“Dik, maaf.”
Dua kata sederhana itu menjadi pintu masuk bagi Kepada Adik, lagu karya Bob Anwar yang membawa pendengar ke dalam percakapan yang barangkali sudah terlalu lama tertunda. Tentang seorang kakak yang menyadari bahwa dirinya telah kehilangan kedekatan dengan seseorang. Padahal dulu, gelak tawa selalu mengiringi langkah mereka saat tangan mungil itu masih erat dalam genggamannya.
Melalui Kepada Adik, penyesalan hadir ketika seorang kakak menyadari bahwa ia telah melewatkan banyak hal dalam perjalanan tumbuh sang adik. Waktu membuat keduanya menjalani kehidupan masing-masing hingga persoalan, kesulitan, bahkan hari-hari sang adik tidak sepenuhnya ia ketahui lagi.
Baca Juga: Mahasiswa PBSI Universitas Pasundan Angkat Kritik Sosial Lewat Pagelaran Perisai Langit Talaga
Perasaan tersebut kemudian diterjemahkan Bob Anwar bersama sejumlah musisi melalui lirik dan unsur musikal yang membangun suasana intim dan melankolis. Kepada Adik bukan hanya berbicara soal kerinduan seorang kakak kepada adiknya, melainkan bercerita tentang kedekatan di antara keduanya yang perlahan berubah terbawa usia.
Pengalaman Emosional dalam Lirik
Kepada Adik menghadirkan pengalaman emosional yang dimulai dari sebuah ingatan. Ingatan seorang kakak tentang sosok adik yang dahulu tumbuh di sampingnya. Namun, ingatan tersebut membawanya pada kesadaran bahwa hubungan yang pernah dekat sudah terlalu lama tersekat.
Semakin dewasa, kakak dan adik mulai menjalani kehidupan masing-masing. Jarak yang hadir bukan lagi disebabkan oleh pertengkaran berebut makanan di rumah, melainkan dari banyaknya hal yang terlewat dan terlambat untuk ditanyakan. Permintaan maaf yang berulang bukan hanya ditujukan pada satu kesalahan tertentu, melainkan kesadaran bahwa selama ini ia gagal menjadi rumah untuk adiknya bercerita.
Peran Musik dalam Membangun Cerita
Selain menyampaikan pesan melalui lirik, unsur musikal turut membangun suasana yang membawa pendengar masuk ke dalam pengalaman emosional yang diceritakan. Hal itu terwujud dari keputusan Bob Anwar yang menggandeng Nuranica sebagai pengisi vokal. Karakter vokalnya membawa lirik Kepada Adik ke dalam suasana yang personal dan intim. Nuansa emosional lagu pun diperkuat oleh permainan biola Yasin Getih. Kehadiran instrumen tersebut memberikan lapisan lain dalam membangun suasana melankolis, terutama ketika lagu membawa pendengar pada bagian-bagian tentang jarak dan kerinduan. Sementara itu, susunan musik menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara lirik dan emosi yang ingin disampaikan. Setiap unsur bekerja untuk mendukung cerita seorang kakak yang perlahan menyadari perubahan dalam hubungannya dengan sang adik.
Melalui perpaduan vokal, instrumen, dan aransemen, Kepada Adik tidak hanya menghadirkan cerita yang dapat dipahami melalui kata-kata, tetapi juga suasana yang dapat dirasakan oleh pendengarnya.
Refleksi Hubungan Keluarga
Kepada Adik tentunya berbicara tentang pengalaman yang mungkin tidak asing dalam hubungan keluarga. Kedekatan antara seorang kakak dan adiknya tidak selalu bertahan dalam bentuk yang sama seiring mereka tumbuh dan menjalani kehidupan masing-masing.
Hubungan keluarga sering kali dianggap sebagai hubungan yang bersifat abadi. Padahal, kedekatan yang kuat tentu perlu dirawat. Ada banyak persoalan yang dipendam karena sungkan, percakapan yang semakin jarang dengan dalih kesibukan, juga mereka yang terlalu tidak peka untuk menyadari hubungan yang mengalami perubahan.
Melalui cerita seorang kakak yang terlambat membersamai perjalanan hidup adiknya, Kepada Adik menjadi pengingat betapa pentingnya kesadaran hubungan dalam keluarga. Percakapan sesederhana “apa kabar?” justru menjadi komunikasi yang diharuskan agar suatu hubungan terjaga dengan baik.
Dan pada akhirnya,
Dik, bukankah sampai kapan pun kamu tetap adikku?
Penulis: Adinda Anyelir
Editor: Sofie Amira




