Bank Tugas Satrasia

Drama Nyonya-Nyonya Karya Wisran Hadi: Kacamata Warisan Minangkabau

Desember 11, 2019

Oleh: Iin Haryani Subadri

Kenapa Minangkabau? Hal ini dilatarbelakangi oleh sang penulis Wisran Hadi yang berkelahiran Minang. Wisran Hadi ialah seorang seniman dan budayawan Indonesia. Dalam sepak terjangnya, ia telah memenangkan sayembara Penulisan Naskah Sadiwara Indonesia (DKJ): Gaung (1975), Ring (1976), Cindra Mata (1977), dan lainnya. Hal ini pun menjadi dasar untuk tidak meragukan kemampuannya dalam penulisan naskah drama.

Kali ini naskah “Nyonya-Nyonya” hadir dan telah menjadi data penelitian oleh Astri Apriliani dan kawan-kawannya (2019).

Sedikit cerita, Nyonya memiliki suami (Datuk) yang sedang sakit kanker lidah dan kini dirawat di rumah sakit. Suatu hari, saat hujan, seorang penjual barang antik tengah berteduh di teras rumah Nyonya. Takut-takut gunjingan tetangga, Nyonya berusaha mengusir Tuan penjual barang antik. Lalu, Tuan pun dengan jagonya menawar untuk membeli teras rumah Nyonya.

Lain waktu, keponakan A berusaha memeras uang kepada Nyonya dengan tuduhan bahwa hasil penjualan tanah Datuk telah diambil oleh Nyonya. Lalu diberikanlah hasil jual teras tadi agar meluruskan tuduhan itu. Kemudian datanglah Keponakan A, B, dan C dengan semua akal bulusnya. Mereka berusaha memeras Nyonya untuk kepentingan mereka.

Segala cara dilakukan, ancaman verbal juga diiringi dengan benda-benda tajam di tangan. Dengan rasa takut, akhirnya Nyonya menyerahkan hartanya. Keponakan A, B, dan C menggunakan uang itu untuk membayar biaya perawatan Datuk karena menginginkan nama baik di antara kerabatnya.

Lalu, Tuan penjual pun terus menerobos rumah Nyonya dan membeli kursi, meja, untuk alasan agar dia bisa tetap tinggal di rumah Nyonya. Dengan segala rayuan dan tawaran Tuan penjual, Nyonya pun luluh sampai-sampai ia menjual dirinya sendiri. Pada saat itu, Istri Tuan, dan para keponakan pun menyaksikan perselingkuhan tersebut. Pada akhir cerita, Datuk dikabarkan meninggal akibat sakit yang dideritanya.

Dalam kebudayaan Minangkabau, tak asing lagi mengenai warisan yang diturunkan dari garis ibu, berarti bahwa anak laki-laki dan perempuan termasuk keluarga, klan, dan perkauman ibunya bukan dari ayahnya melainkan dari ibu, mamak, dan bibinya yang menerima warisan harta benda. Warisan yang dimaksud ialah tanah pusaka. “Nyonya-nyonya” memiliki cara berbeda untuk para keponakan “mencuri” warisan tanah pusaka dengan akal bulusnya memperdaya Nyonya.

Secara tak sadar, Nyonya telah dirampas harta warisannya oleh para keponakan melalui ancaman-ancaman tersebut. Alur yang klise, Nyonya menjual harta bendanya pada Tuan, kemudian hasil penjualan diambil para keponakan untuk kepentingan mereka dan meninggalkan jejak buruk bagi Nyonya.

Dalam pandangan matrilineal, warisan seperti gelar dan harta itu dapat dibagi-bagi, tetapi tanah pusaka tidak dapat dibagi. Tanah pusaka harus dijaga tidak boleh sama sekali dijual atau dibagi-bagi pada siapa pun, sekalipun ponakan. Dalam kasus Nyonya-nyonya pun demikian, tanah yang dijual ialah tanah pusaka milik Datuk yang seharusnya menjadi milik Nyonya dan dijual untuk kebutuhan pengobatannya. Akan tetapi, para keponakan malah menagih warisan dengan kelicikannya untuk mendapatkan harta tersebut.

Selain itu, “”Nyonya-nyonya” berhasil mengaduk perasaan pembaca dengan segala prasangka Nyonya terhadap setiap tokoh. Kesedihan, kecurigaan, kekecewaan, Wisran ramu menjadi cerita yang apik. Membekas kebahagiaan Nyonya ketika jatuh hati pada Tuan dapat terselipkan di antara segala ketakutannya.

Harta, sebab datang dan pergi semua perasaan itu. Ini pun berlaku pada cerita Nyonya dan Tuan.

Seluruh permasalahan di atas tidak mungkin tidak mengandung nilai. Pesan dan saran selalu kita raih dalam karya apa pun.

Naskah ini mengantarkan suatu rahasia kehidupan yang krusial, tetapi dianggap lumrah. Tindakan penipuan, tindakan penghasutan, perselingkuhan, penelantaran keluarga, dan pengancaman adalah tanda rendahnya moralitas para tokoh “Nyonya-Nyonya”.

Uang, materi yang sangat berharga, tetapi darinyalah moralitas seseorang teruji.

Materialistis para tokoh sangat ditekankan pada naskah drama “Nyonya-Nyonya”. Oleh sebab itu, warisan menjadi perbincangan utama dalam cerita. Kelicikan, keserakahan, dan keegoisan pun mendorong nilai kebaikan dan kejujuran lenyap.

Memiliki kemampuan atau keahlian pun hendaknya digunakan pada jalan yang benar, bukan “mencari kesempatan dalam kesempitan”. Hal ini menghilangkan rasa percaya setiap tokoh kepada tokoh lain. Saling memberi ancaman dan prasangka membawa pada malapetaka yang sebenarnya nyata terlihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *