Menjadi Satu Tubuh

Mengingat lagi Hakdem

Ketika menjadi peserta MPA, kita mendapat materi “Hak Demokratis Mahasiswa” (akrab dipanggil sebagai Hakdem). Dalam Hakdem, kita diberi tahu bahwa untuk memastikan mahasiswa mendapatkan hak-haknya, perlu ada organisasi sebagai alatnya. Namun, sekarang tanpa organisasi pun mahasiswa sudah bisa menjadi keren dan bisa pintar. Mereka bahkan bisa mengamalkan tri dharma perguruan tingginya melalui berbagai program yang disediakan negara, kampus, maupun improvimprov personal.

Namun, jika ditelisik lebih dalam (dan lebih jujur), semua capaian itu (mau betapa pun keren dan merakyatnya), tetap akan menjadi capaian individual. Ia terbatas hanya bagi yang punya cukup modal, keterampilan, dan keberanian. Sisanya? Para mahasiswa yang miskin duitnya, belepotan keterampilannya, dan gemetar keberaniannya? Ya, mengalir saja, menjadi partikel bebas, sambil bertaruh pada waktu, siapa tahu kelak menjadi sesuatu.

Sebab, meski mahasiswa (konon) adalah agen perubahan, kekuatan moral, dan cadangan baja bagi masyarakat Indonesia, gelar-gelar itu bukan medali perseorangan. Semua itu adalah karakter sosial yang disematkan masyarakat pada mahasiswa sebagai angkatan, sebagai sektor, sebagai sebuah organisasi – bukan individu.

Menjadi Satu Tubuh

Dalam ilmu ekonomi-politik, mahasiswa (sebagai bagian dari pemuda), bersama seluruh sektor dan kelas rakyat (wabil khusus kelas buruh dan kaum tani), adalah tenaga produktif (productive forces). Tenaga produktif adalah tenaga suatu masyarakat untuk dapat bertahan dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Perkembangan tenaga produktif tidak bisa ditelaah (apalagi kemudian diintervensi) hanya dari kerja produksi individual. Namun, disimpulkan (serta kemudian digerakkan) atas masyarakat secara komperhensif – sebagai sebuah organisasi sosial.

Contoh; buruh sebagai individu, ya, cuma akang-akang dan teteh-teteh biasa. Pagi berangkat macet-macetan, kerja, pulang macet-macetan lagi, lalu istirahat sambil cek FYP atau push-rank (dan depo bagi yang punya saldo) dalam sisa waktunya di kosan yang sempit itu. Demikian juga petani perseorangan: ngoréd, mulsa, nyébor, ngobat, atau tunggu di saung kalau sedang musim panen dan kadang-kadang mancing. Tidak ada yang istimewa.

Namun, sebagai kelas, buruh adalah tenaga produktif paling maju. Bukan hanya memproduksi barang dan nilai material, bahkan bisa mengubah sama-sekali masyarakat. Demikian juga kaum tani; jika diorganisasikan dan dipimpin di bawah keteladanan kelas buruh, mereka juga menjadi tenaga perubahan yang mahabesar, sebagaimana yang sejarah catat di Rusia dan Tiongkok. Dalam pengalamannya, perubahan itu hanya bisa terjadi jika rakyat telah berorganisasi, baik dalam organisasi massa maupun dalam organisasi kader sebagai datasemen termaju dari kelas atau sektornya.

Itu tidak hanya dilakukan rakyat, betewe. “Musuh-musuh rakyat” yang selalu dibicarakan para senior dalam forum Hima (atau dalam selasaan UKSK dan reboan ASAS) juga melakukan hal yang sama. Bahkan, berpuluh-puluh kali lebih maju dan cepat.

Belasan keluarga pemilik korporasi multinasional dan transnasional telah lama berorganisasi sebagai oligarki finansial. Lalu, memonopoli dan membagi-bagi dunia bagi diri mereka sendiri lewat perang dan penjarahan, sebagai imperialisme. Puluhan keluarga tuan tanah dan borjuasi komprador besar di Indonesia (yang dipanggil publik sebagai asing dan aseng itu) telah mengorganisasikan diri dalam belasan asosiasi dan partai-partai. Mereka mengonsolidasi klik kekuasaannya untuk bagi-bagi konsesi perkebunan, perhutanan, dan pertambangan yang di-ACC oleh pemerintah (yang isinya juga mereka-mereka lagi).

Di kampus, birokrat-birokrat juga membangun circlecircle, mengonsolidasi rekan sejawat, lalu berorganisasi dalam majelis wali amanat, senat akademik, serta rektorat. Sayangnya, hanya untuk mengeluarkan kebijakan dan perencanaan anggaran yang telah membuat kita semua repot.

Semua ini membuktikan, bahwa kita hanya bisa optimal mengembangkan diri dan membangun hari depan jika manunggal menjadi satu organisme secara lahir-batin. Itu semua tak bisa dilakukan tanpa organisasi. Sebagaimana miliaran sel berorganisasi menjadi organ, sistem, hingga satu tubuh – lahir dan bergulir dalam dialektika antar tiap elemen dalam dirinya, baik raga dan pikiran, secara material dan spiritual.

Dengan organisasi, semua inisiatif individual maju (yang dibahas di awal tulisan itu) pasti mampu menemukan bentuk terbaiknya karena organisasi bukan cuma sekumpulan orang. Sekumpulan orang yang dalam situasi biasa hanyalah gerombolan. Dengan organisasi, sekumpulan orang bisa menjadi konsolidasi potensi, sumber daya, ilmu dan pengalaman, hingga keberanian.

Dengan organisasi, kawan yang supel bisa membantu kawannya yang kuuleun, yang pandai bisa membantu yang boloho, yang sudah nyastra bisa membantu yang bacaannya masih cuma teenlit – yang maju menarik yang menengah, yang menengah menarik yang terbelakang. Tidak satu-satu, tidak sebagai individu, tapi sebagai sistem, sebagai struktur, sebagai organisasi.

Organisasi akan menjadi jalan keluar bagi berbagai masalah yang tak bisa dipecahkan sendiri. Organisasi telah, akan, dan harus terus jadi alat mahasiswa (serta rakyat) untuk belajar dan berjuang.

Dalam situasi kampus yang semakin mahal dan mengekang, organisasi mampu menjadi alat kolektif dalam memperjuangkan kepentingannya di hadapan struktur birokrasi yang kompleks dan rumit. Tanpa organisasi, mahasiswa akan memelas belas-kasihan birokrasi sebab tak memiliki daya tekan. Ingat, divided we beg, united we bargain.

Penutup

Bahasa Indonesia telah berhasil mengorganisasikan beribu suku-bangsa di kepulauan Nusantara menjadi satu nasion. Sastra Indonesia juga terbukti menjadi wasilah yang manjur dalam ikhtiar rakyat demi kedaulatan dan demokrasi hingga sekarang. Semua itu dilakukan lewat berbagai (lagi-lagi) organisasi, lembaga, dan lingkar-lingkar pujangga-cendekia. Termasuk Hima Satrasia bagi mahasiswa sastra dan bahasa Indonesia (baik Dik atau Non-Dik).

Pengalaman (allahyarham) Hima Satrasia selama puluhan tahun, dari lahir hingga bubarnya, telah menjadi bukti bahwa dengan organisasilah kita mampu sepenuhnya membaktikan bahasa dan sastra pada rakyat dan tanah air rakyat. Pembubaran Hima saat inipun tidak menggugurkan tanggungjawab (dan kebutuhan) kita sebagai mahasiswa untuk berorganisasi.

Baik-buruknya Hima Satrasia itu urusan lain (yang semoga bisa dibahas di lain waktu), tetapi tanggungjawab itu tak henti-hentinya memanggil kita. Dalam situasi kekosongan Hima, gema panggilan itu harusnya memukul gendang telinga kita lebih keras lagi, demi kita, adik-adik tingkat kita, dan hari depan bahasa dan sastra rakyat Indonesia.

Akhirul kalam, berorganisasilah!

Penulis: Alwi

Penyunting: Nabilla Putri Nurafifah

Baca juga: Bagaimana Tanggapan Wisudawan terhadap Sistem Peminjaman Toga di UPI?