Kesadaran bahwa perubahan lahir dari karya berjuta-juta massa, bukan sekadar hasil kerja segelintir mahasiswa, menjadi sumbu pembahasan yang menarik dalam diskusi Selasaan yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Studi Kemasyarakatan (UKSK) UPI pada 22 September 2026 di Taman Barretty. Menelanjangi topik “Agent of Change itu Palsu, Bersatulah Menangkan Perjuangan Rakyat!”, forum ini menghadirkan Alifa Nur Azmi dari Hima Harasia dan Fakhir Zayyan dari Dikbatrasia sebagai pemantik diskusi.

Istilah Agent of Change menjadi sangat populer dan kerap dijadikan alat pelabelan politik secara halus serta membentuk narasi yang melekat pada pergerakan mahasiswa. Dampaknya, hal tersebut melahirkan eksklusivitas yang memisahkan mahasiswa dari perjuangan rakyat dan membutakan empati terhadap masalah akar rumput.
“Kalau melihat dari program kampus, ketika mahasiswa turun ke lapangan, apa yang diselesaikan pada akhirnya tidak menyentuh akar permasalahan. Hanya datang, membuat program, beres, lalu pulang,” ucap Regina…
Gerakan mahasiswa di Indonesia selalu bertransformasi sesuai konteks sosial-politik zamannya. Dalam diskusi tersebut, tumbangnya Orde Baru dinilai bukan sebagai kemenangan tunggal mahasiswa, melainkan hasil interaksi kondisi sosial, ekonomi, politik, dan hubungan mahasiswa dengan masyarakat. Selama ini, publik cenderung menyederhanakan sejarah Reformasi 1998. Padahal, meski aksi dan demonstrasi mahasiswa memicu momentum runtuhnya rezim, faktor-faktor eksternal lain tetap memegang peranan krusial.
Namun, runtuhnya rezim Soeharto bukanlah kemenangan tunggal mahasiswa. Faktor utamanya adalah krisis ekonomi, praktik korupsi kroni, serta hilangnya dukungan dari Amerika Serikat. Dengan kata lain, reformasi terjadi akibat krisis yang sudah tidak tertahankan oleh rezim, di mana gerakan mahasiswa berperan sebagai faktor pendorong akhir.
Baca juga: Ini Beberapa Hal Penting yang Harus Kamu Ketahui tentang Anne Carson, Peraih Nobel Sastra 2026
Kritik Peran Agent of Change dalam Gerakan Mahasiswa
Dalam diskusi disebutkan bahwa label Agent of Change dapat membutakan gerakan sekaligus mereduksi pemaknaan aksi mahasiswa. Akibatnya, timbul rasa segan terhadap mahasiswa dari kampus ternama yang merasa “paling agent of change“. Pada akhirnya, gerakan mahasiswa justru terjebak sibuk membandingkan eksklusivisme kelas dengan massa aksi yang tidak mengenakan almamater.
Pelabelan tersebut hanyalah pemahaman yang tidak sesuai dengan kondisi objektif yang terjadi saat ini. Sebutan serupa seperti Iron Stock ataupun Sosial Control hanya memberikan kekhawatiran soal propaganda rezim yang menjadikan mahasiswa tidak pernah melakukan kritik otokritik untuk menghancurkan feodalisme dan dominasi imperialisme.
“Karena, ya, sebetulnya perubahan itu tidak akan tercapai jika diwakilkan. Perubahan itu sejatinya adalah karya berjuta-juta massa. Caranya itu dengan melakukan 3M, yakni membangkitkan, mengorganisir, dan juga menggerakkan…” tambah Alifa.
Di sisi lain, setiap usaha masih terus dilakukan untuk mengambil peran dalam mengorganisir diri dalam organisasi massa yang tetap mengabdi kepada rakyat. Sebab, mereka merupakan kaum intelektual progresif yang melebur dengan rakyat tertindas demi mewujudkan Demokrasi Nasional.
“Terkait program tiga sama, betul bahwa program tersebut untuk menyadarkan kita. Bagaimana bisa sadar jika kita belum bisa merasakan apa yang mereka alami? Oleh sebab itu, bentuk dari kita terjun langsung pada program ini adalah cara menyelami kerja keras para tani yang hasilnya tidak sepadan dengan keringat dan waktu yang dihabiskan. Selain itu, kita juga mendapatkan pendidikan, sudut pandang, dan fakta lapangan baru dari kaum tani,” jelas Fakhir.
Bekal dari perguruan tinggi sejatinya adalah modal untuk mengabdi kepada rakyat, bukan sekadar pamer wawasan sebagai Agent of Change. Melalui aksi nyata bersama buruh, tani, dan kaum tertindas, kemenangan rakyat dapat direnggut kembali.
Penulis: Risma Yuniar
Editor: Gizvah Wanda




