Teater Lakon UPI Pentaskan “Sumur Tanpa Dasar”

“Kerennya naskah ini, bagiku setiap kali aku baca ulang sampai selesai, aku selalu menemukan hal-hal yang baru. Ada pengetahuan baru dan menemukan kesimpulan yang lain,” ungkap Josep Razaqi, sutradara pementasan Sumur Tanpa Dasar.

Teater Lakon UPI mementaskan  naskah drama “Sumur Tanpa Dasar” Karya Arifin C. Noer di Gedung Amphitheater UPI, Kamis (5/2/2026). Pementasan ini merupakan bagian dari resital teater yang digelar oleh Teater Lakon UPI. 

Naskah drama yang pertama kali terbit pada tahun 1989 tersebut disutradarai oleh Josep Razaqi, seniman muda di bidang teater yang telah beberapa kali menggarap berbagai pementasan. Sumur Tanpa Dasar sebelumnya pernah ia sutradarai pada tahun 2021, dan kembali dipentaskan tahun ini dengan sejumlah pembaruan konsep. Josep menjelaskan, pembaruan tersebut terletak pada durasi pementasan serta alur cerita yang disusun lebih komprehensif dibandingkan pementasan sebelumnya.

Baca juga : Sumur Tanpa Dasar: Pementasan Resital Teater Lakon Bandung

Di balik pementasan

Pementasan ini diinisiasi oleh Teater Lakon UPI yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dengan tiga judul naskah yang berbeda-beda. Pementasan Sumur Tanpa Dasar menjadi penutup pada Resital Teater Lakon tahun ini. Josep mengungkapkan, persiapan produksi ini tergolong singkat, yakni sekitar tiga bulan, dengan melibatkan kolaborasi besar antara 14 aktor, 12 pemusik, dan 5 penata.

Tantangan terbesar justru dirasakan oleh Ismail. Aktor pemeran utama ini baru ditunjuk memerankan tokoh Jumena tiga minggu sebelum pementasan digelar, menggantikan pemeran sebelumnya. Dalam waktu sesingkat itu, Ismail harus menjalani latihan fisik ekstra, mendalami gejolak batin Jumena, serta menghafal naskah setebal seratus halaman.

Kesulitan dan Harapan

Konsep baru dengan durasi yang relatif panjang (kurang lebih 4 jam) menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Josep. Meskipun sudah memiliki pemahaman landasan-landasan ilmu terkait naskah yang dipentaskan,  hal yang paling sulit adalah menyampaikan pesan cerita kepada penonton.

“Karena kadang kita mengerti maksud ceritanya bagaimana saat membaca, tapi saat dibentuk menjadi pementasan, penonton belum tentu sama mengertinya,” ucap Josep.

Kesulitan juga dirasakan para aktor, terutama karena konflik batin Jumena disajikan dengan pendekatan absurdisme. Tokoh ini menuntut aktor menonjolkan nuansa kehampaan, kesia-siaan, dan ketidaknyamanan hidup.  Salah satu kutipan yang menggambarkan dari tokoh Jumena, “Kalau saya bisa percaya, saya tenang. Kalau saya bisa tidak percaya, saya tenang. Kalau saya percaya dan bisa tidak percaya, saya tenang. Tapi saya tidak percaya dan tidak bisa tidak percaya, jadi saya tidak tenang…”

Ismail mengaku beberapa kali mengalami burnout saat pementasan berlangsung. Bahkan di Babak 4 yang seharusnya ada dialog, Ismail diam saja. Tapi dengan profesionalisme yang dimiliki Ismail hal itu tidak terbaca oleh penonton. 

Penutup : Semoga terhibur

Harapan Josep tidak muluk-muluk, “Dapat dinikmati. Tidak spesifik harus ada pesan apa dan sebagainya. Karena aku menikmati saat membaca naskahnya, jadi aku ingin penonton bisa menikmati pertunjukannya juga.”

Harapan itu tampaknya tersampaikan. Rio, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia mengungkapkan bahwa ia sangat terpukau dengan alur yang cukup kompleks dan sarat makna dalam setiap adegannya. Selain itu, Maudy, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia memahami satu hal yang membuatnya amaze dari pertunjukan ini, yaitu ternyata apa yang ada di pikiran kita benar-benar sangat berpengaruh sama apa yang kita lakukan.

Menikmati teater itu sebenarnya sederhana saja: kita datang, duduk, dan biarkan ceritanya mengalir. Cukup nikmati saja aktingnya, suasananya, dan emosinya sebagai sebuah karya sastra.

Baca juga : Jejak Dosa di Ujung Malam, Teater Lakon: Eksploitasi Keputusasaan dan Ambisi Manusia

Penulis : Azila Fitria Ramadhani & Alya Khairina Hartono

Editor : Aulia Fathiha Sitiazzahra