Duka menjelma penyangkalan. Di lain waktu, ia berwujud amarah, harapan, atau kesedihan yang tak berkesudahan. Duka adalah sebuah labirin; setiap orang yang memasukinya menempuh jalan yang berbeda, dan tak ada jaminan akan menemukan jalan keluar yang sama. Maka, apakah tiap jiwa yang berduka pada akhirnya akan sampai pada penerimaan? Pertanyaan inilah yang akan ditelusuri dalam pertunjukan Bening: Lima Ruang Duka, sebuah pergelaran sastra yang mengajak penontonnya untuk menjelajahi kompleksitas duka.
Kehilangan sebagai Pintu Masuk pada Ruang-ruang Duka

Bening adalah seorang gadis yang tinggal di sebuah keluarga yang cukup patriarkis. Sehari-harinya, seluruh kebutuhan rumah tangga bertumpu pada satu sosok, yakni sang ibu, yang mengurus segala urusan domestik bagi anggota keluarganya. Namun, kehidupan mereka berubah ketika sang ibu meninggal dunia akibat serangan jantung. Sebagai satu-satunya perempuan di dalam keluarga, Bening secara tidak langsung dituntut untuk mengambil alih seluruh peran yang sebelumnya dijalankan oleh ibunya.
Tuntutan tersebut menjadi beban yang tidak mudah bagi Bening. Di usianya yang masih remaja, ia harus mengorbankan segala hal yang seharusnya didapati di masa mudanya. Tekanan yang diberikan bapak serta saudara laki-lakinya yang terus bergantung padanya semakin memperburuk keadaan. Perlahan, duka yang dialami setelah kepergian ibunya berkembang menjadi pergulatan emosional yang membuatnya harus melewati berbagai ruang duka yang tergambar dalam konsep Five Stages of Grief.
Bening dan Ruang-ruang Dukanya
Elisabeth Kübler-Ross pada 1969 dalam bukunya On Death and Dying memperkenalkan teori Five Stages of Grief. Di dalam teorinya, ia memperkenalkan lima tahap respons emosional yang dialami oleh manusia setelah mengalami kehilangan, di antaranya denial (penyangkalan), anger (kemarahan), bargaining (tawar-menawar), depression (depresi), dan acceptance (penerimaan). Dalam Bening: Lima Ruang Duka, kelima respons emosional ini terwujud dalam serangkaian adegan yang menggambarkan kondisi batin Bening setelah kepergian ibunya.
1. Ruang Penyangkalan

Bening memasuki ruang penyangkalan semasa awal kepergian sang ibu. Kehadiran sang ibu masih begitu melekat dalam ingatan dan keseharian keluarga. Penyangkalan ini bahkan tak hanya dialami oleh Bening, tetapi juga oleh anggota keluarga yang lainnya. Hal ini tampak ketika beberapa kali digambarkan bahwa mereka terkadang menyebut sang ibu secara spontan di tengah-tengah aktivitas sehari-hari, seakan kepergiannya belum sepenuhnya menjadi kenyataan yang dapat mereka terima.
Baca juga: Obrolan Pustaka: Cita-Cita dan Harapan Memperkuat Literasi Bandung Raya
2. Ruang Kemarahan

Kepergian sosok ibu menjadi beban yang begitu berat bagi Bening. Ia tidak hanya kehilangan figur yang selama ini menjadi tempat bersandar, tetapi juga harus memikul peran yang ditinggalkan sang ibu di dalam keluarga. Tanggung jawab tersebut membuatnya kehilangan kesempatan untuk menikmati masa remaja sebagaimana mestinya. Ketergantungan bapak dan adik laki-lakinya terhadap dirinya dalam urusan domestik semakin memperburuk kondisi mental yang tengah rapuh akibat duka. Tekanan yang terus menumpuk itu akhirnya mencapai puncaknya ketika Bening meluapkan seluruh kemarahan dan kekecewaannya kepada bapak dan adiknya. Momen tersebut menjadi representasi ruang kemarahan (anger) dalam perjalanan dukanya.
3. Ruang Tawar-menawar

“Aku rela menukar seluruh tubuh ini, aku rela menjadi tiada.”
Monolog tersebut diucapkan Bening ketika kondisi mentalnya semakin memburuk. Di tengah tekanan yang terus menghimpit dan rasa kehilangan yang tak kunjung mereda, ia mengajukan “tawar-menawar” kepada Tuhan agar jiwanya dapat ditukar dengan sang ibu. Bening merasa tidak lagi sanggup memikul beban yang dialaminya sejak kepergian sang ibu. Keinginan untuk menggantikan posisi ibunya menunjukkan betapa dalam keputusasaan yang ia rasakan. Adegan ini merepresentasikan ruang bargaining (tawar-menawar), ketika seseorang berusaha mencari cara untuk mengubah kenyataan pahit yang tidak mampu ia terima.
4. Ruang Depresi

Seiring berjalannya waktu, Bening semakin kehilangan ketenangan, bahkan dalam tidurnya. Ia memasuki ruang kesedihan yang begitu dalam hingga batas antara kenyataan dan alam bawah sadar seolah mulai kabur. Dalam mimpinya, hadir berbagai entitas yang merepresentasikan isi kepalanya sendiri. Sebagian mencaci dan menyalahkannya atas berbagai hal yang terjadi, sementara sebagian lainnya berusaha membela dan menguatkannya. Pertentangan antarsuara tersebut menggambarkan konflik batin yang terus menggerogoti dirinya.
Di tengah pergulatan itu, muncul sosok Rosa, personifikasi bunga mawar yang dahulu dirawat Bening bersama sang ibu. Berbeda dengan entitas lainnya, Rosa hadir sebagai figur yang menenangkan. Melalui percakapan dan kenangan yang dihadirkannya, Rosa beserta bunga-bunga lainnya menghibur Bening serta mengajaknya kembali menyusuri momen-momen bahagia yang pernah ia lalui bersama sang ibu. Kehadiran Rosa dan bunga-bunga lainnya menjadi secercah cahaya di tengah kesedihan yang menyelimuti batin Bening, sekaligus menandai bagaimana dalam ruang depresi seseorang yang tidak hanya bergulat dengan rasa kehilangan, tetapi juga berusaha menemukan alasan untuk terus bertahan.
Namun, pergulatan batin Bening belum berakhir. Dalam mimpinya, muncul entitas lain bernama Inner Child yang mengajaknya kembali merasakan kebahagiaan dan kebebasan yang pernah dimiliki semasa kecil. Kehadiran sosok tersebut seolah menjadi pengingat akan diri Bening yang perlahan hilang di balik tuntutan dan beban yang dipikulnya. Pada saat yang sama, hadir pula bayangan sang ibu, Bening menunjukkan keinginannya untuk ikut bersama sang ibu, meninggalkan segala kepedihan dan tekanan yang selama ini menghantuinya.
Baca juga: Pisahnya Satrasia Melahirkan Dikbatrasia: Mengenal Lebih Dekat Hima Dikbatrasia
5. Ruang Penerimaan
Sosok Takdir, yang dipersonifikasikan melalui wujud Giganta dan Giganti pohon, muncul di hadapan Bening ketika hasrat untuk menyusul sang ibu mulai menguat. Kehadirannya seolah menarik Bening kembali pada realitas yang harus ia hadapi. Di tengah keinginannya untuk tetap bersama sang ibu, Bening disadarkan bahwa hidupnya masih harus terus berjalan. Adegan ini menjadi titik penting dalam perjalanan dukanya. Perlahan, ia mulai memahami bahwa kehilangan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat disangkal maupun dihindari. Dari titik inilah ruang penerimaan mulai terbuka, bukan sebagai akhir dari duka, melainkan sebagai awal dari upaya untuk hidup berdampingan dengannya. Bening kemudian memilih untuk memaafkan keluarganya, sekaligus memaafkan dirinya sendiri.
Mengapa “Lima Ruang” dan Bukan “Lima Tahap”?

Elisabeth Kübler-Ross menamai teorinya sebagai ‘stages’ atau ‘tahapan’ yang dilalui oleh seseorang ketika berhadapan dengan kehilangan. Namun, pertunjukan Bening: Lima Ruang Duka mengingatkan bahwa pada kenyataannya, duka tak selalu bergerak secara linear. Emosi manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar rangkaian tahap yang harus dilalui satu per satu. Tidak semua duka berujung pada penerimaan, sebagaimana semua luka tak selalu sembuh dalam waktu yang sama.
Bagi sebagian orang, kehilangan dapat meninggalkan kesedihan berkepanjangan. Ada yang terus berkutat pada kemarahan, ada yang kembali menyangkal setelah sempat menerimanya, ada pula yang terus terjebak dalam depresi tanpa benar-benar mencapai kedamaian. Setiap individu mempunyai cara dan kekuatan mental yang berbeda dalam menghadapi kehilangan. Dengan demikian, pengalaman berduka tidak dapat disamaratakan. Pemahaman ini menjadi konsep dasar atas pertunjukan Bening: Lima Ruang Duka.
Alih-alih menggunakan istilah “lima tahap duka” mereka menamainya sebagai “lima ruang duka”. Diksi yang dipilih menegaskan bahwa duka bukan perjalanan dengan alur yang pasti, melainkan ruang-ruang emosi yang dapat dimasuki atau ditinggalkan bahkan bisa dikunjungi kembali sewaktu-waktu.
“Dalam dunia nyata, tahapan ini tidak akan selamanya berurutan. Orang-orang yang merasa kehilangan ini bahkan ada yang tidak sampai pada fase penerimaannya sama sekali, ada yang denial ke anger ke denial lagi. Sehingga kami memberi judul lima ruang duka bukan lima tahap duka,” ucap Sutradara Bening: Lima ruang duka.
Penulis: Helma Mardiana
Editor: Allysa Maulia Rahman
Baca juga: Jejak Tiga Luka: Dilema Seorang Sarjana Perempuan




