Resensi

Penggalian Sejarah yang Hebat sekaligus Menyeramkan oleh Jesmyn Ward

Agustus 31, 2020

Sing, Unburied, Sing mengisahkan sebuah keluarga—dan dua hantu—dalam perjalanan darat yang punya makna ganda sebagai perjalanan melalui masa lalu yang pedih.

sumber gambar: Financial Times.

Novel Sing, Unburied, Sing karya Jesmyn Ward dibuka oleh seorang anak lelaki, Jojo, yang tegas mengaku, “Aku suka menganggap diriku tahu apa itu kematian.” Hari itu hari ulang tahunnya yang ke-13 dan dia membantu kakeknya, Pop, menyembelih kambing yang akan dipanggang untuk makan malam. Jojo mencoba melatih dirinya untuk tidak memalingkan wajah ketika Pop menggorok leher si kambing atau tergelincir di tanah berlumuran darah saat mereka sedang menguliti. Jojo amat ingin meniru kakeknya, dan ini upayanya untuk membuktikan bahwa dia, “cukup tua untuk menatap kematian seperti layaknya pria dewasa.”

Itu merupakan adegan simbolik. Pemahaman Jojo akan kejantanan diperumit oleh orang-orang serta tempat-tempat dalam sejarah keluarganya. Sing, Unburied, Sing berlatar Bois Sauvage, sebuah kota pesisir fiksional dan penuh perjuangan di Mississippi, di mana Jojo tinggal bersama kakek neneknya dari pihak ibu. Ibunya, Leonie, seorang perempuan berkulit hitam yang terperangkap dengan penyalahgunaan narkotika, khususnya sejak ayah Jojo, Michael, pria kulit putih, ditahan di penjara Parchman yang terkenal dengan kebrutalannya. Ketiadaan Michael dan ketidakpeduliaan Leoni kepada anak-anaknya membuat Jojo mengambil tanggung jawab atas adik perempuannya yang berusia 3 tahun, Kayla, yang amat dia lindungi.

sumber gambar: Tulane News.

Sing, Unburied, Sing merupakan novel ketiga dan paling ambisius yang ditulis Jesmyn Ward. Dia memadukan antara prosa liris dengan novel jalanan dan cerita hantu. Ward melabuhkan novelnya pada perjalanan Leoni yang berat bersama kedua anaknya dan sahabatnya, seorang pecandu, untuk menjemput Michael, yang akan segera dibebaskan dari masa hukumannya—dan berputar bersama hantu-hantu yang gelisah, mencari kebebasan dari duka atas kematian mereka. Dituturkan lebih banyak lewat sudut pandang Jojo dan Leoni, yang berkisah secara bergantian, novel ini mengeksplorasi efek mendalam dari rasisme dan ketidakadilan yang menimbulkan keretakan terhadap keluarga ini, dan bagaimana para anggota keluarga menghukum diri mereka sendiri atas pilihan-pilihan mereka.

Terperangkap bersama, bergejolak, dan mendongkol, tensi di antara penilaian Jojo atas ketidakbecusan ibunya dan perpaduan kuat antara keegoisan dan kesedihan Leoni yang terlihat jelas. Namun, kerumitan novel ini terletak pada ruang supernatural di antara kedua tokohnya. Ketika sedang teler, Leoni dihantui oleh hantu kakaknya, Given, yang terbunuh saat berusia 18 tahun. Setelah berkunjung ke penjara, Jojo mulai berkomunikasi dengan arwah bocah yang tersiksa, Richie, yang mati ketika dipenjara bersama Pop beberapa dekade lalu. (Pop, bagi dirinya, tetap merasa tersiksa atas keterlibatannya dalam kematian Richie). Dua hantu itu mengingatkan betapa besar pencarian Jojo atas kedewasaan dan kejantanan yang disampaikan oleh pemuda yang tak punya kesempatan untuk tumbuh dewasa.

Novel Sing, Unburied, Sing versi bahasa Indonesia.

Sing, Unburied, Sing menjadi finalis National Book Award 2017, memantapkan Ward sebagai salah satu penulis paling puitis dalam percakapan tentang urusan Amerika yang belum tuntas di Selatan Amerika. Berlatar pasca-Badai Katrina, novel ini bergema saat kehancuran akibat Badai Harvey, dan protes-protes serta kekerasan di Charlottesville memperlihatkan banyak orang Amerika kembali ke pelajaran yang sempat hilang tentang identitas rasial dan Selatan Lama (the Old South). Meski anteseden yang paling jernih mungkin terdapat dalam Beloved karya Toni Morrison—dengan anak yang sakit hati kembali dari kematian untuk mencari jawaban—Ward menulis bahwa dia banyak memikirkan novel As I Lay Dying karya William Faulkner. Sangat tepat bahwa alih-alih bepergian untuk menguburkan anggota keluarga yang mati, sebagaimana dalam kasus novel Faulkner, Ward menyuruh tokoh rekaannya untuk membawa hantu Richie, menghadirkan suaranya ke dalam kekacauan yang dinamis.

Ironi yang bikin frustrasi di dalam jaringan cerita Sing, Unburied, Sing bahwa Ward membiarkan pembaca untuk menyaksikan potret tokoh-tokohnya dengan sangat lengkap, tapi membuat ibu dan anak agak buta satu sama lain. “Kadang-kadang,” Jojo mengakui, “aku merasa aku lebih memahami segala hal lain daripada aku akan pernah memahami Leoni.” Mereka berdua dapat melihat hantu—orang-orang yang “tidak terkubur” yang kematiannya menggema dalam kehidupan mereka—tapi tampaknya tak dapat mendapat kejelasan tentang kebencian mereka terhadap satu sama lain. Kepahitan dan melankoli mengguncangkan hubungan mereka dan membuatnya tetap retak.

Di dalam novel ini, berulang-ulang, beban individu kusut dengan beban keluarga yang sudah lama ditanggung. Dengan berosilasi antara masa lalu dan masa kini, Ward melukiskan trauma antargenerasi yang terasa hampir tak terhindarkan. Dia sering kembali kepada tema bahwa segalanya “terjadi sekaligus”, dan sulit membedakan antara di mana kesedihan akan berakhir dan keputusasaan dimulai. Alih-alih membiarkan kenangan itu mencekik para tokohnya, novel ini melemparkan pertanyaan apa artinya terikat pada pengalaman kolektif kulit hitam.

Pada permukaan Ward tampak seolah melakukan banyak hal, plotwise, dengan beberapa alur cerita dalam novel—Mam kalah melawan kanker, rasa bersalah Pop, orangtua Michael yang rasis—tampakya tak terselesaikan. Namun, tumpang tindih antara drama dan penderitaan, kacau sekaligus pas dan berlangsung. Dan, untuk semua kekerasannya, Sing, Unburied, Sing bukan novel tanpa kelembutan. Pada bagian-bagian yang menggambarkan kehangatan antara Jojo dan Kayla kecil sangat mengagumkan, sebagaimana tanda kekaguman Jojo yang sporadis terhadap Pop.

Secara keseluruhan, tidak ada cara melarikan diri dari tafsiran politik Ward tentang sejarah Amerika. Dia menggunakan hantu, gaya realisme magis secara piawai dengan membengkokan dua realitas kehidupan yang paling saklek: waktu dan kematian. Bukunya seperti mempertanyakan apakah sebuah keluarga atau bangsa dapat menebus ketidakadilan yang mapan dan langgeng. Ladang Parchman juga dikenal sebagai Mississippi State Penitentiary (Penjara Bagian Mississipi), memainkan peran kunci pada bagian depan novel ini, mengaitkan situasi yang menindas di masa lalu (saat hukuman penjara lebih dekat menyerupai perbudakan yang dilegalkan) dan penahanan masa kini. Richie, dengan pedih mengingat bagaimana, setelah ia mati, Parchman sekaligus menjadi masa lalu, masa kini, dan masa depan baginya:

“Kukira aku bermimpi buruk. Kukira jika aku menggali dan tidur dan terbangun lagi, aku akan kembali ke Parchman yang baru, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, ketika aku tertidur dan terbangun, aku berada di Delta sebelum penjara berdiri, dan orang-orang Pribumi menjelajahi bumi yang kaya itu, berburu dan beristirahat untuk bermain stickball dan merokok. Dengan bingung, aku masuk ke liang dan tidur dan terbangun di Parchman yang baru, kepada pria-pria yang memanjangkan rambut dan mengepangnya sampai ke kulit kepala,  pria yang duduk berjam-jam di kamar-kamar kecil tanpa jendela, memandangi kotak-kotak hitam besar yang mengalirkan mimpi. … Aku pun masuk ke liang dan tidur dan terbangun beberapa kali sebelum menyadari inilah sifat waktu.”

Dengan hadirnya Richie mengisi celah ingatan Pop yang gelisah tentang kekejaman yang mereka alami di penjara. Ward mengikat kedua pria itu dengan kuat pada sebuah sistem yang hanya berubah secara dangkal sejak mereka di sana.

sumber gambar: Lyceum Agency

Ward secara konsisten menceritakan kisah tentang keluarga kulit hitam di pedesaan Selatan Amerika. Pada novel sebelumnya, Salvage the Bones, yang memenangkan National Book Award pada 2011, menceritakan sebuah keluarga (di kota fiksional yang sama, Bois Sauvage) yang berupaya membentengi rumah mereka ketika Badai Katrina mendekat. Memoarnya yang terbit pada 2013, Men We Raped, mengisahkan lima pemuda yang mati muda, termasuk adik lelakinya. Di dalam kisah-kisah tersebut, Ward menghidupkan ancaman, baik dari lingkungan maupun sosial, yang membahayakan komunitas kulit hitam, terutama para pemudanya. Sementara Sing, Unburied, Sing mencoba hal-hal supernatural, bahaya yang dihadapi Jojo dan keluarganya ada di mana-mana di luar dunia novel—krisis opioid yang makin parah, penahanan, kefanatikan, dan ketegangan rasial di Mississippi.

Pada akhirnya, Sing, Unburied, Sing merupakansebuah perjalanan pulang, ketika karakternya menemukan “sesuatu seperti kelegaan, sesuatu seperti ingatan, sesuatu seperti kemudahan.” Bois Sauvage dan Parchman dan Mississippi merupakan tempat tinggal dengan kebaikannya masing-masing, tetapi mereka diliputi oleh kesedihan yang tak tergoyahkan. Meditasi Ward akan kematian tidak bermaksud untuk mengungkap kebrutalan atas kematian, tetapi untuk menggambarkan bagaimana tokoh rekaannya, bagiamana orang-orang bergelut dengan sejarah. Hal ini merupakan proses yang tak akan selesai, dia menyarankan, bahkan sang arwah juga sama rentannya.

ADRIENNE GREEN mantan managing editor di The Atlantic.

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di The Atlantic dan diterjemahkan secara bebas oleh Ilham Miftahuddin (editor Mizan Publishing).

Baca juga: Resensi Buku “Jurnalistik Teori & Parktik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *