Minggu sore setelah melewati hari libur nasional, jalanan Kota Bandung ramai oleh wisatawan luar kota yang sibuk memilih buah tangan. Membuat perjalanan saya cukup panjang, menaiki angkot dari depan Toserba Griya hingga perempatan Jalan Sumatra. Lalu berjalan dari depan Rumah Sakit Umum Bungsu, menyusuri Jalan Veteran. Kemudian, pada akhirnya mengarah ke Jalan Ahmad Yani, tujuan saya, Pasar Kosambi.
Naik menuju lantai dua, aktivitas Pasar Kosambi yang mulai sepi pun berganti. The Hallway Space, tempat kreatif anak-anak muda untuk menghasilkan dan menjual ide-idenya, ramai diisi dari berbagai kalangan. Ruang yang diisi dengan instalasi kreatif, pakaian, kuliner, kosmetik, dsb. Perhatian saya pun langsung tertuju ke lorongnya, yang di sana terdapat pesan, “Menuju opening perpustakaan interaktif Pustaka Ccita”.
Ada perpustakaan, di Pasar Tradisional Kosambi?!
Ternyata, memang ada pembukaan perpustakaan interaktif di The Hallway Space, yang bernama Pustaka Ccita. Di sana, terdapat rangkaian kegiatan mulai dari diskusi, peluncuran buku, galeri lukisan, lotre puisi, pop up, dan penampilan puisi. Adapun diskusi yang dilakukan membahas seputar perpustakaan-perpustakaan di Bandung. Pembicaranya pula merupakan anak muda yang telah melahirkan perpustakaan menarik di Bandung dan bergiat juga di Aliansi Perpustakaan Independen (API). Di antaranya, ada Reiza dari Room 19, Nabila Eva Hilfani dari Bunga di Tembok, dan Andi Abdulqodir dari Pustaka Ccita sekaligus penggagas dan pendiri Tujusemesta.
Baca juga: Pembukaan Pustaka Ccita: Menemukan Diri dalam Buku Bacaan

Lahirnya Perpustakaan Pasca-New Normal
Diskusi mengenai perpustakaan ini dimoderatori oleh Muhammad Fajar Ramadan, jurnalis dari Culture Collar, dengan gayanya yang santai dan menghibur. Setelah masuk pada pembahasan tentang maraknya perpustakaan independen pada sekarang-sekarang ini, Reiza pun mulai menjelaskan. Dilansir dari BandungBergerak, sebetulnya, dahulu, pada tahun 2000-an, Bandung memiliki lebih dari 70 toko buku atau perpustakaan. Angka ini didapat dari hasil pemetaan buku Pohon Buku di Bandung, karya Deni Rachman atau yang kerap disapa dengan Deni Lawang.
“Tapi, setelah 2009 ke atas, (toko-toko buku ataupun perpustakaan) mulai tumbang tuh satu per satu,” timpal Reiza.
Nah, menurutnya, toko buku yang masih bertahan dari tahun 2000-an itu, sekarang hanya tersisa kurang dari 10. Adapun alasan bermunculannya toko buku ataupun perpustakaan alternatif tersebut merupakan hasil dari fenomena Covid-19, yakni new normal. Sebagaimana dikutip dari Kumalasari (2023), perubahan sosial yang terjadi saat wabah pandemi Covid-19 memang bisa memunculkan pelbagai bentuk kebiasaan baru.
“Orang-orang teh sekarang melihat buku itu ga hanya sekadar benda mati, tetapi juga activity experience. Yang mana itu nawarin alternatif terhadap ketergantungan kita ke gadget. Karena kan pasti capek pas pandemi: liat laptop terus, pun ketemu orang dianya juga lagi liat laptop,” lanjutnya.
Memang selama pandemi, banyak yang terlalu dekat dengan perangkat gawai maupun komputer sehingga hal itu membuat mereka capek dan ingin menemukan aktivitas tanpa paparan perangkat tersebut. Maka, karena hal tersebut, pada Desember 2023, Room 19 terbentuk. Dengan menerapkan sistem reservasi dan shift, membuat perpustakaan ini berbeda dengan perpustakaan pada umumnya. Tidak hanya berfungsi sebagai ruang baca atau bekerja, di Room 19, orang-orang bisa bermain board game yang disediakan, serta memesan beberapa makanan.
Lain halnya dengan Perpustakaan Bunga di Tembok. Tempat ini lahir dari Komunitas Kembang Bata, yang mengamati bahwa tempat literasi dan diskusi di Bandung ini hanya sedikit. Dari situlah, Nabila dan teman-teman komunitas menginisiasi lahirnya Perpustakaan Bunga di Tembok, sebuah kerja sama dengan media Bandung Bergerak. Perpustakaan Bunga di Tembok tidak hanya menjadi ruang baca literasi, tetapi juga menjadi tempat komunitas bisa membuat berbagai kegiatan, seperti berdiskusi, nongkrong, dan berjejaring.
“Pada tahun 2024 itu masih sedikit tempat literasi. Selain itu, niatnya emang buat kumpul diskusi komunitas dan nggak cuma ruang baca,” ungkap Nabila.
Mengenal Bacaan yang Cocok lewat Pustaka Ccita
Jika Room 19 dan Bunga di Tembok dilatarbelakangi oleh semakin sedikitnya ruang literasi di Bandung, Pustaka Ccita yang diinisiasi oleh Kang Qodir—nama panggilan—memiliki keresahan lain. Ia berkaca dari pengalamannya melihat interaksi pengunjung dengan karya di pameran. Melihat bagaimana karya-karya yang dipamerkan hanya dinikmati visualnya saja, lalu dilupakan. Selain itu, ia juga merasa pendekatan kuratorial dalam pameran masih kurang mengajak pengunjung untuk terlibat lebih jauh. Menurutnya, persoalannya bukan karya yang sulit dipahami, melainkan cara karya tersebut diperkenalkan kepada pengunjung.
“Tapi dampaknya apa sih? Cuma bilang, ‘Oh iya, itu gambarnya bagus’, ‘Oh, ini karyanya keren’. Udah selesai segitu aja, gitu,” ucap Kang Qodir sambil memeragakan keresahannya.
Berlandaskan hasil pengamatan tersebut, muncul juga keresahan untuk menjawab kurangnya literasi membaca. Kang Qodir dan teman-teman Tujusemesta berpikir dengan adanya pendekatan cerita diri atau isi hati pengunjung, bisa menjawab kurang pedulinya pengunjung terhadap karya yang dipamerkan. Mereka kemudian bekerja sama dengan psikolog. Menciptakan pameran tentang mengenali diri sendiri, kemudian menghubungkannya dengan pengetahuan lain: Ourchetype.
Ourchetype, sebuah konsep pameran seni tentang bagaimana human behavior dalam tiap diri: psikologi, sosiologi dan antropologi. Setelah berkolaborasi dengan Culture Collar, media alternatif yang suka bikin hal menarik, maka lahirlah sebuah inisiasi. Iniasi untuk membuat perpustakaan di The Hallway Space dengan konsep kenali diri dan bertemu bacaan yang dekat dengan diri: Pustaka Ccita.
Baca juga: Mengenal Karya Sastra Ekokritik sebagai Upaya Menjaga Lingkungan
Hawa Literasi di Bandung
Tak terasa, diskusi hampir tuntas. Moderator kemudian memberikan pertanyaan terakhir kepada seluruh pembicara.
“Dengan pameran perpustakaan yang mulai menjamur gitu, sebenarnya di Bandung ini sendiri sebenarnya terasa nggak sih hawa orang-orang yang mulai baca buku?”
Kang Qodir menjawab pertanyaan tersebut dengan optimistis. Menurutnya, konsep Pustaka Ccita yang dimulai dengan pengenalan diri sebelum membaca. Setelah itu, pengunjung dapat membaca bagian tertentu dari buku yang telah dipilih oleh tim Pustaka Ccita. Itu semua dapat menimbulkan rasa penasaran pengunjung terhadap gambaran sifat dirinya dalam sebuah paragraf di buku. Kemudian, pada akhirnya, ini dapat menumbuhkan ketertarikan mereka untuk terus membaca. Bukan hanya satu paragraf atau satu halaman, melainkan bisa berlanjut hingga satu novel penuh.
“Jadi seenggaknya orang datang ke Pustaka Ccita itu minimal baca satu halaman saja nggak apa-apa gitu, yang penting itu ada hubungannya sama dia. Itu yang ingin kami mulai. Nah, dari situ akhirnya saya bilang, ‘Kayaknya ini bisa ditingkatkan,’” jelas Kang Qodir.
Hal yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh Reiza. Ia melihat bahwa rasa penasaran pengunjung terhadap perpustakaannya menjadi salah satu alasan mereka datang. Awalnya, banyak pengunjung memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat mengerjakan tugas. Namun, ketika mulai lelah dengan aktivitas tersebut, mereka akhirnya melihat-lihat koleksi buku dan mulai membaca.
Menurut Reiza, kondisi ini dapat terjadi karena adanya pengondisian. Jika ditelaah lebih jauh, permasalahan perpustakaan sebenarnya berkaitan dengan ekosistem. Oleh karena itu, permasalahan ini perlu ditanggung dan diselesaikan secara kolektif agar tercipta rasa saling mendukung dan ekosistem literasi yang kuat.
“Kayak gimana caranya supaya kalau dulu Bandung atau Indonesia pernah nih pada tahun 70-an gila buku, ya ayo kita bikin lagi (seperti) tahun 70-an. Dan, yang paling penting bukan cuma bertahan. Kalau bertahan mah kayak apa sih, sedih survival mode gitu kan. Tapi yang penting adalah gimana caranya berkembang,” ujar Reiza.
Lain halnya dengan Nabila dan Bunga di Tembok. Saat awal pembukaan perpustakaan ini, rasa penasaran mendorong Nabila untuk mengunjungi berbagai perpustakaan lain. Dari sana, ia menemukan bahwa persoalan utama bukan terletak pada rendahnya minat baca masyarakat, melainkan keterbatasan akses dan fasilitas perpustakaan. Berdasarkan temuan itu, Bunga di Tembok mulai menghadirkan diskusi dan kelas-kelas bersama komunitas sebagai jembatan untuk meramaikan perpustakaan. Meski berfungsi sebagai perpustakaan, Bunga di Tembok juga memiliki kafe yang dikelola komunitasnya sendiri.
“Ketika perpustakaan Bunga di Tembok buka, aku juga sempat berkeliling kan mengunjungi perpustakaan-perpustakaan lainnya. Oh, ternyata jawabannya itu bukan karena orang nggak mau atau nggak punya minat baca, tapi ternyata aksesnya yang masih terbatas, fasilitasnya pun juga terbatas, gitu,” tutur Nabila.

Visi Literasi di Bandung
Selesai dari pernyataan pembicara, diskusi berlanjut ke sesi tanya jawab. Salah seorang peserta mengajukan pertanyaan mengenai pengelompokan perpustakaan di Bandung, kerja sama dengan pemerintah, peran API ke depannya, serta kemungkinan membangun perpustakaan lain di luar Kota Bandung.
Reiza selaku perwakilan API menjawab pertanyaan terkait pengelompokan perpustakaan di Bandung. Menurutnya, data mengenai pengelompokan tersebut sebenarnya sudah ada. Sementara itu, terkait kerja sama dengan pemerintah, API juga telah beberapa kali berdiskusi dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung (Disarpus).
“Kalau terkait sama yang pemerintah, kita sudah berapa kali juga ngobrol sih sama Disarpus Kota Bandung, khususnya,” jawab Reiza.
Selanjutnya, Nabila menjawab pertanyaan mengenai peran API dan kemungkinan pembangunan perpustakaan lain. Menurutnya, pengelompokan perpustakaan oleh API memang masih belum banyak dikerjakan. Namun, apabila ada perpustakaan atau toko buku serupa Pustaka Ccita, API akan sangat mendukung. Terlebih lagi, apabila ada pihak dari Kabupaten Bandung yang ingin membangun toko buku atau perpustakaan, API siap membantu.
Reiza kemudian menambahkan bahwa API masih tergolong baru sehingga ruang geraknya masih terbatas. Untuk saat ini, API tengah melakukan sensus untuk mengetahui aktivitas yang berlangsung di perpustakaan serta kebutuhan kolektif yang diperlukan. Ke depannya, API juga berencana membuka program volunteer untuk mendata kembali perpustakaan atau toko buku yang ada di Bandung. Informasi mengenai aktivitas API dapat diakses melalui akun Instagram @api_bandung.
Baca juga: Menara Kaca dan Niskala
Harapan Literasi di Bandung
Sesi tanya jawab dengan satu penanya tersebut menandai berakhirnya diskusi. Moderator kemudian memberikan kesempatan kepada para pembicara untuk menyampaikan closing statement.
Kang Qodir menyampaikan banyak terima kasih dan apresiasi kepada The Hallway Space dan Kota Bandung karena telah memberikan ruang bagi Ourchetype hingga akhirnya dapat bekerja sama dengan Culture Collar dan membangun perpustakaan di atas pasar tradisional. Ia juga mengapresiasi ekosistem komunitas di Bandung yang terus bergerak. Berdasarkan pengalamannya, ketika muncul obrolan tentang keinginan membuat perpustakaan, gagasan tersebut langsung digas dan akhirnya betulan kejadian.
“Buat saya tuh ternyata ekosistem Bandung kayaknya harusnya begitu ya, vibes-nya gitu. Terus akhirnya kita dapat tempat ini, ini benar-benar full support dari Hallway,” seru Kang Qodir.
Adapun pembicara lainnya, Nabila, menyoroti pentingnya kerja kolektif dalam mengintegrasikan perpustakaan di Bandung. Menurutnya, hal tersebut dapat berjalan dengan bantuan komunitas literasi maupun komunitas lainnya. Bahkan, ia berharap suatu hari perpustakaan dapat hadir di setiap kecamatan, bahkan hingga tiap-tiap RW, agar perkembangan literasi di Bandung semakin panjang umur.
Reiza pun menyampaikan pandangan yang tidak jauh berbeda. Menurutnya, ketahanan ekosistem perpustakaan dan toko buku di Bandung amat diperlukan. Selain itu, masyarakat juga perlu memiliki kesadaran terhadap kondisi saat ini, di samping sambil menjaga idealisme masing-masing. Ia berharap semakin banyak toko buku dan perpustakaan baru tumbuh di Bandung. Reiza bahkan membayangkan Bandung bisa kembali seperti masa sebelum kemerdekaan, ketika kota ini memiliki toko buku dan penerbitannya sendiri, bukan hanya bergantung pada pemerintah.
“Dengan fakta itu tadi, kita sudah bisa lihat kalau sebenarnya itu mengakar jauh ya. Mungkin tadi caranya jangan terbuai dengan hal yang indah-indah, tapi tetap mengakar dan tetap bertahan dibangun di atas ekosistem yang berkelanjutan. Dan pastinya ya, selamat untuk Pustaka Ccita. Semoga panjang umurnya di dunia literasi ini,” pungkasnya.

Penulis: Muhammad Fadlan Afif Radana
Editor: Muhammad Hilmy Harizaputra




