Kriiiiingngng! yang Terus Berbunyi: Membaca Karya Seno Gumira Ajidarma melalui Sosiologi Sastra Ian Watt

“Setiap orang mempunyai pesawat telepon di mejanya. Setiap orang tenggelam dalam kesibukannya sendiri.” 

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak kegiatan manusia yang diperantai oleh sebuah telepon. Namun, kedekatan manusia dengan telepon tidak selalu berarti kedekatan dengan orang lain. Di balik fungsinya sebagai alat komunikasi, telepon justru dapat menjadi penanda bagaimana seseorang memilih untuk merespons atau mengabaikan kehadiran pihak lain, terutama di sela kesibukannya.

Dalam cerpen Kriiiiingngng! Seno Gumira Ajidarma menjadikan dering telepon sebagai simbol yang terus mengganggu dan sering terabaikan. Telepon itu berbunyi tanpa henti, sementara orang-orang yang berada di sekitarnya justru memilih melanjutkan pekerjaan masing-masing. Tidak  ada yang benar-benar merasa berkewajiban untuk mengangkatnya. Seolah kesibukkan menjadi alasan yang dianggap wajar untuk mengabaikan sesuatu yang sebenarnya membutuhkan perhatian. 

Sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang dikenal konsisten mengangkat kritik sosial, Seno Gumira Ajidarma sering menghadirkan realitas melalui cara yang tidak biasa. Ia tidak selalu menyampaikan kritik secara langsung, tetapi memanfaatkan simbol, alegori, dan peristiwa-peristiwa sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satunya Kriiiiingngng!, telepon bukan sekadar alat komunikasi, melainkan lambang dari suara yang terus meminta untuk didengar. Sayangnya, suara itu justru tenggelam di tengah budaya kerja yang indivdualis  dan hubungan antarmanusia yang semakin renggang. 

Membaca Kriiiiingngng! melalui Kacamata Sosiologi Sastra Ian Watt

Cerpen ini menarik dibaca menggunakan pendekatan sosiologi sastra, khususnya teori Ian Watt. Melalui pendekatan tersebut, karya sastra dipahami bukan hanya sebagai hasil imajinasi pengarang, tetapi juga sebagai cerminan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, peristiwa-peristiwa yang muncul dalam cerita dapat dibaca sebagai representasi dari kondisi sosial yang lebih luas.

Ian Watt memandang bahwa karya sastra memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat. Salah satu aspek penting dalam teorinya ialah sastra sebagai cerminan masyarakat, yakni bagaimana sebuah karya merepresentasikan nilai, kebiasaan, maupun persoalan sosial yang berkembang pada zamannya. Meskipun karya sastra bukan sepenuhnya salinan langsung dari realitas, pengarang tetap merekam pengalaman sosial yang kemudian diolah menjadi cerita.

Pandangan tersebut tampak relevan ketika diterapkan pada Kriiiiingngng!. Sejak bagian awal, pembaca diperlihatkan sebuah situasi yang sebenarnya sederhana. Sebuah telepon terus berbunyi di salah satu meja kantor. Orang-orang yang berada di sekitarnya menyadari keberadaan telepon tersebut, bahkan saling menyuruh untuk mengangkatnya. Akan tetapi, tidak seorang pun benar-benar melakukannya.

“Tak ada seorang pun yang mau mengangkatnya.” 

Kalimat yang singkat itu menjadi representasi dari persoalan sosial yang lebih besar. Yang sedang dipersoalkan bukanlah telepon atau dering itu sendiri, melainkan hilangnya rasa tanggung jawab. Semua orang mengetahui bahwa ada sesuatu yang perlu dilakukan, tetapi masing-masing merasa bahwa tugas tersebut bukan tanggung jawabnya. Akibatnya, persoalan sederhana berubah menjadi masalah yang terus berlarut-larut bahkan hingga bertahun-tahun.

Baca Juga: Baik yang Tidak Baik-Baik Saja: Fenomena Good Girl Syndrome

Dalam perspektif Ian Watt, situasi tersebut dapat dibaca sebagai cerminan masyarakat modern yang semakin individualis. Lingkungan kerja digambarkan sebagai ruang yang dipenuhi manusia, tetapi miskin akan interaksi sosial. Di mana orang bekerja dengan target masing-masing, sibuk mengejar produktivitas, dan menganggap urusan di luar pekerjaannya sebagai beban tambahan. Akhirnya, hubungan antarmanusia dibangun bukan atas dasar kepedulian, melainkan sebatas fungsi. 

“Setiap orang yang punya pikiran untuk mengangkat telepon itu pun ragu-ragu, takut mencampuri urusan orang lain, takut urusannya jadi berkepanjangan, apalagi dirinya selalu punya urusan yang mendesak dan harus diselesaikan segera.” 

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa sikap apatis dalam cerpen bukan lahir karena ketidaktahuan, melainkan karena pilihan. Ketakutan untuk terlibat membuat mereka lebih nyaman menjadi penonton daripada pelaku. Fenomena ini masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini. Dalam banyak situasi, seseorang sering kali memilih diam ketika melihat persoalan yang terjadi di sekitarnya. Bukan karena tidak peduli sepenuhnya, tetapi karena merasa bahwa persoalan tersebut bukan bagiannya. Sikap saling melempar tanggung jawab kemudian menjadi kebiasaan yang tanpa disadari melemahkan rasa simpati dan empati.

Kriiiiingngng! di Kehidupan Saat Ini

Meskipun ditulis pada tahun 1990, Kriiiiingngng! masih terasa dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini. Perubahan teknologi memang berlangsung sangat cepat. Telepon rumah yang menjadi pusat cerita kini telah berganti menjadi smartphone, media sosial, email, hingga berbagai aplikasi pesan instan. Namun, persoalan yang diangkat Seno ternyata tidak ikut berubah. Yang menjadi masalah bukan lagi alat komunikasinya, melainkan bagaimana manusia merespons orang lain.

Pada masa sekarang, masyarakat hidup dalam situasi yang serba cepat. Informasi datang tanpa henti, pekerjaan menumpuk, dan berbagai notifikasi terus bermunculan setiap hari. Di tengah kondisi tersebut, orang semakin terbiasa memilih informasi yang dianggap penting bagi dirinya dan sisanya diabaikan. Kebiasaan ini sedikit demi sedikit melahirkan sikap tidak acuh terhadap persoalan yang tidak berkaitan langsung dengan kepentingan pribadinya.

Fenomena tersebut mengingatkan pada para pegawai dalam cerpen yang terus mencari alasan untuk tidak mengangkat telepon. Mereka tidak menolak secara langsung, tetapi selalu memiliki pembenaran mengapa pekerjaan itu sebaiknya dilakukan oleh orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, pola seperti ini masih sering ditemui, baik dalam lingkungan kerja, birokrasi, maupun pelayanan publik. Tanggung jawab berpindah dari satu pihak ke pihak lain hingga persoalan yang sebenarnya sederhana justru tidak pernah terselesaikan.

Baca Juga: SpongeBob yang Tidak Pernah Menyerah dalam Perspektif Eksistensialisme

Cerpen ini mencapai puncaknya ketika telepon akhirnya diangkat setelah ratusan tahun. Alih-alih mendengar kabar penting atau percakapan biasa, pembaca justru menemukan suara seseorang yang selama ini berusaha mencari keadilan.

“Hallo! Bagaimana sih ini? Kenapa baru diangkat sekarang? Sudah dua ratus tahun kami menelepon! Tidak diangkat-angkat juga! Bagaimana sih? Katanya mau membela rakyat kecil!” 

Kutipan tersebut mengubah cara pembaca memaknai seluruh cerita. Dering telepon yang sejak awal dianggap mengganggu ternyata merupakan suara masyarakat yang membutuhkan sebuah jawaban. Selama dua ratus tahun, suara itu tidak pernah benar-benar didengar karena semua orang merasa persoalan tersebut bukan urusannya. Melalui  ini, Seno memperlihatkan bahwa sikap apatis yang dilakukan terus-menerus akan melahirkan ketidakadilan yang berlangsung sangat lama.

Menariknya, tidak ada tokoh yang digambarkan sebagai penyebab utama permasalahan. Justru semua tokoh memiliki alasan yang terdengar masuk akal. Ada yang sedang menyelesaikan pekerjaan, ada yang sedang rapat, ada yang merasa bukan tugasnya, dan ada pula yang takut urusannya menjadi panjang. Akan tetapi, ketika alasan-alasan pribadi itu dikumpulkan, lahirlah sebuah persoalan sosial yang jauh lebih besar. Hal inilah yang bisa disebut fenomena bystander effect atau kecenderungan tidak bertindak ketika banyak orang lain karena berasumsi orang lain akan bertindak. Semua orang mengetahui ada masalah, tetapi tidak seorang pun menjadi pihak pertama yang mengambil tindakan.

Epilog

“Apakah Tuhan mendengarnya?” 

Pertanyaan penutup itulah yang menjadi puncak akhir dari Kriiiiingngng!. Seno tidak memberikan jawaban, melainkan mengajak pembaca mempertanyakan kembali kepedulian manusia terhadap sesamanya. Melalui pendekatan sosiologi sastra Ian Watt, cerpen ini menunjukkan bahwa dering telepon bukan sekadar bunyi, tetapi simbol dari suara yang terus diabaikan. Meski telah ditulis lebih dari tiga dekade lalu, kritik sosial yang dihadirkan tetap relevan di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan individualis.

Penulis: Nabilah Novel Thalib
Editor: Auliya Nur Affifah

Baca Juga: Bagaimana Sally Rooney Mengubah Kisah Hidupnya Menjadi Novel