Di balik gelar juara Piala Dunia 1970, novel 1970 memotret penyiksaan dan fakta sejarah rezim militer Brasil melalui sosok Raul Dos Santos.

Final yang Tak Diinginkan: 1970 Sebuah Novel

Belum genap dua bulan gelaran akbar sepak bola dunia selesai digelar. Spanyol berbekal pengalaman keluar sebagai juara dan berhasil mengawinkan gelar Piala Dunia 2026 dengan UEFA Euro 2024. Keberhasilan ini membuat kebahagiaan menyelimuti penduduk Spanyol. Jelas saja, siapa yang tak bahagia negaranya berhasil menjadi yang terkuat di seluruh dunia. Namun, kebahagiaan warga Spanyol tak dirasakan oleh seorang Brasil ketika negaranya menjadi raja sepak bola dunia pada 1970. 

Raul Dos Santos Figueira, pegawai bank berkebangsaan Brasil mengalami momen tak diinginkan sepanjang hidupnya menjelang digelarnya final Piala Dunia 1970. Pasalnya, ia menjadi korban salah tangkap yang dilakukan rezim militer. Padahal, pria kelahiran Porto Alegre ini hanyalah seorang pegawai bank biasa yang tidak ikut campur pandangan politik manapun.

Piala Dunia yang Terlalu Membekas

Ketika masyarakat Brasil dan Italia sibuk menyiapkan diri jelang final piala dunia 1970, Raul juga sedang sibuk-sibuknya. Dirinya kini berada di sebuah mobil bersama beberapa anggota rezim militer Brasil. Bukan sebagai rekan atau kawan, tetapi sebagai seorang korban salah tangkap yang dilakukan oleh kelompok rezim militer. Raul dituduh bergabung dengan ideologi komunis yang tengah marak berkembang di Brasil. Tuduhan inilah yang membawanya pada ironi kelam penyiksaan dan penyekapan selama bermalam-malam.

21 Juni 1970, ketika jutaan pasang mata fokus pada final dua negara besar, Italia dan Brasil, sementara pasang mata Raul tertutup kain hitam. Saat ini, ia tengah menerka lokasi dan akan dibawa ke mana dirinya oleh anggota rezim militer Brasil. Tepat setelah puluhan putaran, Raul diturunkan dengan mata tertutup di sebuah daerah negara bagian Rio Grande do Sul. Jalanan yang tentu tak asing bagi Raul, sebab di kota Porto Alegre inilah dirinya tumbuh dan berkembang. 

Namun, pada bab berikutnya cerita kembali ke awal ketika Raul pertama kali diculik dan dibawa oleh gerombolan orang suruhan rezim militer. Pria kelahiran Porto Alegre ini kemudian dibawa menuju ke sel tempat orang-orang tahanan politik dan masyarakat yang dicap sebagai komunis ditempatkan. Di ruangan inilah dirinya mendapatkan pahit manis kehidupannya selama beberapa hari ke depan. Pada mulanya, Raul diinterogasi dengan cara yang cukup baik dan dipertemukan dengan sipir yang baik hati. Namun, karena terus-terusan mengelak dan enggan mengakui perbuatan yang memang tidak dilakukannya, dirinya kemudian mengalami penyiksaan yang begitu menyakitkan. Bahkan rasa sakit yang dialami tubuhnya terus terasa hingga penyiksaan itu berlalu. 

Selain Raul, terdapat sosok lain yang berjuang keras untuk tetap hidup. Ibunya, yang tak disebutkan namanya, terus-terusan berusaha untuk bolak-balik kantor polisi sekadar menanyakan kondisi Raul. Pasalnya, anak kesayangannya itu belum juga kembali setelah menghabiskan waktunya di bar. Padahal, yang tidak diketahuinya bahwa Raul saat ini tengah mengalami penyiksaan kejam dan dituduh sebagai seorang komunis tanpa dasar. 

Baca juga: Mengenal Karya Sastra Ekokritik sebagai Upaya Menjaga Lingkungan

Penyiksaan yang Ditutup-tutupi

Sebuah kutipan terkenal mampir di halaman pertama buku ini dan ditulis dengan font yang dicetak tebal serta menghabiskan satu halaman penuh. Kutipan ini berbunyi “TIDAK ADA PENYIKSAAN DI BRASIL” dengan bunyi asli berbahasa Portugis “Não há tortura em nossas prisões. Também não há presos políticos” atau “Tidak ada penyiksaan di penjara kami. Juga tidak ada tahanan politik.” Pernyataan kontroversial ini kemudian mengundang perdebatan di Brasil karena diucapkan oleh Menteri Kehakiman Brasil periode 1969-1974, Alfredo Buzaid.

Kutipan yang diucapkan Alfredo Buzaid ini menjadi bentuk penyangkalan resmi yang dilakukan oleh pemerintah Brasil atas penyiksaan yang mereka lakukan menjelang Final Piala Dunia 1970. Padahal, Komisi Kebenaran Brasil (CNV) mengonfirmasi bahwa mereka menemukan 434 kasus kematian dan penghilangan paksa yang dilakukan selama masa pemerintahan rezim militer Brasil berkuasa. Berdasarkan jumlah tersebut dapat dirincikan sebagai, 191 orang meninggal dunia, 210 rakyat hilang dengan 33 rakyat ditemukan selama masa kerja yang dilakukan CNV.

Selama masa kerjanya, CNV atau Comissão Nacional da Verdade juga menemukan bukti-bukti lain terkait penyiksaan, penyekapan, penahanan, penghilangan paksa, hingga penyembunyian mayat yang dilakukan oleh rezim militer terhadap tahanan-tahanan politik hingga kaum komunis pada medio 1946-1988.

Hari Pertandingan Final Piala Dunia 1970

Setelah bermalam-malam disekap dan diinterogasi dalam balutan kekerasan fisik dan psikis yang menyiksa Raul Dos Santos Figueira, mulai dari hari pertandingan semifinal antara Brasil menghadapi Uruguay hingga malam puncak Final Piala Dunia yang mempertemukan Brasil dengan Italia. Kini saat yang sangat membahagiakan baginya akan segera terjadi meskipun ia belum mengetahui bahwa akan dibebaskan. 

21 Juni 1970, hari pertandingan final Piala Dunia 1970 bersamaan dengan hari pembebasan Raul setelah hampir empat malam disiksa, diinterogasi, dan dituduh sebagai seorang komunis. Setelah hampir berpuluh-puluh belokan dan putaran, pria kelahiran 21 Desember itu akhirnya dibebaskan di kota yang membesarkannya, Kota Porto Alegre di negara bagian Rio Grande do Sul, Brasil. 

Di malam ini, sejarah tercipta bagi Brasil. Mereka berhasil memenangkan Piala Dunia ketiga berkat gol dari Pele, Gerson, Jairzinho, dan Carlos Alberto dengan kemenangan 4-1 atas Italia. Seharusnya momen ini menjadi momen paling membahagiakan bagi seluruh rakyat Brasil. Namun, bagi Raul yang baru saja bebas, ia masih berusaha memahami dan menerka apa yang baru saja terjadi padanya dalam beberapa malam terakhir.

Penulis: Dicky Satria Pratama
Editor: Allysa Maulia Rahman

Baca juga: KEPADA ADIK: KETIKA MUSIK MENJADI RUANG UNTUK KEMBALI MENYAPA