Rubrik Sastra

KOTA API

Oktober 2, 2020

Oleh Iin Haryani Subadri

Di saat mentari menyinari rumput-rumput ilalang di negeri ini. Akar-akarnya tertimbun tanah dan lumpur, terinjak para pejuang yang lari sana-sini, menjadi saksi suara dentuman besi raksasa yang disuapi mesiu dan api. Suara derikan kereta kayu dan ringkikan kuda yang mengangkat kakinya berputar-putar menghindar dari sayatan pedang. Lancipnya bambu runcing menjadi kelas barisan depan, pemain jarak dekat, bergoyang kanan-kiri, melesakkan dan menembus daging, jantung, dan hati. Barisan belakang, senjata-senjata bermoncong panjang dan panah runcing siap terbang dan menancap pada tiap-tiap raga mereka. Barak-barak yang telah dibangun kokoh, sudah mendiami tempatnya, berlindung, dan bersembunyi.

Langkah-langkah kaki menghentakkan tanah menggugah debu-debu tebal, berteman dengan keringat yang mengguyur di sekujur badan. Hari semakin terik hingga mata mereka dipenuhi dengan linang air mata saking menusuknya. Bibir mereka tak hentinya bergumam, mencari keberanian untuk menyerang dan menolong sesama kawannya. Satu tergoyah, mereka memapahnya dengan tertatih-tatih. Hilang rasa lelah dan letih.

Dari atas langit mereka hanya semut-semut kecil yang berlarian. Mungkin saja sedang bersapa ria, menanyakan kabar dan berpesta. Debu-debu mulai menghalangi pandangan mereka menjelma kabut tebal yang membutakan. Bagaimana mereka bisa melihat satu sama lain? Mereka memiliki ikatan takdir, jiwa mereka satu. Mereka mengenali karibnya, rekan seperjuangannya dan hanya menghunuskan pedang pada musuhnya.

Debu kasar kini menjadi penghalang penglihatan mereka. Tidak bisa menyalakan api, hanya untuk memenangkan musuh untuk menangkap mereka. Tidak boleh bersuara, jika tak ingin tertangkap. Seketika hening dan tegang. Saling mengirim sinyal dalam keheningan.

“Sial! Keadaan semakin kacau, di mana Jenderal?” Salah seorang pemuda dalam keributan berteriak kencang menghabiskan suaranya agar terdengar oleh seluruh pejuang. Suasana kalut, Ahmad berlarian kencang mencari pemimpin kebanggaannya. Hutan bambu di sekitar menjadi tempat pelarian paling aman dan berbahaya. Hanya orang sigap dan gesit yang mampu menghindari bambu-bambu dan lari secepat kilat.

“Jika ada yang bersama Jenderal, segera kembali!”

Pria yang kini telah bersimbah darah pun mulai menyusuri tempat itu dan menajamkan pandangannya. Mata itu berurat dan memerah, penuh dengan emosi dan kesiagaan. Tangannya bergetar kuat memegang pedang yang tak lagi bersih mengkilap. Nafasnya memburu, ia tarik dan hempaskan dengan tempo terburu-buru. Matanya berkedip setiap melihat mayat sekawanannya tergeletak, menerima, menyesal, dan menghitung. Berapa dari mereka yang telah mengorbankan nyawanya untuk negeri ini. Hari ini.

“Mundur!”

Ditiuplah terompet tanda berhenti. Ia memastikan tak ada musuh menghampiri dan berjalan mundur. Matanya tetap berjaga, takut-takut ada serangan mendadak.

***

“Jumlah kita berkurang setengahnya. Mulai sekarang strategi kita menghabisi mereka secara perlahan. Buat mereka kekurangan pasukan atau alihkan ke tempat yang berbeda-beda.”

Sang Jenderal sedang menggertakkan giginya, mengatup bibirnya rapat-rapat, dan matanya tertunduk fokus pada satu titik peta. Peta itu adalah wilayah kebanggaan negeri ini, kota asri nan segar. Kota yang menjadi masa lalu dan masa depan bagi rakyatnya. Sang jenderal mungkin berpikir, tindakan apa yang bagusnya ia lakukan. Sekali tebas.

“Kita tidak akan memberikan keindahan untuk mereka tindas. Kita harus relakan salah satunya hancur untuk mengusir mereka, menghilangkan minat mereka terhadap negeri ini. Jangan biarkan mereka menghancurkan dan memanfaatkan kota ini untuk keserakahan mereka. Ahmad, tolong evakuasi para warga dengan tenang jam 9 malam.”

“Baiklah.” Serempak para pejuang.

Jam malam, denting bel besar di pusat kota telah nyaring bunyinya. Para warga pun tidur. Di sekitar gedung tempat penyimpanan amunisi perang milik musuh, ada yang sedang melangkah pelan. Berjalan dengan punggung sedikit membungkuk, memeluk bekal untuk hidup di medan pengungsian. Mereka naik gunung dengan rute yang tidak biasa, bukan jalan setapak yang sering dilalui warga. Tapi pinggiran hutan yang penuh dengan hamparan daun, batu, dan rumput yang berduri.

“Jendral, di saat genting seperti ini, apa yang kau pikirkan?”

“Entah, aku berhitung. Berapa banyak dunia kehilangan anak-anaknya. Mereka dan kita sama ingin menyelamatkan negerinya. Mereka berseragam coklat yang senada dengan tanah. Kita yang berpakaian seadanya karena kekurangan dana.”

“Repot-repot memikirkan hal itu. Malam ini seharusnya lebih tenang. Kita tidak akan menyerang dan merekapun pasti sedang berpesta.”

Bintang-bintang lebih menarik dia untuk membuka matanya lebar-lebar. Esok malam, akan lebih terang dan kemungkinan ia tak bisa menyapa bintang. Hari-hari seperti ini, tidur tidak akan memberikan tenaga lebih. Gairah yang mereka milikilah yang mampu menggerakan lengannya untuk menggenggam kebebasan. Menguntai tali yang telah lama membekuk spirit perjuangan para pemuda. Mereka harap di masa depan hari-hari akan lebih cerah. Surga-surga yang terinjak lebih terawat, tidak lagi menjadi medan perang. Tempat-tempat seperti itu akan melahirkan senyuman yang lebih tulus dibandingkan mereka memandangnya saat ini, begitu pedih.

“Sebelum Jenderal pergi, nyanyikan lagu tua itu. Aku merasa bodoh, tidak tahu alasan Jenderal memilih misi itu.”

“Ini mungkin lagu terakhirku. Hanya kau yang tahu. Sudah seharusnya yang tua lebih dulu pergi. Biar yang muda memberikan harapan kepada anak-anak dan berjuang.”

“Aku belum cukup belajar dan otakku tidak secerdik sang Jenderal ini.” Mereka tertawa, menatap sendu. Meramal satu hari esok, entah gagal maupun berhasil.

***

Operasi siap. Beberapa anggota telah menyelundupkan bom di sekeliling gedung yang memiliki utas panjang agar dapat dinyalakan dari jarak jauh. Di beberapa titik yang agak jauh pun ditempatkan dinamit yang akan otomatis meledak ketika waktunya tiba. Penyamaran mereka berhasil, akibat ulah pekerja penjajah yang gila harta, diberikannya dua emas batang. Ia pun tanpa tahu apa-apa berhasil menyelundupkan beberapa anggota.

“Apa mereka melihat pergerakan kami?” Tanya sang Jenderal.

“Tidak.” Ungkap sang Ajudan.

Semua anggota berkumpul. Mereka pejuang tanpa nama. Tanpa pengakuan dan alasan untuk berkorban. Hanya ingin negerinya merdeka, melewati batas hingga mencapai peradaban. Tanpa dikekang atau mengekang, bebas.

Di gedung-gedung itu banyak orang berseragam coklat lalu-lalang. Para pria berjas dan bertongkat berdiri tegak di tempatnya lalu orang-orang berseragam itu mengangkat senapannya menyamping kanan tanda hormat pada atasannya. Orang-orang berjas itu otak liciknya. Mereka hanya mengangkat bibirnya satu arah sambil menyeringai. Berbicara pendek yang langsung ditanggapi dengan tegas para kaum berseragam. Jalan mereka rapi, kaki kanan serempak, kaki kiri serempak. Begitupun tangannya yang berlawan, berbeda dengan robot. Tetapi sama saja, mereka adalah robot bagi para komandan mereka.

Malam ini akan menjadi malam yang panjang. Anak-anak bahkan para keturunan ke-7 pun akan merasakannya. Bahwa malam ini begitu meriah akan perasaan mereka. Mereka korbankan tanah-tanah, sawah-sawah, kebun-kebun, ruko-ruko, dan rumah-rumah yang menjadi penghidupan mereka. Tak peduli dengan hari esok, mereka yakin di tempat lain, akan ada yang lebih peduli terhadap keadaan mereka.

“Saat tengah malam, pastikan semua orang di tempatnya. Jangan ada yang tertinggal, jangan ada yang meninggalkan jejak, baik dari pihak kita maupun mereka.” Tegas sang Jenderal.

Semua orang yang berkumpul pun mengangguk setuju. Mereka bergegas secara kelompok menuju pos penugasan mereka. Mereka cukup tua kisaran 50-60 tahunan. Dalam perjalanan mereka, terucaplah untaian perpisahan satu sama lain, saling memaafkan, saling berharap di kehidupan lain mereka akan bertemu kembali, saling tersenyum hangat.

“Sudah seharusnya kita di sini untuk membakar tubuh kita dan menghadap Tuhan. Satu hari kemarin sangat tenang, siapapun menjadi manusia biasa. Bekerja. Bercakap-cakap dengan tetangga, menanam padi, beternak, bukan berkumpul di meja lusuh dengan pikiran yang kusut. Setelah ini, siap tak siap pun kita akan menghadapi segala penghakiman Ilahi.”

Tanpa menunggu lama, terdengarlah dentuman hebat di pusat kota asri itu. Beberapa orang berlarian dengan tubuhnya dipenuhi api, beberapa orang telah menjadi daging gosong. Bangunan-bangunan itu terlihat indah dari kejauhan, saking terang cahayanya. Satu kota bagai siang hari, padahal saat itu tengah malam. Orang-orang di kejauhan hanya menatap, penasaran apa yang terjadi. Beberapa jam kemudian semua hening, dan genting. Bersamanya tangis dan mata yang kehilangan kenangan mereka tengah mengharapkan hari-hari akan kembali menyapa mereka.

***

Derikan suara kayu tercipta dari beratnya beban yang dipangku sang kursi goyang. Duduklah seorang tua bangka yang sedang menyipitkan matanya untuk tersenyum. Bibirnya belum tergerak karena menahan getaran rindu yang meremangi tubuhnya. Di saat anak-anak riang berlarian di hadapannya. Mengangkat lengannya tinggi, menerbangi layang-layang. Ia teringat segala hal di masa kecilnya, di saat seluruh makhluk di bumi begitu berpikiran sederhana. Sampai akhirnya ia bertemu dengan pemuda yang umurnya dua kali lebih tua darinya, seorang teman, guru, panutan, dan dunianya di usia dewasanya.

“Dulu kau begitu keras berjuang untuk berdiri di negeri milik sendiri. Tidak berpikiran bahwa ketimpangan itu akan terus ada. Sampai saat ini, udara tidak sesejuk dulu ketika jauh dari perang. Hanya ketika perang, udara begitu menyesakkan. Aku tak tahu tepatnya salah dimana. Bagaimanapun juga ini negeri kita, negeri para pejuang. Jika kau melihatnya, banyak pemuda yang bersinar lebih terang dari mentari, dengan keringat, suara lantang, kulit menghitam, dan otot menegang. Hari ini, tanpa perang, suara bisa menang. Setidaknya kita tak perlu kehilangan banyak nyawa karena hunusan pedang yang menciptakan kubangan darah. Meski apa yang diinginkan tidak sepenuhnya hadir, biarkan bayang-bayangnya tetap mengejar.”

Sang tua itu tersenyum, bersenandung lagu terakhir sedang ia tatap buku kusam dengan aksara kunonya. Nama mereka mungkin tak akan diingat oleh peradaban, hanya saja mereka punya kenangan yang bisa diceritakan dengan bangga nanti di surga. Tempat perjanjian abadi.

-Tamat-

Baca juga: 4 Adegan Dalam Suatu Pagi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *