Puisi “Menara Kaca dan Niskala” menggambarkan ketimpangan sosial yang tajam antara kemewahan kekuasaan dan penderitaan rakyat kecil.

Menara Kaca dan Niskala

Karya: Silvy Ragil Ananda

gedung-gedung tinggi itu menusuk langit
dengan angkuh
menatap remeh gubuk-gubuk reyot
yang mengerang dibawah kakinya
disana, kertas-kertas berharga tengah berpesta pora
sementara di trotoar, perut-perut kosong bernyanyi duka

keadilan seringkali tertidur di atas kursi empuk
ia hanya terbangun,
jika aroma emas menyentuh hidungnya

suara rakyat hanyalah bisikan diantara gebalau badai
lelap ditelan riuh mesin-mesin kekuasaan
yang tak berdampak signifikan bagi orang-orang jalanan

pada mereka
pada debu-debu di sela kota
pada entitas kecil negara
pada kaum niskala

Baca juga: Puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”