Setelah Hima Satrasia Bubar, Lalu Apa?

Kabar duka itu akhirnya tiba juga. Pekan lalu, seorang kawan mengabarkan Hima Satrasia dinyatakan bubar dan akan menjadi dua entitas baru. Bagi saya, dan juga kawan-kawan lain yang pernah menghabiskan masa muda di organisasi ini, kenyataan tersebut tentu memilukan. Organisasi di mana kita senantiasa tegar melangkah untuk terus bertumbuh dan melanjutkan roda sejarah kini sudah tiada.

Saya berpikir sejenak, bagaimana mungkin organisasi berusia 62 tahun ini bisa bubar? Bukankah teratai putih—yang adalah logo Hima Satrasia—adalah tanaman tangguh yang bisa tetap tumbuh subur sekalipun di air keruh dan berlumpur? Yang bahkan sanggup mekar di lingkungan paling kotor sekalipun?

Sejarah sudah membuktikannya. Organisasi ini pernah melewati masa-masa paling kelam dan “keruh”: pembantaian politik 1965, represi Orde Baru, krisis moneter dan kerusuhan 1998, hingga yang terbaru pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan tatanan sosial. Dalam situasi-situasi krisis tersebut, kita bertahan, kita melawan, kita tetap ada.

Jika menengok hasil analisis dari Tim Ad Hoc, ada dua alasan utama yang menjadikan Hima Satrasia direkomendasikan untuk bubar: demi kelancaran administrasi dan penyesuaian dengan struktur kampus yang sudah menghapus departemen. Terdengar logis, namun (jika kembali mengacu ke paragraf saya sebelumnya) terlalu dangkal dan terburu-buru untuk dijadikan sebuah pembenaran. Dalam kepala saya, jika kita semua berani jujur, alasan-alasan teknis yang disampaikan Tim Ad Hoc hanyalah pemicu. Masalah utamanya justru terletak pada krisis relevansi yang sudah menahun dan tidak terbenahi.

Dunia dan Hima Satrasia Hari Ini

Kita tidak bisa menutup mata bahwa kampus hari ini telah bertransformasi menjadi korporasi akademik di bawah payung PTN-BH. Pendidikan beralih rupa dari hak warga negara menjadi komoditas yang mahal harganya. Ketika Uang Kuliah Tunggal (UKT) terus merangkak naik, mahasiswa dipaksa masuk ke dalam logika pasar. Mereka berhitung, “Jika saya menghabiskan waktu di Hima, apakah modal kuliah saya akan kembali?” Jika jawabannya tidak, meninggalkan organisasi adalah keputusan ekonomi yang bijak. Sistem kampus yang neoliberal ini memaksa mahasiswa memilih antara idealisme organisasi atau bertahan hidup secara finansial.

Namun, menyalahkan sistem kampus yang kapitalistik saja tidak cukup. Kita harus berani menatap cermin retak organisasi ini. Melakukan otokritik pada diri sendiri. Di satu sisi, kita tidak pernah absen mengkritik penindasan. Tapi di sisi yang lain, kita melanggengkan budaya kerja yang eksploitatif terhadap anggota sendiri.

Baca Juga: Ketika Teman Mengalami Kekerasan Seksual: Panduan Sikap yang Aman dan Berpihak pada Korban – Literat

Organisasi mahasiswa seperti Hima Satrasia tak lebih dari sekadar Event Organizer (EO) berbalut jas almamater. Semua orang di dalamnya sibuk membuat acara, menyusun proposal, dan mengejar target program kerja. Semua orang dipaksa berlari, sampai-sampai kurang tidur, lupa makan, dan mengorbankan kewarasan demi menuntaskan puluhan bahkan ratusan program kerja yang entah untuk apa.

Kita terjebak dalam ritual menggugurkan kewajiban. Tugas organisasi dianggap selesai hanya karena anggaran berhasil dihabiskan dan laporan pertanggungjawaban (LPJ) setebal bantal rampung disusun. Tumpukan kertas itu kemudian dipuja sebagai artefak keberhasilan, padahal isinya nyaris nihil dampak.

Mengurus organisasi yang nirempati (tidak peka) pada kondisi anggotanya menjadi beban tambahan yang menyiksa. Maraknya penyakit fisik seperti gerd dan anemia di kalangan pengurus adalah bukti bahwa organisasi ini sudah toxic. Ketika data menunjukkan ratusan mahasiswa tidak berminat menjadi pengurus, itu bukan karena mereka malas, manja, atau lembek. Itu karena Hima Satrasia tidak lagi menjadi ruang aman untuk bertumbuh.

Jelas sudah, ketika dunia bergerak cepat dan kampus semakin menindas, Hima Satrasia gagap memberikan respon. Hima Satrasia justru terbawa arus sebagai penindas baru. Jika Hima Satrasia bubar, anggaplah itu sebagai konsekuensi logis karena telah gagal menjadi antitesis dari situasi yang sedang kita hadapi.

Ketika organisasi dipecah menjadi dua, ketika masalah yang sebelumnya dibahas tidak dituntaskan, kita hanya akan membelah segunung masalah besar menjadi dua gunung masalah baru. Tapi, jika Hima Satrasia ”hidup” kembali, itu hanya akan menambah penderitaan bagi para pengurus di dalamnya.

Oleh karenanya, saya tidak ingin berlarut-larut membahas apakah Hima Satrasia mesti kembali dihidupkan atau bubar saja dan membuat dua entitas baru. Bagi saya hasilnya sama saja, atau mungkin jauh lebih buruk. Saya ingin menggeser pembahasan ke tawaran langkah yang bisa dilakukan untuk merespon zaman hari ini.

Melambat sebagai Strategi Perlawanan

Diawali dengan memikirkan ulang cara kita bernapas. Di dunia yang serba cepat ini, mulailah untuk melambat.

Melambat di sini bukan berarti malas, pasif, atau berhenti bergerak. Melambat adalah sebuah strategi perlawanan yang sadar. Selama ini, kita terjebak dalam kecepatan semu. Kita merasa harus selalu membuat banyak acara, harus selalu ada proker setiap bulan, harus selalu berlari cepat agar tidak ketinggalan. Padahal, kecepatan itulah yang memburamkan pandangan kita. Kita tidak melihat di mana sekarang tengah berada, kita tidak melihat siapa orang lain yang tertinggal dan memerlukan bantuan. Kita tidak melihat wajah lelah mahasiswa lain, kita tidak melihat isu sosial yang tersembunyi padahal begitu dekat, kita hanya melihat jalan lurus menuju garis finis semu bernama “Laporan Pertanggungjawaban”.

Organisasi hari ini, terlebih Hima Satrasia, harus berani mengerem. Hanya dalam kecepatan rendah kita bisa benar-benar mengamati. Organisasi masa depan tidak butuh 100 program kerja. Ia butuh mengambil jeda, menengok kanan-kiri, dan bertanya: “Apa yang sebenarnya dibutuhkan kawan-kawanku? Lingkunganku?” Dengan melambat, kita menangkap realitas yang sering luput dari pandangan dan bahasan.

Sangat mungkin, melambat menjadi jalan satu-satunya untuk menjadi relevan. Relevansi tidak lahir dari kesibukan, tapi dari kedalaman. Hima Satrasia dianggap “tidak relevan” hari ini karena ia sibuk dengan agendanya sendiri dan lupa siapa yang mestinya mereka layani. Dengan melambat, kita punya waktu untuk meriset, membaca, berimajinasi. Dengan melambat, kita lebih sadar dalam setiap langkah dan keputusan yang akan diambil.

Melambat juga adalah kunci untuk memicu dampak. Dampak yang besar seringkali lahir dari hal-hal yang sunyi dan tekun, bukan dari kegiatan sekali jadi kemudian hilang tak berbekas. Organisasi yang melambat akan fokus pada dampak jangka panjang, ketimbang jumlah kegiatan. Lebih baik satu diskusi kecil yang mengubah cara pandang sepuluh orang seumur hidup, daripada satu festival besar yang hanya menyisakan kelelahan dan trauma bagi setiap panitianya.

Baca Juga: Merespons Pembubaran Hima Satrasia – Literat

Jika ingin melangkah lebih jauh, filosofi melambat ini harus diterjemahkan ke dalam gerakan politik alternatif yang nyata. Mengkritik program “pengabdian” seperti P2M yang selama ini (sialnya) kita agung-agungkan. Apakah datang ke desa selama beberapa hari, membuat pasar thrifting, dan mengajar anak-anak sebentar benar-benar membawa perubahan? Atau itu hanya cara kita memuaskan ego sebagai agent of change sambil berwisata kemiskinan?

Gerakan alternatif menuntut kita untuk tidak lagi menjadi—dalam bahasa Sok Hok Gie—koboi  yang datang sebagai pahlawan kemudian pergi. Bayangkan jika pola program kerjanya diubah total. Tidak perlu membawa ratusan mahasiswa yang hanya akan merepotkan warga. Cukup kirim tim kecil yang solid untuk tinggal bersama (live-in) dalam waktu lama, meriset masalah sampah atau literasi di sana, dan mencari solusi bersama warga. Inilah bentuk perlawanan yang sesungguhnya. Kita menolak menjadi mesin event organizer dan kembali menjadi manusia yang peka terhadap penderitaan orang lain.

Tawaran Lain: Struktur yang Melingkar dan Disiplin Pengarsipan

Perubahan pola pikir ini harus diikuti dengan perombakan struktur. Struktur organisasi mahasiswa yang ada sekarang—ketua di atas, anggota di bawah—adalah warisan feodal yang sudah basi. Model hierarki seperti tangga ini sangat rentan disusupi kepentingan kekuasaan. Kita perlu belajar dari semangat komunitas-komunitas alternatif di Bandung. Di sana, ada kekuatan yang tumbuh dari komunitas-komunitas kecil yang cair, setara, dan tidak kaku.

Organisasi harus membuang struktur piramida dan menggantinya dengan struktur melingkar. Dalam lingkaran, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua orang duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Garis komandonya bukan perintah, melainkan koordinasi. Ini akan membunuh budaya senioritas yang sering kali menjadi racun. Himpunan bukan lagi menara gading, tapi menjadi hub atau penghubung.

Sebab, yang menjadi penyebab kegagalan organisasi atau bahkan gerakan sosial bukan hanya perkara ketidakadaan—baik kehadiran atau isi kepala—pemimpin. Tapi ketidakjelasan agenda jangka panjang.

Kita tahu mahasiswa Satrasia punya minat yang gila-gilaan (yang terkadang tidak sesuai dengan studi yang mereka ambil). Ada yang jago membuat film, fotografi jalanan, bikin zine, sampai diskusi filsafat atau literasi. Himpunan harus menjadi ruang temu bagi mereka semua. Jangan paksa mahasiswa pelari kalcer untuk jadi panitia seminar kaku. Biarkan mereka berkreasi dan liar dengan caranya. Dari sinilah kemudian setiap lingkaran akan saling beririsan, berkolaborasi dalam proyek kreatif yang melampaui batas imajinasi masing-masing kita.

Kemudian, jangan lupakan soal merawat ingatan. Selama ini kita salah kaprah soal arsip. Kita pikir arsip itu cuma soal menyimpan piala tua di lemari atau LPJ di rak sampai berdebu. Kita harus memulai gerakan pengarsipan radikal. Arsip harus dimaknai sebagai transfer ilmu dan pengalaman nyata, bukan sekadar romantisme masa lalu yang seringkali diglorifikasi.

Kita sebetulnya punya langgap kerja yakni mencatat. Tugas selanjutnya adalah menekuninya dan membangun mekanisme untuk mengarsipkannya.

Kawan-kawan mahasiswa—baik yang bertahan sampai akhir maupun yang memilih berhenti di tengah jalan—harus diajak menuliskan apa yang sebenarnya mereka dapatkan. Mungkin ada yang berpengalaman sebagai fasilitator agar rapat tidak lama dan menjenuhkan, merancang pesan komunikasi dan pembangun jaringan, atau manajemen krisis saat acara berantakan. Jika alumni mau terlibat, bahkan mereka bisa memberi perpektif tambahan dengan memaasukan pengalaman mereka ketika sudah berada di luar kampus.

Baca Juga: Hima Satrasia Bubar, Alumni Siapkan Penggantinya – Literat

Ilmu-ilmu seperti itulah yang harus diarsipkan sebagai bekal bagi siapapun yang menjalankan roda organisasi. Para pengurus tidak butuh dongeng kejayaan masa lalu. Kita pun pasti muak mendengarnya. Kini, mereka butuh panduan praktis untuk menjadi mahasiswa yang berdaya, terlebih menjadi manusia yang berguna. Jika Hima Satrasia bisa mewariskan kumpulan arsip ini, maka sekecil apapun langkah yang kita lakukan tidak akan sia-sia. Kita meninggalkan warisan intelektual yang jauh lebih berharga daripada sekadar inventaris barang. Bahkan ketika sebuah organisasi harus bubar, kita akan membuat lebih banyak organisasi yang lebih berdaya.

Hima Satrasia boleh mati secara administratif, namanya boleh hilang dari SK Rektor. Namun, dengan mengubah cara bernapas menjadi lebih lambat, lebih melingkar, dan lebih sadar arsip, roh pengetahuannya akan terus hidup. Ia akan menyusup ke dalam kepala-kepala orang-orang yang bergiat di dalamnya, membekali dengan cara menghadapi dunia yang semakin gila ini.

Satrasia! Hidup!
Hidup! Satrasia!

Penulis: Sastra Wijaya (Bukan Nama Sebenarnya)
Editor: Rifa Nabila