiswa terhadap dunia akademik itu sendiri.
Sistem semacam ini menekankan hasil formal kepada mahasiswa; nilai, kehadiran, publikasi, dan pemenuhan tugas, dibanding proses belajar yang membangun daya kritis. Mahasiswa dipaksa menyesuaikan diri dengan aturan yang kaku. Teknologi seperti ChatGPT yang saya yakini sering dipakai mahasiswa sebagai alat bantu belajar, tetapi ironisnya teknologi itu dipakai sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas. Nalar kritis perlahan terkikis, digantikan oleh kebutuhan untuk sekadar “nilai aman”.
Mahasiswa menjadi Korban Struktural dari Praktik Manajerial
Saya sendiri adalah saksi sekaligus korban dari sistem pendidikan yang melanggengkan praktik manajerial dan mahasiswa menjadi pihak yang paling dirugikan. Dosen jarang hadir, terlambat, atau hanya memeriksa tugas tanpa ada ruang diskusi yang membebaskan. Tugas yang seharusnya menjadi bagian dari proses belajar mahasiswa justru menjadi beban administratif. Mahasiswa tidak lagi belajar untuk memahami, tetapi belajar untuk memenuhi angka dan nilai yang terjaga.
Situasi seperti ini menjadi tekanan yang nyata. Frustrasi muncul karena potensi akademik tidak pernah digali secara optimal. Mahasiswa belajar berjalan sendiri-sendiri, kehilangan kesempatan berdiskusi, bereksperimen dengan ide, dan mengasah kemampuan analisis kritis. Kreativitas terkekang, motivasi menurun, rasa percaya diri melemah, ChatGPT menjadi jalan cepat untuk mengamankan nilai. Saya merasakan hal ini setiap kali teman-teman saya harus mempresentasikan artikelnya sendiri tanpa bimbingan yang serius.
Jika benar-benar diperhatikan dengan seksama, dampak dari adanya praktik manajerial ini lebih luas. Mahasiswa kehilangan kesempatan membangun hubungan intelektual dengan dosen, mentor sekaligus fasilitator dalam proses berpikir. Saya merasakan kesepian akademik: semua proses belajar harus saya sendiri, mencari cara memahami materi, menyusun argumen, dan mengantisipasi nilai yang akan saya dapat. Pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi ruang berpikir kritis menjadi arena bertahan hidup di formalitas akademik.
Apabila sistem terus berjalan seperti ini, mahasiswa generasi berikutnya akan belajar seperti apa? Apakah mereka tumbuh sebagai pemikir kritis atau hanya konsumen pemenuhan angka akademik? Semua ini mengakar dari sistem yang hidup tetapi mematikan kualitas berpikir kritis mahasiswa. Praktik manajerial yang salah arah menempatkan mahasiswa dalam posisi rapuh, mengorbankan potensi intelektual demi keamanan nilai.
Penulis: Saddam Nurhatami
Editor: Aliyah Iffa
Baca juga: KEPADA ADIK: KETIKA MUSIK MENJADI RUANG UNTUK KEMBALI MENYAPA




