Interupsi

FILM TILIK: MENYIKAPI BERITA DARI MULUT BERKEKUATAN 3000 TENAGA KUDA

Agustus 22, 2020

(SPOILER ALERT)

Malam-malam, teman perempuan saya mengunggah sebuah cerita di Whatsapp-nya. Ia membagikan kesan dirinya pada sebuah tautan Youtube yang mengarahkan pada sebuah film pendek berjudul Tillik. Lantas, tidak lama setelah menyelesaikan tugas akhir, saya membuka tautan tersebut. Mencermati deskripsi film, sekedar mencari tahu gambaran awal film tersebut. Hal yang menarik perhatian saya bukan karena film ini disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo atau gara-gara diproduksi oleh Ravacana Film kemudian menjuarai Piala Maya 2018 kategori film pendek terpilih, melainkan ialah film ini berlatar di Yogya (jawa)—kota yang ingin saya jamahi. Untuk itu saya klik dan tonton dengan seksama.

Film ini bercerita tentang budaya tilik (menjenguk) di suatu pedesaan yang kemudian dibumbui julidan khas ibu-ibu. Cerita diawali ketika diketahui istri Pak Lurah mengalami sakit-sakitan sehingga mesti dirawat di rumah sakit. Yu Ning yang mendapat kabar dari Dian, mengajak bu-ibu yang lain untuk menjenguk “tilik” Bu Lurah ke rumah sakit. Kultur pedesaan yang masih kental dengan rasa kekeluargaan, serombongan ibu-ibu pergi untuk mejenguk Bu Lurah menggunakan “gatrok” atau dalam bahasa Indonesia ialah truk. Namanya ibu-ibu, kalau gak nyalain lampu sen ke kiri tapi beloknya ke kanan, ya ghibah sampai berbusa. Ghibah ini yang menjadikan film ini hidup.

Dian tahu hal tersebut lantaran sebelumnya tengah digosipkan dekat dengan Fikri yang merupakan anak lurah. Sepanjang perjalanan, isi truk tidak diam barang sejenak. Sekalipun senyap, hanya beberapa saat ketika truk memasuki jalan kota. Itupun hanya mengecilkan volume bicaranya saja. Yang tak lepas dari jeratan mulut mereka ialah kembang desa bernama Dian tersebut yang dianggap sering menggoda suami orang.

Mula itulah yang menyebabkan letupan-letupan julid dimulai. Obrolan truk secara tidak langsung diberi judul Dian dan segala ini-itunya. Bu Tejo yang nyerocos dengan kecepatan 3 kali mobil sport itu, membeberkan segala hal yang diketahuinnya mengenai Dian. Bahkan menyangka Dian memakai guna-guna agar bisa menarik perhatian pria dan menjadi simpanan om-om. Walau begitu, julidan awal bukan berasal dari babangus Bu Tejo, melainkan tokoh bu-ibu bertudung marun yang sebelumnya bertanya pada Bu Tejo, “emangnya Fikri sama Dian beneran pacaran ya, Bu?” (dalam bahasa jawa). Setelah itu terjadi, saya menyaksikan langsung umpan Ante Rebic yang kemudian dieksekusi Ibrahimovic dengan tendangan macam gledeknya. BAMM!!! Gosip brutal itu dimulai.

Tuduhan itu lantas disanggah oleh Yu Ning yang merupakan kerabat jauh Dian. Yu Ning lantas mencoba bertahan atas segala hal buruk tentang Dian. Yu Ning terlihat memaksa dirinya untuk tidak mempercayai apa yang diceritakan seisi mobil, yang saat itu dikomandoi oleh Bu Tejo.

Hal yang membuat diriku melepas hormon endorfin saat itu ialah ketika adegan truk ditilang. Darisana saya percaya bahwa the power of emak-emak tidak bisa dihentikan bahkan oleh seorang polisi. Polisi si pencari keuntungan itu, tak berdaya menghadapi serangan emak-emak yang ngamuk hingga akhirnya truk melanjutkan perjalanan tanpa penilangan.

Selain the power of emak-emak, hal lain yang paling nendang ialah akting natural para bu-ibu khususnya peran Bu Tejo yang bikin saya pengen nyumpal mulutnya pake karpet masjid. Terakhir ending cerita yang membuat saya menjadi kaum anjay—baiknya sih tanggapi sendiri.

Film keluaran 2018 ini, tentu berhasil menarik emosi saya. Meskipun 80% latar tempat film ini di atas truk. Saya dapat menarik kesimpulan bahwa ada beberapa karakter orang dalam menyikapi berita. Terlepas penggorengan berita tersebut dikepalai Bu Tejo yang kebetulan memiliki posisi di tengah-tengah kap truk, tentu sangat pas terdengar ke seluruh isi truk.

Pertama, ada kelompok orang yang diam saja menanggapi berita, dalam hal ini pasrah terhadap keadaan. Mau obrolan semenarik apapun, ya bodo amat, sing penting apa yang maksud pribadi terpenuhi. Karakter ini mirip-mirip tokoh yang wajahnya tidak nampak seluruhnya di layar gambar atau ibu-ibu di samping yang mabuk perjalanan.

Kedua,  kelompok yang ketika mendengar suatu berita meledak dengan brutal, masif menggembar-gemborkan berita yang baru ia dapat dengan campuran overthinking. Hal ini diwakili oleh peran Bu Tejo yang langsung menggoreng informasi tentang Dian yang diumpan lambung oleh tokoh-tokoh lain, misalnya Bu Tri.

Ketiga, kelompok orang yang mencoba menolak, tetapi sedikit mempercayai berita tersebut. Hal ini diwakili oleh tokoh Yu Ning yang menolak segala pemberitaan buruk terkait Dian. Dia mencoba untuk selalu berpikiran positif, walau ragu-ragu karena terlihat sedikit termakan omongan bu-ibu.

Menonton film ini, saya sedikit melihat realitas masyarakat Indonesia yang berada di tengah derasnya digitalisasi, khususnya yang terjadi di daerah-daerah. Masyarakat cenderung menerima maupun menolak sebuah berita. Hal ini tentu dipengaruhi oleh ideologi maupun sikap politis yang hadir dari diri penerima berita tersebut. Masyarakat yang dalam posisi antara paham dan tidak, dengan polos menyikapi hal-hal yang didapatnya dari internet.

Peran Bu Tejo yang nyerocos tanpa ampun, menggiring opini buruk tentang Dian yang ia temukan di media sosial. Ditimpali lagi dengan umpan lambung dari Bu Tri dan ibu-ibu lain, yang ditemukannya di media sosial maupun dari Ibu-ibu lain. Hal ini didasari karena Dian bukan siapa-siapa baginya. Mencoba mengimbau bahwa kehadiran Dian hanyalah akan meresahkan.

Berbeda halnya dengan tokoh Yu Ning yang cenderung menolak dan mengingatkan agar bu-ibu tidak termakan omongan dan bahkan menyebut omongan Bu Tejo ialah fitnah, walaupun mungkin dirinya sependapat dengan informasi yang dibawa Bu Tejo karena di sisi lain Yu Ning ada hubungan kekerabatan dengan Dian.

Baca juga: UPI, Sejarah dan Riwayatmu Kini: Dari Isola Ke Bumi Siliwangi (Bagian Pertama)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *