Resensi

RESENSI BUKU PENGANTAR SOSIOLOGI SASTRA

September 16, 2020

Judul Buku: Pengantar Sosiologi Sastra: dari Strukturalisme Genetik sampai Post-modernisme
Penulis Buku: Faruk
Penerbit Buku: Pustaka Pelajar
Cetakan: V, September 2016
Tebal Buku: 260

Buku ini menjadi jembatan bagi mereka yang ingin mendalami kajian sosiologi sastra. Pada Bab I dan II memuat pengertian sosiologi dan sastra menurut beberapa tokoh. Teori-teori mengenai sosiologi sastra memperlihatkan usaha mengatasi berbagai kelemahan dalam sosiologi sastra tradisi Marxis.

Meskipun demikian, ada pula pemaparan lebih rinci soal teori sosiologi sastra dan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi terbangunnya sosiologi sastra yang tidak semata-mata berada dalam paradigma konflik dan Marxis. Strukturalisme genetik hingga post-modernisme pun dikupas dalam buku ini. Sebagai contoh, Swingewood dalam Faruk (1972) menyatakan bahwa sosiologi dikatakan berusaha menjawab pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa masyarakat bertahan hidup.

Dalam buku ini pula, Damono (1978) mengemukakan beberapa pendapat mengenai aneka ragam pendekatan terhadap karya sastra dari Wellek dan Werren. Ia menemukan setidaknya tiga  jenis pendekatan sastra, yaitu (1) sosiologi pengarang tentang status sosial, ideologi sosial, dan lain-lain yang menyangkut pengarang sebagai penghasil karya sastra; (2) sosiologi karya sastra tentang karya sastra itu sendiri; dan (3) sosiologi sastra tentang pembaca dan pengaruh sosial karya sastra.

Pada Bab IV terdapat pembahasan teori sosiologis Lucien Goldmann, teori ini memperlihatkan usaha pertama untuk mengatasi kecenderungan reduksionis dan simplistis dari sosiologi sastra Marxis. Salah satu kebaruan dari teori tersebut terlihat pada penempatan ideologi/pandangan dunia sebagai mediasi antara masyarakat dan sastra. Selain itu, dalam teori tersebut terdapat usaha untuk memberikan status yang relatif otonom pada kesusastraan sebagai lembaga sosial.

Serangkaian mediasi yang memperantarai hubungan masyarakat dengan sastra dalam pengertian Marxis juga dijelaskan pada Bab V. Di antara apa yang disebutkan sebagai infrastruktur dengan superstruktur, tidak hanya terdapat pandangan dunia, tetapi juga konvensi-konvensi sastra, cara produksi sastra, dan bahkan ideologi kesusastraan itu sendiri.

Selain itu, ada teori sosial yang menempatkan karya sastra bukan sekadar refleksi masyarakat saja atau sebagai suprastrukur yang ditentukan infrastruktur, melainkan dalam taraf tertentu ada kemungkinan pula untuk besifat formatif terhadap masyarakat. Gramsci dan Williams adalah tokoh yang mewakili teori ini di Bab VI.

Pada bab terakhir, ada beberapa teori lain di luar tradisi Marxis, yaitu teori fungsional hingga post-modern. Bab VIII ini penting karena di dalamnya ada penjelasan tentang kelemahan yang mendasar dari seluruh tradisi Marxis, terutama kecenderungannya ke arah totalitarianisme.

Kutipan-kutipan di atas memberikan sedikit gambaran mengenai bagaimana buku ini akan mengantarkan kita pada disiplin ilmu sosiologi sastra lebih dalam lagi.

Baca juga: Penggalian Sejarah yang Hebat sekaligus Menyeramkan oleh Jesmyn Ward

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *