Ada anggapan umum yang sering kita dengar bahwa perempuan baik itu lembut dan penurut. Satu hal yang harus diketahui adalah menjadi baik tidaklah salah. Namun, tanpa disadari, di balik perilaku “baik”, ada hal yang dikorbankan.
Perlu kita sepakati bahwa manusia merupakan makhluk dinamis yang tidak bisa dipahami dari satu sisi saja, termasuk emosinya. Sayangnya, emosi sering kali tidak sepenuhnya menjadi kendali diri sendiri karena adanya peran sosial yang ikut membatasinya, terutama pada perempuan. Perempuan sering dihadapkan pada tuntutan menjadi sosok “baik” sesuai norma sosial. Maka, tidaklah mustahil, hal tersebut secara perlahan membuat mereka kehilangan hak dasar untuk merasakan dan mengekspresikan emosi lainnya.
Tuntutan untuk selalu ramah, lemah lembut, dan menghindari konflik termanifestasi nyata dalam fenomena Good Girl Syndrome yang membatasi perempuan. Good Girl Syndrome adalah kondisi ketika perempuan secara konsisten memprioritaskan untuk menjadi baik dan memuaskan orang lain. Kondisi ini bahkan dilakukan sering kali dengan mengabaikan perasaan atau hak mereka sendiri.
Kembali lagi, menjadi baik tidaklah salah. Namun, kondisi mengabaikan perasaan atau bahkan hak mereka sendiri inilah yang membuat hal baik menjadi tidak baik-baik saja. Sebagaimana menurut Yudith dkk. (2024), pola perilaku ini dapat berlanjut hingga dewasa. Individu akan terus-menerus berusaha mempertahankan citra ramah untuk menyenangkan orang lain walau ia sendiri tidak baik-baik saja. Inilah hal yang dikorbankan di balik perilaku “baik”.
Simulakra dan Good Girl Syndrome
Pola fenomena ini selaras dengan konsep simulakra yang dicetuskan oleh Jean Baudrillard (1981). Simulakra adalah gambaran, citra, atau representasi yang muncul karena mekanisme simulasi hingga akhirnya terlepas dari realitas sesunggguhnya. Bahkan, pada akhirnya juga dapat berbalik menggantikannya sehingga tiada lagi perbedaan antara yang citra dan yang realitasnya.
Berkaitan dengan konsep simulakra tersebut, Good Girl Syndrome bukan hanya sekadar masalah menahan emosi. Kondisi ini merupakan sebuah simulakrum ketika perempuan dipaksa memenuhi citra semu oleh lingkungan sekitarnya. Citra perempuan “ideal” maupun “baik”, keduanya tidak merujuk pada realitas emosional yang asli. Keduanya tidak mewakili apa yang sebenarnya dirasakan tetapi akhirnya dipaksa untuk dianggap nyata karena tuntutan lingkungan. Alhasil, semuanya menjadi lupa akan perasaan jujur dan alami dari seorang perempuan yang sebenarnya. Ini karena sudah tak ada bedanya lagi mana yang citra dan mana yang realitasnya.
Baca juga: Ayah dan Perannya yang Tidak Pernah Selesai
Pola Asuh Otoriter, Awal dari Good Girl Syndrome
Good Girl Syndrome bisa berawal dari lingkungan sosial terdekat perempuan, yakni keluarga. Keluarga yang juga merupakan lingkungan pertama, pola asuhnya menentukan bagaimana sindrom ini terbentuk sejak kecil. Pola asuh menurut Makagingge dkk. (2019) merupakan tindakan merawat, memelihara, membimbing, melatih, dan memberikan pengaruh terhadap anak. Tindakan-tindakan tersebut nantinya akan berperan aktif dalam membentuk kondisi serta tumbuh kembang psikologis, emosional, dan perilaku anak.
Salah satu dugaan penyebab Good Girl Syndrome adalah tindakan orang tua yang mengadaptasi pola asuh otoriter. Dalam pola asuh ini, orang tua menggunakan kendali, kekuasaan, dan aturan yang mereka tetapkan untuk memaksa anak agar mengikuti arahan mereka (Shofuroh & Wulandari, 2024). Tak hanya dugaan, peneliti dari sejumlah studi menunjukkan bahwa anak yang tumbuh di keluarga otoriter cenderung merasa tertekan. Mereka memang tumbuh menjadi anak yang penurut, namun dengan kondisi emosi yang kurang stabil.
Studi yang dilakukan oleh Tu (2022), misalnya. Temuannya menyatakan bahwa pola asuh otoriter, terutama dari figur ayah, membuat anak perempuan cenderung merasakan tekanan tersebut. Ketika ruang kebebasan eksplorasi dibatasi, perempuan lebih rentan mengalami konflik internal jangka panjang yang memicu Good Girl Syndrome. Mereka merasa harus memenuhi ekspektasi keluarga dan akhirnya menekan identitas diri yang sebenarnya. Hal ini disebabkan oleh ruang aman yang seharusnya hadir dalam keluarga tidak mereka dapatkan.
Konstruksi Gender Punya Andil
Tekanan pola asuh otoriter juga tidak terlepas dari konstruksi gender yang melahirkan stereotipe pada masyarakat luas. Gender, menurut WHO, merujuk pada karakteristik perempuan dan laki-laki yang dikonstruksi secara sosial. Konstruksi gender menyederhanakan peran dan sifat laki-laki maupun perempuan berdasarkan norma sosial dan budaya yang sudah mengakar kuat dalam masyarakat. Peran yang dikonstruksi oleh masyarakat tersebut seolah-olah telah memetakan perempuan sebagai pihak lemah dan pasif sehingga mereka dituntut untuk senantiasa patuh.
Salah satu dampak paling nyata dari konstruksi gender adalah pembatasan ekspresi emosional perempuan. Perempuan kerap dididik untuk menahan amarah, menjadi penurut, tidak menentang, dan menghindari konflik untuk mendapatkan citra perempuan “baik”. Hal ini membuat emosi seperti kecewa, marah, sedih, dan sifat kritis menjadi sesuatu yang mencoreng esensi perempuan “baik”.
Pada titik tersebut, pola asuh otoriter dan konstruksi gender membawa label perempuan “baik” menjadi suatu simulakrum. Mudahnya, perempuan “baik” adalah citra buatan yang tidak mewakili perempuan sepenuhnya. Citra buatan ini membuat perempuan sering kali dinilai gagal ketika mereka memunculkan emosi yang sebenarnya.
Toxic Positivity sebagai Hiperrealitas Emosional
Good Girl Syndrome tidak hanya membatasi ruang emosional perempuan, tetapi juga memperkuat budaya toxic positivity. Menurut Shipp dan Hall (2024), toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang menolak paksa emosi “negatif” seperti kesedihan, kekecewaan, atau kemarahan sambil terus-menerus menekankan pentingnya berpikir dan bersikap “positif” dalam situasi apa pun. Mengutip pendapat Feltner (2023), toxic positivity berbeda dari sikap positif yang sehat karena konsep ini mengabaikan kompleksitas emosi manusia. Meskipun terkesan baik, tekanan untuk selalu terlihat “baik-baik saja” ini dapat membuat seseorang memendam masalahnya sendiri hingga berisiko mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan dirinya. Dampak serupa inilah yang rentan dialami oleh perempuan dengan Good Girl Syndrome.
Diungkapkan oleh Apriyanto dan Hidayati (2025) dalam sebuah studi bibliometrik bahwa toxic positivity bukanlah hanya masalah individu. Kondisi ini juga merupakan hasil dari konstruksi sosial dan budaya digital yang memperkuat ekspektasi tidak realistis terhadap ekspresi emosional. Kembali pada pandangan simulakra, keharusan perempuan untuk selalu positif dan patuh ini menciptakan realitas buatan. Sesuatu yang dianggap lebih nyata dan wajib dipatuhi daripada emosi sebenarnya. Inilah juga yang dikenalkan Baudrillard sebagai konsep hiperrealitas, yaitu keadaan ketika fantasi, dalam konteks ini adalah topeng positif, lebih dihargai daripada kebenaran emosional individu.
Baca juga: SpongeBob yang Tidak Pernah Menyerah dalam Perspektif Eksistensialisme
Dari Suppresi hingga Gangguan Jiwa-Raga
Penekanan emosi yang dialami perempuan dengan Good Girl Syndrome memunculkan konsekuensi serius. Seorang perempuan yang terus hidup dalam hiperrealitas dengan menampilkan sosok yang selalu ceria, tenang, dan penurut. Ketahuilah bahwa mereka sebenarnya sedang menjalani mekanisme koping yang tidak adaptif (maladaptive coping). Sejalan dengan itu, upaya dalam menekan ekspresi emosi (expressive suppression) ini dilakukan agar mereka terhindar dari konflik dan penolakan sosial.
Namun, tubuh dan pikiran manusia tidak dirancang untuk memelihara kepalsuan dalam jangka panjang. Menilik dari beberapa studi, dapat dimengerti bahwa strategi expressive suppression berkaitan erat dengan penurunan kesejahteraan psikologis (psychological well-being). Perempuan yang terjebak dalam simulasi ini berisiko tinggi mengalami kecemasan kronis, stres berlebih, hingga depresi akibat tumpukan emosi negatif yang terisolasi.
Secara fisik, emosi yang terus ditekan dapat bermanifestasi menjadi gangguan psikosomatis. Adapun di antaranya seperti penurunan kualitas tidur, peningkatan asam lambung, hingga penurunan fungsi kognitif dalam beraktivitas sehari-hari. Artinya, simulasi sosial yang awalnya diciptakan untuk “menyelamatkan” citra diri justru berakhir merusak kualitas hidup pengembannya.
Merebut Kembali Hak Berekspresi
Pada akhirnya, Good Girl Syndrome bukanlah sekadar kebiasaan “terlalu baik”. Sindrom ini merupakan bentuk keterasingan diri akibat tuntutan budaya yang mementingkan citra daripada realitas emosional. Masyarakat, baik di lingkungan keluarga maupun ruang digital, bertanggung jawab untuk tidak lagi memelihara budaya toxic positivity dan penekanan emosi.
Memutus rantai Good Girl Syndrome berarti merobek simulakrum tersebut. Perempuan perlu menyadari bahwa marah, kecewa, sedih, dan dan sifat kritis bukanlah indikator “kegagalan” menjadi manusia. Sungguh, semua itu merupakan sinyal autentik yang valid dan manusiawi.
Sudah saatnya kita memberi ruang bagi ekspresi emosi yang jujur tanpa menuntut kesempurnaan semu. Hal ini dapat dimulai dari mengenali perasaan sendiri, melepaskan ekspektasi untuk menyenangkan semua orang, serta tegas menetapkan batas diri (self-boundaries). Sebab, kesejahteraan psikologis yang sejati hanya bisa dicapai ketika kita berhenti menghidupi simulasi sosial dan berani menjadi manusia yang utuh.
Penulis: Najwa Azizah Nathania
Editor: Muhammad Hilmy Harizaputra




