Kabar Literat

“12 JAM NYAJAK”: SEBUAH PERAYAAN HARI BAHASA IBU INTERNASIONAL

Februari 25, 2021

Minggu (21/02), Hima Pensatrada menggelar kegiatan “12 Jam Nyajak” untuk memeringati Hari Bahasa Ibu Internasional. Acara ini menampilkan pembacaan sajak dari pukul 06.00 hingga 18.00.

Kegiatan ini disiarkan langsung di akun YouTube Hima Pensatrada dan ditonton lebih dari 800 kali. “12 Jam Nyajak” melibatkan lebih dari 50 peserta, di mana setiap peserta menampilkan 1-3 sajak berbahasa Sunda, sehingga lebih dari 200 sajak ditampilkan dalam acara ini. Apresiasi dilakukan dengan cara dibacakan, dimusikalisasikan, dan didramatisasikan.

Menurut Ulul Azmi, Ketua Bidang Minat dan Bakat Hima Pensatrada, kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebudayaan modern yang mulai meninggalkan bahasa ibu mereka, bahasa Sunda, untuk diajarkan pada anak-anak.

“Melihat bahasa ibu kami, yaitu bahasa Sunda, orang tua zaman sekarang lebih terfokus mengajarkan hal-hal modern. Mereka tidak mengajarkan bahasa ibu mereka, bahasa Sunda, tetapi langsung mengajarkan bahasa Indonesia. Bukan tidak boleh, tetapi alangkah baiknya kita mengajarkan dan melestarikan bahasa ibu dahulu, terlebih di Jawa Barat yang umumnya menggunakan bahasa Sunda. Jika bukan kita, siapa lagi yang mempunyai kepekaan terhadap isu-isu seperti ini.”

Selain itu, pemilihan sajak digunakan sebagai media edukasi dan kampanye mengenai bahasa ibu. “Sajak di kalangan muda-mudi itu masih terbilang familier dan banyak yang menyukainya. Maka dari itu, kami memilih media sajak sebagai perantara dengan menggunakan bahasa Sunda seutuhnya.”

Tujuan diadakannya kegiatan ini untuk mensosialisasikan kepada masyarakat akan pentingnya bahasa ibu. Cara yang mereka lakukan untuk mengedukasi dan mengampanyekan bahasa ibu, yaitu dengan menampilkan sajak 12 jam menggunakan bahasa Sunda sepenuhnya.

Akhir kata ia berharap masyarakat Sunda bisa lebih bangga melestarikan bahasanya sendiri. “Setidaknya dari “12 jam Nyajak” ini, khalayak berpikir masih ada anak muda yang begitu mencintai dan bangga dengan bahasa ibu mereka.”

Baca juga: Menengok LDKM Daring Pertama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *