Di tengah budaya yang menuntut kita selalu berhasil, kegagalan sering kali dianggap sebagai tanda bahwa seseorang harus berhenti. Padahal, tidak semua kegagalan harus berakhir dengan menyerah.
Bagi banyak orang yang tumbuh ketika televisi masih menjadi hiburan utama, SpongeBob SquarePants adalah kartun yang kerap menemani pada sore hari. Wajahnya yang selalu tersenyum, bulu matanya yang lentik, serta suaranya yang khas membuat karakter spons kuning ini begitu melekat dalam ingatan. Dulu, saya menontonnya hanya sebagai hiburan. Namun, setelah belajar filsafat, saya justru melihat ada sesuatu yang menarik dari karakter ini.
Saking seringnya menonton, kita hafal hampir semua tokohnya. Ada Patrick yang tinggal di bawah batu, Squidward yang selalu ingin hidup tenang tanpa gangguan SpongeBob, Tuan Krabs yang begitu mencintai uang, hingga Plankton yang tak pernah berhenti mencuri resep Krabby Patty. Namun, ada satu tokoh yang sering luput dari perhatian, yaitu Nyonya Puff, guru mengemudi SpongeBob.
Dari hubungan antara SpongeBob dan Nyonya Puff, muncul sebuah pertanyaan sederhana: mengapa SpongeBob tidak pernah menyerah belajar mengemudi?
Baca juga: Lebih dari Sekadar Game: Roblox dan Ruang Sosial Baru di Dunia Digital
Sekolah Mengemudi yang Tidak Pernah Selesai
Dalam kehidupan nyata, sekolah memiliki tujuan yang jelas. Kita masuk TK, SD, SMP, SMA, kuliah, lalu lulus. Seluruh sistem pendidikan dibangun atas keyakinan bahwa suatu hari nanti kita akan mencapai garis akhir.
SpongeBob justru hidup dalam siklus yang berbeda.
Ia terus datang ke sekolah mengemudi setiap hari. Teman-teman sekelasnya bahkan beberapa kali berubah; Patrick dan Squidward pernah belajar mengemudi bersamanya. Gurunya tetap Nyonya Puff. Ruang kelasnya pun tetap sama. Yang berubah hanyalah jumlah kegagalannya.
Bahkan dalam episode Mrs. Puff, You’re Fired, disebutkan bahwa SpongeBob telah gagal lebih dari 1.258.056 kali.
Kalau kita berada di posisinya, mungkin kita sudah berhenti sejak kegagalan ke-10. Kita mungkin akan menyalahkan sistem ujian, menyalahkan guru, atau menyimpulkan bahwa mengemudi memanglah bukan bakat kita.
Namun, SpongeBob selalu melakukan hal yang sama.
Datang lagi.
Belajar lagi.
Gagal lagi.
Lalu kembali esok hari.
Ketidakpastian Hidup yang Tak Pernah Sia-Sia
Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus menceritakan tokoh Sisyphus, seorang manusia yang dihukum para dewa untuk mendorong batu besar ke puncak gunung. Namun, setiap kali hampir mencapai puncak, batu itu kembali menggelinding ke bawah. Hukuman itu berlangsung selamanya.
Sekilas, hidup Sisyphus tampak sia-sia.
Begitu pula kehidupan SpongeBob di sekolah mengemudi. Setiap ujian berakhir dengan kegagalan. Setiap kegagalan mengembalikannya ke titik awal. Tidak ada tanda bahwa suatu hari ia benar-benar akan mendapatkan SIM.
Di sinilah Camus memperkenalkan gagasan tentang absurditas. Manusia selalu mendambakan kepastian, tujuan, dan jawaban, sedangkan dunia tidak pernah menjanjikan semuanya. Kehidupan sering kali tetap diam ketika kita menuntut kepastian. Akan tetapi, meski kehidupan manusia tak pernah memiliki kejelasan pasti (absurd), mereka tetap mencari arti dari semua yang dijalani.
SpongeBob tidak hidup dalam ilusi bahwa semuanya akan berjalan mudah. Ia tahu dirinya gagal. Ia sedih setiap kali hasil ujiannya buruk. Namun, kesedihan itu tidak berubah menjadi keputusasaan. Ia memilih untuk datang kembali.
Camus menulis,
“The struggle itself toward the heights is enough to fill a man’s heart. One must imagine Sisyphus happy.”
Perjuangan itu sendiri sudah cukup untuk memenuhi hati manusia. Karena itu, kita harus membayangkan Sisyphus sebagai sosok yang bahagia. Bukan karena batunya akhirnya sampai di puncak, melainkan karena ia tetap memilih mendorongnya.
Begitu pula SpongeBob. Ia terus belajar mengemudi bukan karena ada jaminan akan lulus, melainkan karena ia memilih untuk terus mencoba. Dalam pandangan Camus, di situlah letak pemberontakan manusia terhadap absurditas: tetap menjalani hidup meskipun dunia tidak pernah memberikan kepastian.
Baca juga: DRAW THE LINE: Tiga Babak Perlawanan Warga Bandung untuk Bumi
Tidak Ada yang Memaksa dan Dipaksakan
Kalau dipikir-pikir, ada hal yang cukup aneh.
Dalam kehidupan nyata, orang tua biasanya ikut menentukan pendidikan anak. Mereka memikirkan sekolah terbaik, mengeluarkan biaya besar, bahkan kadang memaksa anak memilih jalan tertentu.
Lalu, mengapa orang tua SpongeBob tidak pernah berkata, “Sudahlah, tidak usah belajar mengemudi lagi.” Atau, “Cari saja pekerjaan lain.”
Justru tidak ada paksaan semacam itu.
Di sinilah pemikiran Jean-Paul Sartre menjadi menarik. Sartre dalam Existentialism Is a Humanism mengatakan bahwa manusia itu “condemned to be free” atau “dikutuk untuk bebas.” Maksudnya, manusia tidak bisa menghindar dari kebebasan untuk memilih. Bahkan ketika kita memilih untuk menyerah, itu tetap merupakan sebuah pilihan yang harus dipertanggungjawabkan.
SpongeBob memiliki kebebasan itu. Ia bisa berhenti sekolah mengemudi kapan saja. Ia bisa menerima kenyataan bahwa dirinya memang tidak berbakat mengemudi. Namun, ia memilih tetap datang ke kelas Nyonya Puff.
Pilihan itu mungkin tidak membawanya pada kelulusan, tetapi ia tetap bertanggung jawab menjalaninya. Bagi Sartre, makna manusia bukan ditentukan oleh hasil akhirnya, melainkan oleh pilihan-pilihan yang ia ambil serta keberaniannya menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut.
Kebahagiaan Tidak Selalu Bergantung pada Hasil
Yang paling menarik dari SpongeBob justru bukan kegagalannya.
Melainkan kebahagiaannya.
Ia tetap bahagia bekerja di Krusty Krab meskipun bosnya terkenal sangat pelit. Selalu bahagia menangkap ubur-ubur bersama Patrick. Bahkan, ia tetap antusias ketika kembali mengikuti ujian mengemudi.
Padahal tujuan akhirnya adalah memiliki SIM, meskipun itu tidak pernah benar-benar ia capai.
Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak harus menunggu akhir yang sempurna. Manusia justru dapat menemukan makna dalam proses menjalani hidup, meskipun hasil akhirnya belum tentu sesuai harapan.
Mungkin tanpa sadar, SpongeBob menunjukkan bahwa kebebasan selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Kita bebas memilih, tetapi kita juga harus siap menjalani konsekuensi dari pilihan tersebut, meskipun dunia tidak memberikan jawaban yang pasti. Kegembiraan pun tidak selalu lahir dari keberhasilan, melainkan dari keberanian untuk terus menjalani kehidupan itu sendiri.
Baca juga: Rebel Ride: Gerakan XR untuk Bumi yang Lebih Baik
Becermin pada SpongeBob
Barangkali, kita semua pernah menjadi SpongeBob.
Guru honorer yang menunggu kepastian pengangkatan. Mahasiswa yang berkali-kali mengirim lamaran kerja setelah lulus. Peserta magang yang berharap diangkat menjadi karyawan tetap. Atau pekerja yang setiap hari menjalani rutinitas tanpa tahu kapan keadaan akan berubah.
Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki jaminan tentang masa depan.
Namun, seperti yang ditunjukkan SpongeBob, manusia selalu memiliki kebebasan untuk menentukan sikap terhadap ketidakpastian itu. Kita bisa memilih berhenti, atau memilih datang lagi esok hari.
Mungkin inilah yang ingin disampaikan Camus dan Sartre dengan cara yang berbeda. Camus mengingatkan bahwa dunia tidak selalu memberikan jawaban yang kita inginkan, tetapi manusia tetap mampu memberontak terhadap absurditas dengan terus menjalani hidup. Sementara Sartre mengingatkan bahwa di tengah ketidakpastian itu, kita tetap bebas memilih jalan kita sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut.
Pada akhirnya, hidup barangkali memang tidak selalu menghadiahkan kepastian. Namun, selama kita masih berani mencoba sekali lagi, masih ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam diri kita.
Barangkali itulah mengapa kita masih menyukai SpongeBob hingga dewasa. Bukan karena ia selalu berhasil, tetapi karena ia tidak pernah berhenti mencoba. Di tengah hidup yang sering kali absurd dan penuh ketidakpastian, mungkin keberanian terbesar bukanlah memastikan kita akan berhasil, melainkan tetap memilih datang lagi esok hari.
Penulis: Jessica Nurleman
Editor: Muhammad Hilmy Harizaputra




