Rubrik Sastra

Kuat, Kila

Agustus 28, 2020

            Hal yang sulit dilalui di dunia ini adalah terpuruk tanpa ada satu pun yang siap mendengarkan.

***

            Masa-masa itu adalah yang tersulit untuk Kila. Sendiri saja menikmati segala hal yang datang ke hidupnya. Tidak, Kila tidak hidup sebatang kara atau hidup bagai di penjara. Ia punya banyak sekali orang di sekelilingnya. Keluarga, teman, hewan peliharaan, Kila punya semuanya. Namun, tetap saja, kesendirian itu terasa nyata, keramaian seolah hanya ilusi di matanya. Dunianya terasa gelap dan ia tidak pernah merasa baik-baik saja.

            “Kila, bangun! Cepat bangun, lihat Ayahmu, cepat bangun!”

            Teriakan ibunya dari kamar depan mengejutkan Kila. Ia terperanjat dari kasurnya, kemudian berlari ke kamar ibunya, disusul adik dan kakaknya yang sama terkejutnya. Ayahnya yang beberapa jam lalu mengeluh masuk angin, tampak terkapar lesu di kasurnya, memuntahkan cairan pekat yang tak berbau.

            Kakaknya bergegas lari mencari bantuan, membangunkan tetangga dengan gusar. Adiknya menjerit keras, berkali-kali meneriakkan kata “Ayah”, berharap ayahnya mendengar dan membuka matanya yang terpejam. Sementara itu, Kila hanya mematung di pinggiran kasur, menatap ibunya yang banjir air mata, beralih melihat adiknya yang meraung sambil memeluk tubuh ayahnya.

            Tak lama, tetangga berdatangan, bersama seorang dokter yang akhirnya menyatakan ayahnya sudah tak bernapas, ruhnya sudah tidak membersamai jasadnya lagi. Semua orang di ruangan menjerit, meraung-raung, air mata tumpah di mana-mana. Kila mengambil ponsel dan mengabari saudara-saudaranya yang lain tentang kematian ayahnya. Lalu kembali terpaku di sudut ruangan, memperhatikan lalu-lalang orang-orang yang mengurus jenazah ayahnya.

            Hari itu, ayahnya telah tiba di hari terakhir hidup di dunia. Kematian bukan hal yang asing bagi Kila, pun saat melihat keluarganya menangis tanpa henti, terasa wajar untuknya. Siapa yang tidak menangis saat ditinggalkan? Terlebih, sosok ayah begitu penting untuk keluarganya. Semua orang bergantung pada ayah. Hari itu, semuanya bersedih, semuanya mendapat pelukan hangat, diberi sederet kalimat penyemangat, diperhatikan, dihibur, kecuali Kila.

            “Kila, yang kuat, ya. Harus bisa kuat supaya Ibumu juga kuat.”

            “Kakakmu pasti syok sekali, Kila tenangkan Kakak, ya.”

            “Hibur Adik-adik, ya. Mereka pasti merasa putus asa.”

            Entah karena ia merasa tegar atau orang-orang memang menganggapnya kuat, Kila tidak mendapat pelukan hangat hari itu, meski banyak orang memeluknya. Ia juga tidak mendengar seorang pun menyemangatinya, meski puluhan pesan masuk ke ponselnya, menyatakan dukacita dan hiburan yang selayaknya.

            Kila melihat ibunya, dikerumuni banyak sekali manusia, menangis bersama, berpelukan, saling menguatkan. Beralih melihat kakak-kakaknya, bersandar di bahu teman-teman mereka. Mendapat usapan nyaman yang tampak menenangkan. Dan, adik-adiknya yang dihibur saudara sebaya, sibuk saling mengobrol di dalam kamar, saudara-saudaranya pasti mencoba mengalihkan perhatian adiknya dari kematian ayahnya, berharap dapat menenangkan hati adiknya.

            Lalu menoleh ke sisi kanan-kirinya, ia sendirian di samping jenazah ayahnya, terus melafalkan doa, sambil berharap seseorang mengerti perasaannya kemudian memeluknya hangat, menganggapnya lemah.

            Semua orang mendapat porsinya masing-masing. Semuanya bersedih dengan wajar dan nyaman. Diperlakukan dengan semestinya, sebagaimana mereka memang butuh diperlakukan demikian.

            Ia mau merangkul ibunya, tetapi sudah terlalu banyak orang di sana. Minta dirangkul kakaknya, tentu saja ia malu. Mau mengusap punggung adiknya, sudah didahului sepupu yang lain. Hingga akhirnya ia hanya bersandar di tembok, sambil terus mengusap jenazah ayahnya, mencoba mencari kekuatan di sana.

            “Ayo, Kila. Waktunya Ayah dimakamkan.” Pamannya menarik lengan Kila pelan, sambil menepuk-nepuk bahunya lembut.

            Keluarganya mulai berkerumun, mengikuti keranda ayahnya yang digotong ke masjid, lalu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Beberapa detik, Kila hanya mampu menatap nanar, menahan debaran jantungnya yang terasa sesak, menyakitkan. Semuanya berbondong-bondong memapah ibu dan adik-adiknya, membisikkan kalimat-kalimat yang menguatkan.

            Bahkan hingga prosesi pemakaman selesai, Kila tetap sendirian, meski banyak sekali yang ingin ia tumpahkan. Air mata, keluhan, sumpah serapah, kekecewaan, semua terpendam di dasar hatinya yang paling dalam. Setidaknya, ia harus memastikan ibunya baik-baik saja dan adik-adiknya tidak larut dalam duka. Semua orang memercayainya untuk siaga di samping keluarganya.

            Hari itu, Kila hanya merasa sedih sendirian. Bukan karena yang lainnya tidak bersedih, tetapi lihatlah, ia benar-benar sendirian. Tidak bisa menangis bersama atau menumpahkan kesedihannya dengan kata-kata. Termenung saja sepanjang hari, hingga akhirnya tertidur pulas dan memimpikan ayahnya di sana.

            Menurut Kila, bukan kehilangan ayahnya yang paling menyakitkan. Namun, bagaimana kemudian ia menjalani hari penuh kesedihan itu tanpa satu pun yang ada di sisinya, mau mendengar semua keluhannya, mau memeluknya sambil membisikkan, “Semua akan baik-baik saja.” Bagi Kila, hal yang sulit dilalui di dunia ini adalah terpuruk tanpa ada satu pun yang siap mendengarkan.

            Lalu di dalam mimpinya malam itu, ayahnya berkata, “Bagus sekali, Kila. Kamu telah melakukan yang terbaik, meski dengan mengorbankan rasa sedihmu itu. Terima kasih, Kila. Ayah tenang sekali, sekarang.”

Baca juga: Waktu Bergerak, Kondisi Berjarak Kita Berhenti Berjalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *