Rubrik Sastra

Waktu Bergerak, Kondisi Berjarak Kita Berhenti Berjalan

Agustus 10, 2020

Waktu Bergerak, Kondisi Berjarak
Kita Berhenti Berjalan

atas nama angin sempoyongan
awan bergerak mundur dan
cinta macet di tengah jalan
kakiku gemetar tegar
kemudian balik kanan
menyusuri troroar
menghitung kisah pudar
dalam seperempat kisah
upaya menyebalkan menerima kepergian

kembali ke lalu, menangkap alur:
mengolah sikap perhatian secara diam-diam,
menanam benih suka dari tatap muka,
jadi bunga matahari di ulu hati saat cemas tutup mata,
memanen momen sebagai muasal kunang-kunang
jadi intruktur jalan,
tapi kita sama sekali gelap dengan rasa nyaman
kemudian yang selalu berdegup jadi redup
dan lampu mati dari kata ‘saling’

adakala kita saling berhadapan satu ranjang
saling lelah dengan masalah
menyimpulkan lengan jadi pelukan
kemudian ketiduran
sedang mimpi kita berbeda
tapi kita masih satu ranjang
dan takut untuk bangun

adakala kita saling bertengkar
tak sempat merapikan kesimpulan
kita saling mengatakan ‘yaudah’
menjadi cerita yang menggantung

adakala masing-masing kita terjerembap oleh sembap
menahan pilu dari kejamnya kehidupan
tak ada yang bisa dijelaskan
selain keluar hujan dari mata
saling menguatkan, mengusapnya
pecah batu yang mengganjal
sungai mengalir deras
dan waktu masih berjalan

adakala masing-masing kita memunggungi
tak ada yang bisa dibicarakan
selain keheningan tentang dunia yang mulai retak
sedang dikepalaku hingar bingar ingin memelukmu
dengan kasih sesak yang mulai kadaluarsa

lika liku laku kita
jadi luka bagi waktu
: waktu bergerak, kondisi berjarak
dan kita masing-masing masih bisa berjalan
di beda jalan

2020

Baca juga: Selamat Beristirahat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *