Resensi

Resensi Novel Bumi Manusia: Ketidakadilan Belanda terhadap Pribumi.

Agustus 18, 2021

Identitas Buku         

Judul               : Bumi Manusia

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara, Jakarta Timur

Tahun Terbit   : September 2019

Halaman          : 551 Halaman (20 bagian)

            Novel Bumi Manusia merupakan bagian dari Roman Tetralogi Buru yang mengambil latar belakang dari cikal bakal negara Indonesia di awal abad 19 hingga abad 20. Isi novel ini seakan-akan mengajak pembacanya untuk masuk ke era awal pergerakan nasional. Sebagai pelengkap cerita, Bumi Manusia juga menyuguhkan kisah cinta, kegamangan jiwa, dan pertarungan masyarakat yang mengawali terbentuknya Indonesia modern. Kisah percintaan seorang gadis Indo (Belanda-Pribumi), Annelies, dengan orang pribumi, Minke, menjadi daya tarik dalam novel Bumi Manusia.

            Novel ini menghadirkan Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh sebagai tokoh utama dalam cerita. Ketiga tokoh tersebut memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi pandangan ketiganya terhadap kehidupan cenderung sama. Minke adalah tokoh utama dalam cerita. Dia merupakan seorang pribumi yang memiliki pola pikir seperti orang-orang Eropa, sedangkan postur tubuhnya menggambarkan masyarakat Jawa. Di dalam tubuhnya mengalir darah para raja pulau Jawa, meski demikian ia tidak sepenuhnya dikenali sebagai orang Jawa. Pada saat itu, hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak wajar. Ada pula Annelies Mellema, seorang gadis yang diilustrasikan sangat cantik bahkan jika dibandingkan dengan Ratu Netherland kala itu, Wilhelmina. Ia adalah seorang gadis Indo, putri dari Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh sendiri merupakan istri dari Herman Mellema. Ia dikenal sebagai gundik karena menikah dengan Belanda. Pada saat itu gundik sangat dipandang rendah oleh masyarakat, namun hal itu tidak berlaku bagi Nyai Ontosoroh.

Roman bagian pertama, Bumi Manusia, mengisahkan Minke sebagai aktor utama dalam cerita tersebut. Minke adalah tokoh berdarah priyayi atau pribumi yang ingin melepaskan diri dari kepompong kejawaannya menjadi manusia yang bebas dan merdeka, yang mana ketika itu pemikiran Eropa merupakan pusat pengetahuan dan peradaban. Pribumi dipaksa untuk menuruti dan mengikuti apapun yang diperintahkan Belanda. Ketika orang-orang pribumi hanya tunduk dan pasrah dengan keadaan, tokoh Minke justru ingin keluar dari lingkaran yang membelenggu dirinya itu, “Aku tidak ingin memerintah atau diperintah, aku ingin menjadi manusia yang bebas dan merdeka di tanah ini, Bumi Manusia.” ujar Minke.

            Dalam novel ini, penulis menggambarkan kehidupan di era membibitnya pergerakan nasional dengan epik dan baik. Masyarakat pribumi yang lazimnya menjadi tuan di tanah miliknya tidak berlaku pada zaman tersebut. Segala kehidupan mengenai strata sosial, kondisi sosial, politik, hukum, dan pendidikan diatur dengan sistem Eropa. Hal itu dapat ditemukan dalam beberapa kasus, salah satunya kasus pembunuhan ayah Annelies, Herman Mellema (laki-laki berdarah Belanda). Dalam kasus tersebut,  beberapa tokoh seperti Nyai Ontosoroh (istri simpanan Hermman Mellema berdarah Jawa asli), Annalies (anak Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh), Darsam (kusir dari keluarga Mellema), Minke (laki-laki berdarah Jawa), Ah Tjong (laki-laki etnis Tionghoa), dan Maiko (perempuan etnis Tionghoa) ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan dan mengikuti proses interogasi. Perlakuan hakim dalam sidang interogasi terhadap suku pribumi sangat rendah dan hina dibandingkan perlakuannya terhadap suku lain. Selain itu, kasus perkawinan dan hak asuh anak yang menimpa Nyai Ontosoroh dan Annelies pun sangat tidak masuk akal, sebab pada saat itu hanya hukum kolonial saja yang berlaku. Apapun yang dilakukan tanpa sepengetahuan dan izin pemerintah Belanda dianggap tidak sah, termasuk pernikahan Annalies dan Minke yang tidak dianggap, serta hubungan anak dan ibu antara Annalies dan Nyai Ontosoroh.

            Pada era awal modern tersebut, pribumi dituntut untuk mengikuti segala aturan yang Belanda buat, termasuk gaya hidup. Kendati demikian, derajat pribumi masih ada di bawah orang-orang Indo dan Belanda. HBS (Hoogere Burgerschool) merupakan sekolah yang terkenal dan memiliki reputasi yang bagus pada saat itu. Sekolah tersebut setara dengan pendidikan menengah umum, yang khusus disediakan bagi orang-orang turunan Belanda, Eropa, Tionghoa, dan elite pribumi. Meski demikian, ada juga murid yang berasal dari pribumi dengan syarat ia adalah seorang turunan Priyayi, seperti Minke.

            Bumi Manusia mengilustrasikan sulitnya mendapatkan pendidikan yang tinggi dan bagus pada saat itu. Beda halnya dengan Minke, Nyai Ontosoroh atau Sanikem adalah gambaran masyarakat pribumi yang tidak pernah menginjak pendidikan. Sanikem dipaksa untuk menikah dengan Herman Mellema oleh sang Ayah demi jabatan yang dijanjikan Herman pada Ayahnya. Meskipun demikian, Sanikem bukan orang yang lemah dan bodoh, dia dengan tekun belajar segala macam ilmu pengetahuan dari Herman Mellema, suaminya yang merupakan pemilik Boerderij Buitenzorg. Dia belajar cara mengelola perusahaan, pertanian, hingga peternakan yang sangat banyak. Luas Buitenzorg digambarkan seluas 180 hektar, dan memiliki 500 pekerja. Pada saat itu Buitenzorg dikenal sebagai perusahaan besar di Wonokromo. Sampai pada akhirnya, ketika suaminya sakit mental, Nyai Ontosoroh mengelola perusahaan tersebut sendirian. Ada salah satu kutipan yang sangat menginspirasi dari tokoh Nyai Ontosoroh, yaitu “Hidup akan memberikan segala kepada orang yang pandai mencari tahu, dan mau menerima”.

            Novel ini seakan-akan membawa pembaca ke masa di mana pemerintah Hindia Belanda menguasai negeri ini. Pembaca juga akan disuguhi berbagai wawasan sejarah dengan cara yang menarik. Berbagai pemikiran yang muncul untuk memperjuangkan keadilan pribumi, sikap masyarakat, strata sosial, dan semua hal yang berkaitan dengan masa itu dibalut dengan indah melalui kisah cinta antara Annelies dan Minke. Kendati demikian, di akhir cerita kisah percintaan mereka berakhir menyedihkan.

            Novel ini bagus dan cocok dibaca oleh semua kalangan, kecuali anak-anak. Penulis banyak sekali membubuhkan pesan-pesan yang inspiratif baik secara tersirat maupun tersurat. Alur cerita juga sungguh menarik dan tidak berbelit, sehingga pembaca terus menerus ingin mengikuti sampai akhir cerita. Setiap permasalahan atau konflik diceritakan dengan jelas dan detail.

            Ada beberapa kekurangan dalam novel, seperti bahasa yang digunakan cukup tinggi, sehingga pembaca perlu berpikir keras untuk memahami alur ceritanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *