Bandung, 19 Juli 2026 — Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pasundan mementaskan teater Perisai Langit Talaga, adaptasi novel Wisanggeni: Sang Buronan karya Seno Gumira Ajidarma, di Padepokan Seni Mayang Sunda, Minggu (19/7). Bagian dari pagelaran sastra Bandakala Nilawarsa (kelas B PBSI Unpas) ini merefleksikan ketamakan kekuasaan, keretakan keluarga, dan pentingnya integritas.

Novel Wisanggeni: Sang Buronan yang Lahir Kembali di Atas Panggung
Naskah Perisai Langit Talaga ditulis oleh Khairun Nisya bersama Septina Dwiyanti dengan mengadaptasi novel Wisanggeni: Sang Buronan. Meski mengadaptasi karya Seno Gumira Ajidarma, cerita dikembangkan agar lebih relevan dengan kondisi sosial dan politik Indonesia saat ini.
Khairun Nisya mengungkapkan bahwa ketertarikannya terhadap karya Seno Gumira Ajidarma berawal dari cara sang penulis menghadirkan realitas sosial melalui karya-karyanya.
“Saya sangat mengapresiasi karya Seno Gumira Ajidarma karena dari karya-karyanya beliau menyuguhkan realitas sosial. Selain sebagai penulis, beliau juga seorang jurnalis dan fotografer sehingga memahami kondisi sosial politik. Dalam novel ini, saya tertarik dengan tokoh Wisanggeni karena menunjukkan bahwa ketamakan dan kerakusan akan menghancurkan orang yang menciptakannya,” ujarnya.
Ia mengaku tantangan terbesar dalam proses adaptasi adalah menghubungkan konflik dalam novel dengan realitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
“Kami tidak mungkin mengambil isi novel secara utuh. Kesulitannya justru bagaimana menghubungkannya dengan kondisi sosial politik Indonesia saat ini,” ujarnya.
Proses penulisan naskah dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Sebelum mulai menulis, kedua penulis membaca novel hingga selesai, menyusun garis besar cerita, kemudian membagi enam babak penulisan agar proses kreatif berjalan lebih efektif.
Di Balik Layar Teater Perisai Langit Talaga
Sutradara teater Perisai Langit Talaga, Kharen Febia Akhira, menjelaskan bahwa pagelaran dipersiapkan selama tiga bulan dengan melibatkan 27 aktor dan 10 partisipan (volunteer) yang turut mendukung jalannya produksi.
“Pagelaran disiapkan selama tiga bulan. Semoga apa yang kami pagelarkan dapat diterima oleh penonton,” tuturnya.
Selama masa persiapan, berbagai proses dilakukan, mulai dari latihan pemeranan, penyusunan artistik, hingga penyesuaian teknis pementasan. Menurut Kharen, tantangan terbesar justru terletak pada menyatukan komitmen seluruh anggota tim yang memiliki kesibukan dan karakter berbeda.
“Kendalanya ada pada ego masing-masing. Kadang ada yang sulit latihan karena sakit atau ada acara keluarga. Sebagai sutradara saya hanya bisa terus mengingatkan. Alhamdulillah semuanya tetap memiliki keinginan agar pagelaran ini sukses,” ujarnya.
Sementara itu, Dwiki Daffa selaku pemeran utama mengaku tantangan utama dalam memerankan tokohnya terletak pada adegan laga dan pengolahan emosi agar karakter yang dibawakan terasa meyakinkan di atas panggung.
“Kesulitannya, pertama pada adegan berantem, kedua dari cara mengolah emosinya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa proses pemilihan pemeran dilakukan dengan menyesuaikan karakter masing-masing aktor agar setiap tokoh dapat diperankan secara maksimal. Meski sebelumnya telah dipercaya dalam tugas film pendek (tugas di semester sebelumnya), ia tetap mengikuti proses casting bersama pemeran lainnya sebelum akhirnya terpilih memerankan karakter tokoh utama.
Refleksi tentang Kuasa, Keluarga, dan Harapan

Melalui tokoh utama, Perisai Langit Talaga menghadirkan kisah seorang anak yang terpinggirkan (tidak dianggap oleh ayahnya, sang raja), tetapi tetap mempertahankan integritasnya di tengah perebutan kekuasaan. Alur cerita tersebut merefleksikan berbagai persoalan sosial, mulai dari keretakan hubungan dalam keluarga, ambisi terhadap kekuasaan, hingga lahirnya harapan dari mereka yang selama ini berada di pinggiran.
Pementasan dibawakan dalam bahasa Sunda dan Indonesia dengan memadukan unsur dramatik, artistik panggung, tata cahaya, musik, serta kostum yang memperkuat suasana setiap adegan. Selain menghadirkan hiburan, pertunjukan ini juga menyisipkan nilai-nilai agama, budaya, dan heroisme sebagai pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Kharen berharap pesan tersebut dapat diterima oleh masyarakat melalui pengalaman menyaksikan pertunjukan.
“Ketika kita memiliki keinginan, kita pasti bisa melampauinya meskipun dalam prosesnya akan ada banyak kendala,” ujarnya.
Bekal Mahasiswa Menjadi Pendidik
Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pasundan, Setiawan, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pagelaran sastra tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran mahasiswa.
“Ini semua ditujukan untuk mempertontonkan karya artistik. Ini adalah investasi terbaik untuk mahasiswa sebagai bekal menjadi guru,” ungkapnya.
Ketika lampu panggung perlahan dipadamkan dan tepuk tangan penonton bergema, Perisai Langit Talaga meninggalkan lebih dari sekadar pertunjukan. Kisah tentang kuasa, keluarga, dan integritas yang dibawanya menjadi pengingat bahwa karya sastra akan selalu menemukan cara baru untuk berbicara kepada zamannya.
Penulis: Azila Fitria Ramadhani
Editor: Gizvah Wanda
Baca juga: Losing Spark? Tulus Punya Jawabannya Lewat Lagu “Teh Hijau”




