Mungkin aku sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati ‘tuk apapun, siapapun
Dan mungkin aku memang sedang tak bisa
Tak bisa jatuh cinta
Membuka hati ‘tuk apapun, siapapun
Teh hijau ini yang di tanganku
Di tengah seram sedih yang menghantamku, uh
Lepaskan, lepas kemurunganku
Hijau kembali jiwa gersangku
Ambillah sayang sebanyak waktu yang kau perlu
Pernahkah kamu merasa hidup tiba-tiba terasa kosong? Hari-hari tetap berjalan seperti biasa, tetapi entah mengapa semuanya terasa hambar. Bangun pagi, beraktivitas, bertemu banyak orang, lalu pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah kehilangan spark yang dulu pernah membuat hari-harimu menjadi lebih seru. Kamu tidak sedang ingin melakukan apa pun, tidak juga merasa benar-benar sedih, hanya… lelah.
Jika pernah, mungkin saja kamu tidak merasakannya sendirian.
Belakangan ini, algoritma media sosial dipenuhi potongan lagu Teh Hijau karya Tulus. Menariknya, lagu yang sama justru melahirkan cerita yang berbeda-beda. Ada yang menjadikannya latar foto untuk menggambarkan vibes “ketenangan”, ada yang mengaitkannya dengan kelelahan bekerja. Ada pula yang merasa lagu itu sedang berbicara tentang dirinya yang perlahan kehilangan semangat hidup.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin satu lagu dapat terasa begitu personal bagi banyak orang sekaligus?
Membaca Sebuah Lagu
Barangkali, jawabannya bukan terletak pada lagunya, melainkan pada pendengarnya.
Dalam kajian sastra, lirik lagu dapat dipandang sebagai bentuk wacana puisi. Hal tersebut karena lirik lagu memanfaatkan bahasa yang padat makna, penuh simbol, serta mengedepankan nilai estetik (Setiawati, 2025). Artinya, lagu tidak hanya dinikmati melalui melodi, tetapi juga dapat “dibaca” sebagaimana kita membaca puisi.
Cara pandang ini sejalan dengan teori resepsi sastra yang dikembangkan Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser. Teori tersebut menjelaskan bahwa makna sebuah karya sastra tidak sepenuhnya berada di tangan pengarang. Makna justru lahir melalui perjumpaan antara teks dengan pembacanya. Pengalaman hidup, latar belakang, hingga kondisi emosional seseorang akan memengaruhi cara ia memahami sebuah karya.
Dengan kata lain, tidak ada satu tafsir yang mutlak.
Mungkin itulah sebabnya banyak yang merasa relate di media sosial setelah mendengarkan Teh Hijau. Ada yang mendengarnya sebagai kisah tentang perasaan yang sedang tidak menyukai apapun dan/atau siapapun sebagaimana terdapat pada lirik lagu. Ada yang menghubungkan dengan rasa jenuh menjalani rutinitas, dan ada yang sekadar merasa lagu ini sangat menggambarkan hidup yang “tenang”. Bukan karena makna lagunya berubah, melainkan karena setiap pendengar datang membawa cerita hidup yang berbeda.
Mengapa Harus “Teh Hijau”?
Kalau dipikir-pikir, mengapa harus teh hijau? Mengapa bukan kopi, cokelat hangat, atau hal lainnya?
Boleh jadi, jawabannya memang hanya diketahui oleh Tulus. Namun, justru di situlah menariknya sebuah karya sastra. Kita tidak selalu dituntut menemukan “jawaban yang benar”, melainkan diajak membaca kemungkinan-kemungkinan makna yang ditawarkan.
Dalam semiotika Ferdinand de Saussure, sebuah kata dipahami sebagai tanda yang terdiri atas dua bagian: penanda (signifier) dan petanda (signified). Penandanya adalah bunyi atau kata yang kita dengar, sedangkan petandanya adalah konsep yang muncul di benak kita. Karena konsep itu dibentuk oleh pengalaman dan budaya, satu tanda dapat memunculkan makna yang berbeda pada setiap orang.
Itulah mengapa “teh hijau” tidak berhenti sebagai nama sebuah minuman.
Bagi sebagian orang, ia menghadirkan bayangan tentang ketenangan. Bagi yang lain, ia mengingatkan pada rasa yang tidak langsung manis, tetapi perlahan dapat dinikmati. Ada pula yang melihatnya sebagai simbol jeda dan tidak terburu-buru. Semua pembacaan itu mungkin saja muncul, sebab simbol memang bekerja dengan membuka ruang tafsir, bukan saklek pada satu makna.
Baca Juga: Langit Terakhir Ibu: Memutar Kembali Kenangan dalam Bingkai Kehilangan
Tulus Tidak Sedang Menyembuhkan Siapa Pun
Yang membuat Teh Hijau terasa berbeda adalah kenyataan bahwa lagu ini tidak datang sebagai solusi. Tidak menyuruh kita segera healing, tidak mendesak kita untuk move on, tidak pula memaksa kita terburu-buru. Ia hanya menemani.
Alih-alih memosisikan kehampaan sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan, Teh Hijau justru membuka ruang bagi pendengar. Pendengar dapat memaknai kehampaan tersebut sebagai bagian dari siklus hidup. Melalui pilihan diksi yang sederhana dan reflektif, Tulus menghadirkan narasi bahwa proses pulih setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Di tengah media sosial yang dipenuhi konten, seperti “cara keluar dari burnout” hingga “how to fix quarter-life crisis”. Teh Hijau justru mengambil jalan yang berlawanan, lagu ini tidak menawarkan jawaban atas kegelisahan pendengarnya. Melalui lagu ini, Tulus menunjukkan perasaan kehilangan semangat bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan atau dianggap sebagai kegagalan. Selain itu, ia juga bercerita tentang penerimaan diri saat berada di fase hampa, lelah secara emosional, atau mati rasa.
Dan mungkin, pengakuan sederhana itulah yang selama ini dicari banyak orang.
Outro
Barangkali, itulah alasan mengapa Teh Hijau begitu mudah menemukan tempat di hati banyak pendengarnya. Bukan karena semua orang memiliki pengalaman yang sama, melainkan karena lagu ini memberi ruang bagi setiap orang untuk membawa kisahnya. Dalam perspektif resepsi sastra, perbedaan tafsir bukanlah sebuah kekeliruan. Sebaliknya, keberagaman tafsir menunjukkan bahwa sebuah karya masih hidup dan terus berdialog dengan pembacanya.
Penulis: Azila Fitria Ramadhani
Editor: Valda Febrianti




