One Wish Willow dan Mantra Asihan: Ketika Film Obsession Menghidupkan Kembali Mitos Pelet dalam Budaya Indonesia

Film horor psikologis Obsession (2026) karya Curry Barker menjadi salah satu tontonan yang ramai dibicarakan tahun ini. Bukan hanya karena atmosfernya yang mencekam, tetapi juga karena benda misterius bernama One Wish Willow yang menjadi pusat konflik cerita. Alih-alih mengandalkan sosok hantu atau monster sebagai sumber teror, Barker justru memanfaatkan ketakutan yang paling dekat dengan kehidupan manusia, yaitu keinginan untuk dicintai dan ketidakmampuan menerima penolakan. Melalui pendekatan tersebut, film Obsession menawarkan pengalaman horor yang berbeda. Film ini tidak hanya menghadirkan adegan-adegan menegangkan, penonton pula diajak untuk merenungkan hadirnya batas tipis antara cinta, obsesi, dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya.

One Wish Willow digambarkan sebagai sebuah ranting pohon willow yang dijual di sebuah toko kelontong. Cara kerjanya sangat sederhana,siapa pun yang memilikinya hanya perlu mematahkan ranting tersebut sambil mengucapkan satu permohonan. Permintaan itu akan langsung terkabul, tetapi pengguna hanya diberi satu kesempatan tanpa bisa membatalkan atau mengubah keinginannya. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi daya tarik sekaligus sumber malapetaka dalam cerita. Benda tersebut seolah menawarkan solusi instan atas segala persoalan, tetapi memberikan konsekuensi yang tidak pernah benar-benar dipahami oleh penggunanya.

Antara Tokoh Utama dan One Wish Willow

Cerita film ini berpusat pada tokoh bernama Bear Bailey, seorang pemuda pemalu yang bekerja di sebuah toko musik dan telah lama memendam perasaan kepada sahabatnya bernama Nikki Freeman. Bear sebenarnya memiliki beberapa kesempatan untuk menyatakan cintanya secara langsung, bahkan Nikki sempat memberikan isyarat yang membuka peluang bagi hubungan mereka. Namun, rasa takut ditolak membuat Bear memilih jalan yang lebih mudah. Ia menggunakan One Wish Willow agar Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia.

Permintaan Bear terkabul. Nikki mendadak menunjukkan kasih sayang yang begitu besar. Ia terus mencari Bear, ingin selalu berada di sisinya, bahkan rela mengorbankan apa pun demi dirinya. Pada awalnya, situasi tersebut seperti fantasi yang selama ini diimpikan Bear. Perempuan yang selama ini ia kagumi akhirnya memberikan perhatian tanpa batas kepadanya. Akan tetapi, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Perasaan cinta Nikki perlahan berubah menjadi obsesi yang tidak lagi manusiawi. Ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri, mengawasi Bear setiap saat, bersikap posesif, hingga melakukan tindakan-tindakan ekstrem yang membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri.

Hubungan Mistis yang Hadir di dalam Film

Di sinilah kekuatan Obsession sebagai film horor psikologis muncul. Horor yang dibangun bukan hanya berasal dari penampakan hantu atau kutukan One Wish Willow, melainkan dari perubahan psikologis pada karakternya. Bear perlahan menyadari bahwa perempuan yang berada di hadapannya bukan lagi Nikki yang ia kenal. Jiwa Nikki yang sebenarnya seolah terperangkap, sementara tubuhnya dikuasai oleh entitas dari permohonan yang diucapkan Bear. Film kemudian mempertanyakan siapa korban sebenarnya dalam kisah tersebut. Apakah Bear hanyalah korban dari kutukan One Wish Willow, atau justru ia menjadi penyebab penderitaan Nikki karena memaksakan kehendaknya sendiri?

Melalui konflik tersebut, Obsession menyampaikan kritik yang cukup kuat mengenai kecenderungan manusia mencari jalan pintas untuk memperoleh apa yang diinginkan, termasuk dalam urusan cinta. Bear tidak berusaha menghadapi kemungkinan ditolak atau membangun hubungan secara alami. Sebaliknya, ia memilih menyerahkan harapannya kepada sebuah benda yang diyakini mampu mengubah kenyataan.

Karena itu, konflik utama film ini sesungguhnya bukan tentang hantu atau kutukan, melainkan tentang obsesi manusia untuk mengendalikan perasaan orang lain. One Wish Willow hanyalah media yang memperlihatkan bagaimana sebuah keinginan dapat berubah menjadi bencana ketika cinta tidak lagi dibangun atas dasar kebebasan memilih. Premis tersebut mengingatkan penonton pada ungkapan klasik be careful what you wish for—berhati-hatilah dengan apa yang kamu inginkan. Setiap harapan yang dipaksakan selalu membawa konsekuensi yang tidak dapat dikendalikan.

Menariknya, konsep One Wish Willow juga memiliki kemiripan dengan berbagai tradisi mistik yang berkembang di Indonesia, khususnya praktik pelet atau mantra asihan yang dipercaya dapat menarik perhatian orang yang dicintai. Kesamaan inilah yang membuka ruang diskusi lebih luas mengenai bagaimana budaya populer dan tradisi lokal sama-sama merepresentasikan harapan manusia untuk memperoleh cinta melalui simbol-simbol yang dianggap memiliki kekuatan khusus. 

Mantra Asihan dan One Wish Willow

Fenomena inilah yang diteliti oleh Sabila Nurul Fadillah melalui penelitiannya yang berjudul “Bentuk Upaya Manusia untuk Menarik Pasangan dalam Mantra Asihan Pemikat Kejawen Desa Picungpugur, Cirebon”. Penelitian tersebut mengkaji bagaimana masyarakat Desa Picungpugur memahami dan mempraktikkan mantra asihan sebagai bagian dari tradisi budaya mereka. Dalam penelitiannya, Sabila menemukan bahwa mantra tersebut merupakan sastra lisan yang diwariskan secara turun-temurun dan dibangun melalui pola bunyi, irama, serta repetisi yang menyerupai puisi lisan sehingga dapat dihafalkan dan dilisankan.

Saat diwawancarai, Sabila mengaku ketertarikannya terhadap mantra asihan berawal dari unsur estetikanya. “Hal pertama yang bikin tertarik itu karena bahasa dan rimanya terdengar magis dalam imajinasiku. Syarat-syaratnya juga cukup rumit sehingga mantra ini terasa sangat sakral. Justru aura magis itulah yang membuatku penasaran untuk menelitinya,” ujar Sabila saat wawancara (21–22/07/2026). 

Namun, setelah melakukan penelitian lapangan, pandangannya berubah. Menurutnya, mantra tidak lagi dipahami sebagai praktik sihir yang bekerja secara instan. “Lebih tepat dimaknai sebagai bentuk doa dan ikhtiar manusia dalam menghambakan diri kepada Tuhan agar mengabulkan permintaannya,” jelasnya.

Pandangan tersebut menunjukkan adanya perbedaan penting antara One Wish Willow dan mantra asihan Cirebon. One Wish Willow dalam Obsession digambarkan mampu mengubah perasaan seseorang secara mutlak tanpa persetujuan orang tersebut. Sebaliknya, dalam hasil penelitian Sabila, mantra justru diakhiri dengan pengakuan bahwa segala daya dan kekuatan berasal dari Tuhan, sedangkan manusia hanya dapat berusaha dan berdoa.

Sabila juga menjelaskan bahwa praktik mantra asihan tidak dapat dilepaskan dari sejarah budaya Cirebon. Menurutnya, sebelum kedatangan Islam, masyarakat setempat mengenal sistem kepercayaan Kejawen yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Ketika Islam berkembang, unsur-unsur tersebut tidak sepenuhnya hilang, melainkan berasimilasi dengan nilai-nilai tauhid. “Masyarakat akhirnya memaknai mantra asihan sebagai doa yang dipanjatkan kepada Allah, tetapi masih membawa falsafah keseimbangan dari tradisi Kejawen,” katanya.

Penelitian itu bahkan mengubah cara pandang pribadinya terhadap mantra, “Dulu sebelum kuliah aku mengira mantra bekerja seperti sulap. Setelah meneliti, aku sadar mantra itu sebenarnya doa dalam bahasa daerah yang diwariskan turun-temurun. Yang harus diyakini bukan kehebatan mantranya, tetapi Allah yang mengabulkan doa,” tuturnya.

Baca juga: Losing Spark? Tulus Punya Jawabannya Lewat Lagu “Teh Hijau”

Sugesti yang Menyelimuti dan Menjadi Praktik

Dari sudut pandang psikologi, Sabila melihat adanya proses sugesti dalam praktik tersebut. Menurutnya, orang yang mengamalkan mantra biasanya juga melakukan pendekatan kepada orang yang dicintai sehingga mantra memberi rasa yakin dan percaya diri. “Kalau logikaku, mantra memberi sugesti kepada pengamalnya sehingga ia menjadi lebih percaya diri untuk mendekati orang yang dicintai. Jadi bukan sekadar membaca mantra, tetapi juga dibarengi usaha mendekati orang tersebut,” ujarnya.

Pernyataan ini menarik jika dikaitkan dengan film Obsession. Bear dalam film memilih jalan pintas karena takut ditolak, sedangkan dalam pemaknaan mantra dalam masyarakat ialah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari usaha nyata dan penyerahan diri kepada Tuhan. Keduanya sama-sama berangkat dari rasa takut kehilangan cinta, tetapi berakhir pada pemahaman yang berbeda.

Meski demikian, keberadaan penelitian ini membuktikan bahwa budaya pelet dan mantra masih memiliki tempat dalam imajinasi masyarakat Indonesia. Praktik tersebut mungkin mengalami perubahan makna, tetapi jejaknya tetap hidup dalam cerita keluarga, tradisi lisan, ritual tertentu, maupun industri hiburan. Film Obsession hanyalah versi global dari kegelisahan yang sesungguhnya juga dikenal masyarakat Indonesia: keinginan untuk dicintai, ketakutan terhadap penolakan, dan harapan bahwa ada kekuatan di luar diri manusia yang mampu mengubah nasib percintaan seseorang.

Harapan yang Menjadi Nyata Melalui Perantara

Pada akhirnya, One Wish Willow dalam film Obsession dan mantra asihan dalam tradisi masyarakat Cirebon sama-sama berangkat dari satu kebutuhan yang sangat manusiawi, yakni harapan untuk dicintai dan diterima oleh orang yang diinginkan. Dalam film, One Wish Willow menjadi simbol yang mendorong Bear memiliki keyakinan untuk mendekati Nikki, meskipun keberanian itu kemudian berubah menjadi obsesi yang menghilangkan kebebasan orang lain.

Sementara itu, berdasarkan penelitian Sabila, mantra asihan tidak semata dipahami sebagai praktik sihir, melainkan seperti bentuk doa, ikhtiar, dan sugesti yang mampu memberi ketenangan serta rasa percaya diri kepada pengamalnya, dengan tetap meyakini bahwa hasil akhirnya berada dalam kehendak Tuhan. Kesamaan inilah yang menunjukkan bahwa baik dalam dunia fiksi maupun dalam tradisi budaya Indonesia, manusia selalu berusaha mengatasi ketidakpastian cinta melalui simbol-simbol harapan yang diyakininya.

Di Indonesia, praktik pelet, mantra pengasihan, dan berbagai tradisi lisan lainnya masih menjadi bagian dari warisan budaya yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Mereka meyakininya sebagai kekuatan supranatural, sementara yang lain memahaminya sebagai doa, sugesti, atau ikhtiar spiritual.

Dengan demikian, Obsession tidak hanya menghadirkan kisah horor tentang One Wish Willow, tetapi juga membuka ruang untuk memahami bahwa di balik setiap mantra, ritual, atau benda yang dipercaya membawa cinta—sesungguhnya terdapat harapan manusia untuk memperoleh kasih sayang, keberanian untuk mendekati orang yang dicintai, serta keyakinan bahwa setiap usaha tetap memerlukan ketulusan, proses, dan kehendak Tuhan. 

Penulis: Aulia Nur Latifah

Editor: Aliyah Iffa

Baca juga: Mahasiswa PBSI Universitas Pasundan Angkat Kritik Sosial Lewat Pagelaran Perisai Langit Talaga