Kabar Literat

Peringatan Hari Tani Nasional 61 : Kesatuan dan Persatuan Dari Massa Untuk Mewujudkan Tujuan Bersama.

September 28, 2021

Sabtu (25/09/2021), dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional (HTN) yang diselenggarakan di Pangalengan Kabupaten Bandung, beberapa organisasi ikut serta merayakan hari Tani Nasional tahun ini. Kegiatan peringatan hari Tani Nasional ini dilaksanakan di Pangalengan. Beberapa rangkaian kegiatan dilaksanakan, seperti penampilan-penampilan seni yang ditampilkan oleh mahasiswa, juga beberapa orasi bebas dari anggota organisasi yang ikut serta merayakan hari Tani Nasional tahun ini.

Acara dimulai oleh sambutan Sekjen AGRA Pangalengan, Maman Supratman. Beliau mengingatkan soal kesatuan dan persatuan dari masa yang bisa mewujudkan tujuan-tujuan bersama.

“Yang kita butuhkan sekarang itu kekuatan masa, jika masanya kompak dan solid, segala apa pun yang kita inginkan akan tercapai. Dan yang kita perlukan ialah persatuan dan kesatuan.” Ujarnya ketika memberikan sambutan.

Acara berlanjut dengan beberapa penampilan mahasiswa yang ikut serta merayakan hari Tani Nasional tahun ini, seperti penampilan-penampilan pembacaan puisi, pembacaan syair sunda, dan lain sebagainya. Dari satu penampilan ke penampilan lainnya, ada orasi bebas dan sambutan dari masyarakat yang hadir pada acara tersebut, seperti orasi dari kawan-kawan mahasiswa dan orasi dari buruh tani, serta ada beberapa sambutan dari perwakilan pengurus AGRA, Seruni, dan warga sekitar.

Setelah beberapa sambutan dan orasi, acara berlanjut ke pembacaan sikap dan tuntunan yang diwakili oleh Bung Aji Gunawan selaku dewan pimpinan cabang FMN Bandung Raya. Adapun isi dari sikap dan tuntutan pada peringatan hari Tani Nasional tahun ini adalah:

  1. Berikan jaminan dan perlindungan atas tanah yang telah digarap, menuntut pemerintah untuk menindak tegas siapa pun atau pihak mana pun yang akan mengganggu dan merampas tanah garapan.
  2. Menuntut pemerintah untuk memberikan jaminan dan perlindungan atas harga-harga seluruh hasil produksi pertanian, padi, dan holtikultura, serta melindungi dan mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok rakyat.
  3. Mendesak pemerintah, terutama pemerintah kabupaten untuk menertibkan, mengamankan, dan/atau membubarkan segala program-program pinjaman liar di perdesaan yang semakin mencekik kaum tani akibat praktik peribaan yang sangat tinggi.
  4. Hentikan politisasi Covid-19, berikan jaminan kemuliaan ekonomi rakyat, berikan jaminan kesehatan gratis dengan fasilitas yang layak, baik bagi korban Covid-19 maupun penyakit bukan Covid-19, serta berikan jaminan atas hak-hak demokratis rakyat lainnya selama pandemi.
  5. Turunkan harga pupuk, obat-obatan, dan seluruh sarana produksi pertanian bagi kaum tani.
  6. Hentikan perampasan upah buruh dengan alasan Covid-19.
  7. Hentikan semua tindakan kekerasan, pembullyan, penangkapan, kriminalisasi terhadap rakyat yang berjuang, serta seluruh gerakan rakyat dengan alasan apa pun.
  8. Turunkan harga kebutuhan pokok rakyat.

Itulah kedelapan poin tuntutan juga pernyataan sikap dari peringatan hari Tani Nasional tahun ini.

Setelah pembacaan poin tuntutan dan pernyataan sikap itu, peringatan hari Tani dilanjutkan dengan dance OBR dari Seruni yang diikuti semua orang di sana, dan acara peringatan pada siang itu pun selesai.

Setelah acara peringatan hari Tani di Lapang Sampalan selesai, acara berlanjut dengan diskusi bersama buruh tani dari organisasi AGRA dan Seruni. Acara diskusi ini dibagi menjadi 2 kelompok diskusi. Untuk laki-laki bersama Bung Tarman dan perempuan bersama Ceu Wiwin.

Beberapa mahasiswa yang terlibat dalam diskusi santai sore itu. Bertempatkan di rumah Ceu Yati, Bung Tarman banyak menyinggung soal persatuan rakyat yang bisa mengubah keadaan sekarang. “Perjuangan bisa berhasil jika rakyat dan pemuda mahasiswanya bersatu.” Ujarnya.

Tujuan dari diskusi sore itu agar kita bisa mengetahui kebutuhan buruh tani di sana, serta kita bisa bertukar pendapat dengan buruh tani mengenai keadaan tani hari ini. Diskusi berlangsung santai dan seru dari pukul 14.30-17.00.

Di lain sisi, ada juga diskusi beberapa mahasiswi di rumah Ceu Wiwin bersama buruh tani dari organisasi Seruni.  Seruni adalah organisasi buruh tani perempuan yang melawan. Diskusi yang berlangsung di rumah salah satu tani yang akrab disapa ‘Ceu Wiwin’ berlangsung cair dan kondusif.

“Perempuan-perempuan yang apalagi kawan-kawan mahasiswa, ibu kan petani, mahasiswa kan tau tentang materi. Bagaimana mengolah materi-materi dan praktiknya untuk bisa memperkuat organisasi perempuan, untuk bagaimana melawan pihak pemerintah anu teu pro ka rakyat.” Ujar Ceu Yati yang membersamai diskusi sore itu. Diskusi yang dilaksanakan dimaksudkan agar antara perempuan yang tergabung dalam Seruni dapat bertukar argumen dan berbagi informasi mengenai kondisi objektif di lapangan serta berbagi keresahan yang dirasakan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *