“Cahaya di hati kami, adalah harapan, adalah rasa cinta kepada sesama dan keberanian melawan kemustahilan”
Cerita tidak selalu tumbuh dari kebahagiaan. Ada banyak kisah yang diam-diam menyimpan luka, dendam, dan kekuasaan yang tak pernah selesai. Purbasari yang selama ini kita kenal sebagai sosok baik hati dalam cerita rakyat Lutung Kasarung malam itu kehilangan akhir bahagianya. Ia tidak lagi berdiri sebagai pemenang takhta, melainkan korban dari kedengkian saudarinya.
Di atas panggung Gedung Amphitheater Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kamis (6/6/2026), pengkhianatan hadir dengan wajah yang lebih dekat dengan kehidupan. Melalui pertunjukan teater Darah Baru Purbasari, mahasiwa kelas 4-A Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UPI membongkar kembali cerita rakyat masyarakat Jawa Barat yang selama ini dianggap selesai. Kisah Lutung Kasarung tidak lagi bergerak dalam batas cerita pengantar tidur, melainkan berubah menjadi sebuah narasi kelam tentang ambisi, dendam, dan kekuasaan yang menindas.
Cerita rakyat di Indonesia selama ini banyak diwariskan sebagai kisah moral dengan dikotomi bahwa tokoh baik akan menang dan tokoh jahat akan kalah. Namun, realitas tak selalu berjalan sesederhana itu. Dalam kehidupan, seringkali pengampunan berubah menjadi alat manipulasi dan kekuasaan dapat lahir dari sebuah pengkhianatan.

Dekonstruksi Cerita Tanpa Akhir Bahagia
Pergelaran Sastra Darah Baru Purbasari menawarkan pembacaan baru terhadap legenda Lutung Kasarung. Jika selama ini Purbasari dikenal berhasil merebut kembali kerajaan setelah diasingkan, maka dalam pertunjukan ini kemenangan itu justru menjadi awal petaka.
Purbararang yang telah diampuni memanfaatkan belas kasih Purbasari sebagai celah untuk kembali merebut kekuasaan. Dengan ambisi gelap dan pengorbanan darah, ia melancarkan kudeta yang menggulingkan Purbasari dari singgasana. Mahkota Puncak berubah menjadi simbol kekuasaan, tempat kasta tertinggi berdiri di atas ketakutan dan hilangnya harapan rakyat.
Pergelaran ini tidak hanya mempertontonkan konflik keluarga kerajaan, tetapi juga menggambarkan bagaimana kekuasaan bekerja dengan begitu rakus dan manipulatif. Di bawah bayang-bayang rezim baru, tiga pewaris Purbasari dikisahkan melarikan diri membawa satu-satunya harapan yang tersisa, yaitu Kalung Cita.
Ketika Folklore Menjadi Kritik Kekuasaan
Membaca ulang cerita rakyat bukan perkara sederhana, terlebih ketika kisah tersebut telah lama hidup dalam ingatan masyarakat. Lutung Kasarung, misalnya, selama ini dikenal sebagai dongeng tentang kemenangan kebaikan atas iri hati dan keserakahan. Karena itu, setiap upaya menafsir ulang selalu berhadapan dengan ekspektasi penonton yang telah akrab dengan versi aslinya. Namun, mahasiswa kelas 4-A Bahasa dan Sastra Indonesia UPI tidak memilih untuk mengambil jalan itu. Alih-alih mengulang kisah yang sama, mereka menghadirkan tafsir baru yang lebih dekat dengan kegelisahan masa kini. Folklore tidak lagi diposisikan sebagai cerita lama yang selesai, melainkan ruang untuk membaca ulang persoalan tentang kekuasaan, pengkhianatan, dan harapan.
Pertunjukan ini terasa seperti pengingat bahwa cerita rakyat tidak pernah benar-benar hilang. Ia bisa hidup kembali, berubah bentuk, lalu memantulkan kecemasan masyarakat masa kini. Kekuasaan yang membungkam, elitisme kasta, dan politik pengkhianatan menjadi isu yang terasa dekat dengan kenyataan sosial.
Dalam beberapa adegan, ketegangan dibangun melalui atmosfer kerajaan yang suram. Singgasana tidak lagi tampak megah, melainkan menyerupai ruang ancaman. Tokoh-tokoh bergerak dalam ketakutan, sementara ambisi Purbararang menjelma menjadi simbol kerakusan yang tidak mengenal puas. Penonton tidak hanya diajak menikmati cerita, tetapi juga mempertanyakan ulang apakah kekuasaan pernah benar-benar berpihak pada kemanusiaan?
Luka Lama yang Tidak Pernah Selesai
Pada akhirnya, Darah Baru Purbasari bukan sekadar pementasan tentang kerajaan dan dongeng lama. Ia menjadi semacam peringatan bahwa sejarah sering kali berulang dalam wajah berbeda. Pengkhianatan dapat tumbuh dari pengampunan, kekuasaan dapat berubah menjadi tirani, dan mereka yang pernah tersingkir bisa kembali dengan ambisi lebih besar. Namun, di tengah dunia yang runtuh oleh perebutan kuasa, pertunjukan ini tidak sepenuhnya meninggalkan kegelapan. Kehadiran Kalung Cita sebagai artefak magis yang dibawa pewaris Purbasari menjadi simbol bahwa harapan selalu menemukan caranya untuk bertahan, bahkan ketika kerajaan telah dikuasai ketakutan.
Suci, selaku sutradara Darah Baru Purbasari, menjelaskan bahwa pertunjukan ini tidak hanya berbicara tentang luka dan pengkhianatan, tetapi juga keberanian untuk bertahan di tengah kehidupan yang penuh tantangan.
“Meskipun kehidupan kompleks dan sulit, tetapi selama masih ada harapan dan kita berani untuk maju maka semuanya bisa dilawan. Semangat menghadapi kehidupan!” ujar Suci.
Pesan itu terasa menjadi denyut utama pertunjukan. Di balik intrik kerajaan, darah, dan perebutan Mahkota Puncak, Darah Baru Purbasari seolah hendak mengatakan bahwa manusia tidak pernah benar-benar kehilangan jalan selama masih ada keberanian.
Malam di Gedung Amphitheater UPI itu akhirnya tidak hanya menyisakan cerita tentang Purbasari yang malang. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan penontonnya, yaitu keyakinan bahwa dunia mungkin penuh pengkhianatan, tetapi harapan selalu punya jalan untuk kita meraih kemenangan.
Baca juga: Puisi “Mei: Jakarta, 1998” sebagai Ingatan dan Perlawanan
Penulis: Adinda Anyelir
Editor: Aliyah Iffa




