Rubrik Sastra

KENTUT

Juli 24, 2021

KENTUT
Alfaza Metini

Kabar burung datang malam hari.

Minggu, 21 Maret 2020. Di sebuah grup Whatsapp Alumni SMA Angkatan 2019 yang membicarakan reuni tadi sore tentang mempertanyakan siapa yang kentut dengan bau pepaya dan bau durian, telah dinyatakan bahwa orang yang kentutnya bau pepaya ialah Marina, sedangkan bau durian ialah Alfaza secara suara yang paling banyak lewat argumentasi yang mendukung.

*

Kentut itu. Sembunyi.

Sorot matanya yang polos, mengisyarakatkan bahasa tubuh yang lugas di atas kursi yang hampir tak gerak sedikit pun. Semacam melihat dari dekat; mati itu tanya. Karena itu, salahmu sendiri memakan pepaya dari bebuahan yang ada. Lalu, bibirnya terkatup ketika semerbak bau pepaya tercium, semacam tak ingin mengatakan kebenaran diantara kasus-kasus salah paham yang terjadi di internet. Selesailah dunia maya! Dengan garis-garis wajah yang tertahan dan wajar seperti itu, perempuan akan memalingkan muka pada siapapun yang melihatnya. Perempuan bisa saja menciptakan beberapa alasan yang masuk akal untuk membuat dirinya benar. Perempuan-perempuan yang bisa menggunakan pisau dapur untuk dijadikan kuas.

            Namanya Marina. Ketika SMA, ia merupakan gadis pintar jika dilihat dari nilainya yang selalu paling tinggi diantara banyaknya siswa di kelas. Ketika ujian, karena aku duduk di belakangnya, aku jadi sering memperhatikan mengapa ia selalu melihat tangannya dengan bahasa tubuh yang cemas, seperti menyembunyikan sesuatu dibalik seragamnya yang berlengan panjang. Aku pernah melihatnya menghafal sambil memakan pepaya ketika tak sengaja bertemu saat di kantin. Auranya sangat kuat, entah kenapa aku jadi sering melihatnya ketika ia berpejam untuk fokus dan memakan pepaya begitu lahap. Ia selalu membawa drawing book hitam yang terlalu misterius untuk dibayangkan apa yang ada di dalamnya.

            Setelah lulus, kabarnya ia kuliah mengambil jurusan seni rupa. Kami bertemu ketika rencana reuni berganti ke rumah salah satu teman, sebab tidak banyak yang datang di tempat yang sudah ditentukan. Karena banyak sekali buah-buahan yang dihidangkan, dan ternyata ada buah kesukaanku, yaitu durian. Ia Marina, masih saja memakan pepaya. Sehingga ketika ada bau pepaya dari kentut yang sembunyi, kami, aku, dan yang lain memandang marina secara spontan.

            Dia? Astaga, menyebalkan. Pemalas. Dari SMA saja sudah terlihat ketika ia pergi sekolah hanya membawa satu buku, satu pensil dan dua penghapus. Ia sama sekali tak membawa tas. Karena tidak aktif di kelas, ia sangat hemat untuk berbicara. Semaunya saja. Tapi tatapan matanya sungguh tajam, ia sering memperhatikan apapun begitu lama. Bahkan ketika waktu akan ujian saat itu, ia sering melihatku ketika menghafal. Sialan. Aku takut ketahuan coretan-coretan di tanganku yang sebetulnya contekan terbongkar. Pernah suatu saat ia menghampiri ketika di kantin, isinya apa?, tanyanya dengan menunjuk buku gambar yang sedang aku pegang. Penasaran?

            Karena isi dari buku gambar tersebut sangat personal dan privasi, aku sering melayangkan satu pertanyaan pamungkas untuk mengetahui reaksi secara langsung seperti apa jawaban dari gestur yang aku lihat. Jika mengatakan iya, aku akan menjawab rahasia dengan tersenyum, jika mengatakan tidak, aku akan bersikap dingin. Niatnya begitu. Tetapi lelaki itu, Alfaza yang sering dibicarakan oleh guru kesiswaan, ia menjawab tidak. Hah? Dan ia pergi seketika sambil memutar-mutar pensil di tangannya.

            Peristiwa tersebut menjadi terbalik, malah aku yang menjadi penasaran. Karena banyak sekali informasi dari pertemuan-pertemuan dengan teman perempuanku sewaktu SMA. Gosipnya tulisan yang tersebar di sosial medianya begitu puitis, muntah. Ia bekerja disalah satu konveksi terkemuka di kampung yang terkenal dengan sebutan Kampung Durian Ajeg. Karena daerahnya jauh sekali, rasa penasaran itu kian hilang dan terlupakan. Namun, ternyata ia datang ketika reuni SMA. Sekali lagi ia begitu menyebalkan.

            Ia yang pertama kali melihat diriku, ketika semerbak bau kentut pepaya itu tercium olehku. Astaga. Aku tidak kentut. Percayalah karena rasa penasaran yang tiba-tiba datang ketika melihatnya ada di sebuah reuni, aku mulai memperhatikannya. Dan sebetulnya, 4 detik sebelum bau itu datang, aku melihat tubuhnya bergerak sedikit dengan mengangkat bokong. Karena aku tidak mau menyalahkan siapapun secara verbal. Aku diam, dan siap menanggung risiko terpaksa salah oleh salah satu kebiasaanku sendiri yang sering memakan pepaya. Lucu sekali, melihat pandangan tajam mereka yang salah secara tidak langsung untuk memaksa aku memberikan pengakuan. Aku pun meminta maaf.

            Marina sama sekali tidak terlihat malu. Ia ternyata perempuan kuat, yang terpaksa meminta maaf bahwa sebetulnya yang kentut ialah aku. Aneh sekali kenapa bau pepaya , sedangkan aku dari tadi memakan mentimun supaya aku tidak sembelit. Sebab dari kemarin aku mondar-mandir ke toilet karena memakan durian yang terlalu matang. Tak lama kemudian setelah keadaan sudah tenang, semerbak bau durian datang. Dan ya, yang pertama memandang ialah Marina, kemudian mereka. Aku pun tersenyum. Marina terlihat cemberut. Karena aku langsung tahu bahwa yang kentut ialah dirinya.

*

Malam itu, ketika sedang ramai di grup. Karena malas, mereka tidak membukanya. Alfaza mengetik pesan kepada Marina.

“ Marina, kenapa bau durian? “

“ Kemarin aku makan bareng keluarga. “, jawabnya.

“ Bisakah kita ketemu tanpa kentut? “

“ Ayo! Kapan? “, tanyanya.

“ Penasaran? “

“ Alfaza menyebalkan. “, balasnya.

Cinta itu. Sembunyi.

2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *