Bagaimana jika suatu hari mainan tidak lagi menjadi pusat dunia anak? Boneka, mobil-mobilan, dan berbagai permainan yang dahulu memenuhi masa kecil perlahan mulai berbagi ruang dengan layar yang menyala di genggaman. Pertanyaan inilah yang menjadi kegelisahan utama dalam Toy Story 5.
Di tengah perkembangan teknologi digital, Toy Stroy 5 mengajak penonton melihat kembali perubahan pola bermain anak sekaligus mengingatkan pentingnya ruang bagi mereka untuk bermain, berimajinasi, dan membangun cerita sendiri. Momentum Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli menjadi waktu yang tepat untuk merefleksikan perubahan tersebut. Sebab, dunia anak hari ini tidak lagi sama seperti beberapa dekade lalu.
Dunia Anak yang Perlahan Berubah
Jika dahulu masa kecil identik dengan bermain petak umpet, menyusun cerita menggunakan boneka, atau menghabiskan waktu bersama teman sebaya, kini banyak anak tumbuh berdampingan dengan perangkat digital sejak usia dini. Kehadiran teknologi memang membawa berbagai kemudahan. Anak dapat mengakses informasi, hiburan, hingga sarana belajar hanya melalui satu perangkat di tangan mereka. Namun, perubahan tersebut juga memengaruhi cara anak bermain dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan bahwa bermain merupakan salah satu hak dasar anak karena berperan penting dalam perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan kreativitas mereka. Melalui permainan, anak belajar memahami emosi, membangun hubungan dengan orang lain, menyelesaikan masalah, hingga mengembangkan imajinasi. Karena itu, bermain tidak dapat dipandang sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak.
Baca Juga: Langit Terakhir Ibu: Memutar Kembali Kenangan dalam Bingkai Kehilangan
Di sisi lain, kehadiran ruang digital yang semakin dominan juga menjadi perhatian. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital menegaskan pentingnya perlindungan anak di ruang digital karena anak-anak semakin akrab dengan penggunaan internet sejak usia dini. Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak, sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam menjaga keseimbangan antara dunia digital dan pengalaman bermain secara langsung.
Namun, di tengah berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan lain: apakah anak-anak hari ini masih memiliki ruang untuk bermain, membangun cerita, dan menciptakan kenangan masa kecil seperti generasi sebelumnya?
Ketika Mainan Tidak Lagi Menjadi Pusat Dunia Anak
Kegelisahan terhadap perubahan dunia anak tergambar dalam film Toy Story 5. Film ini tidak menampilkan teknologi sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk, tetapi memperlihatkan bagaimana pola bermain anak perlahan mengalami pergeseran.
Salah satu adegan memperlihatkan Bonnie yang berusaha mengajak anak-anak tetangganya bermain bersama menggunakan mainan yang dimilikinya. Namun, ajakan tersebut tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Anak-anak itu justru lebih tertarik pada perangkat digital dan sibuk dengan dunianya masing-masing. Melihat hal tersebut, Jessie kemudian berusaha mencari cara agar Bonnie tetap memiliki teman bermain.
Adegan tersebut tidak sekadar menunjukkan anak yang sibuk dengan gawai. Lebih jauh, ia merepresentasikan perubahan cara anak membangun relasi sosial. Jika dahulu permainan menjadi ruang untuk berbagi cerita, bekerja sama, dan menciptakan pengalaman bersama, kini sebagian interaksi tersebut mulai bergeser ke ruang digital yang cenderung lebih individual.
Akibatnya, kesempatan anak untuk membangun cerita bersama, bernegosiasi, serta mengembangkan kemampuan sosial dan emosional melalui permainan menjadi semakin terbatas. Melalui sudut pandang para mainan, Toy Story 5 seolah mempertanyakan: masihkah anak-anak memiliki ruang yang cukup untuk mengalami masa kecil mereka secara utuh?
Menariknya, Toy Story 5 tidak menghadirkan perubahan tersebut sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Film ini justru menunjukkan bahwa teknologi dan pengalaman bermain secara langsung tidak harus saling meniadakan. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama anak tetap memiliki ruang untuk berinteraksi, berimajinasi, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Imajinasi dan Sastra Anak di Tengah Perubahan Zaman
Dalam perspektif sastra anak, bermain dan bercerita merupakan dua aktivitas yang saling berkaitan. Burhan Nurgiyantoro (2004) menjelaskan bahwa sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga berperan dalam perkembangan emosi, imajinasi, dan pembentukan karakter anak. Sastra anak hadir melalui cerita-cerita yang dekat dengan dunia mereka sehingga membantu anak memahami berbagai nilai kehidupan secara lebih mudah.
Ketika seorang anak memainkan boneka, mobil-mobilan, atau tokoh favoritnya, mereka sebenarnya sedang membangun sebuah cerita. Anak menciptakan karakter, menentukan konflik, hingga menyelesaikan persoalan yang mereka ciptakan sendiri. Dalam proses tersebut, anak belajar memahami emosi, mengembangkan kreativitas, serta melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dengan kata lain, melalui permainan, anak tidak hanya menjadi penikmat cerita, tetapi juga pencipta cerita. Mereka membangun dunia imajinasinya sendiri, menyusun alur, dan memberi makna terhadap berbagai pengalaman yang mereka miliki.
Baca Juga: Bilingualisme pada Anak Dilihat dari Kacamata Psikolinguistik, Menguntungkan atau Malah Merugikan?
Kemampuan inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan kreativitas, empati, dan literasi anak. Sebelum mampu membaca dan menulis secara formal, anak terlebih dahulu belajar memahami dunia melalui cerita dan berbagai pengalaman imajinatif yang mereka ciptakan sendiri.
Dalam konteks ini, Toy Story 5 dapat dibaca sebagai karya sastra anak modern yang merepresentasikan kegelisahan terhadap perubahan dunia anak. Melalui tokoh-tokoh mainan yang dipersonifikasikan, film ini mengingatkan bahwa permainan imajinatif memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak. Ketika ruang bermain semakin tergeser oleh dominasi layar digital, ruang bagi anak untuk membangun cerita dan mengembangkan imajinasi pun ikut mengalami perubahan.
Merawat Dunia Imajinasi Anak
Momentum Hari Anak Nasional mengingatkan bahwa hak anak tidak hanya mencakup pendidikan dan perlindungan, tetapi juga hak untuk bermain, berimajinasi, dan berkembang secara sosial. Di tengah perubahan zaman, menjaga ruang bagi anak untuk melakukan hal-hal tersebut menjadi semakin penting.
Melalui kisah yang dihadirkannya, Toy Story 5 mengingatkan bahwa masa kanak-kanak tidak hanya dibentuk oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh pengalaman-pengalaman sederhana yang sering kali dianggap sepele, seperti bermain bersama, menciptakan cerita, dan membangun imajinasi.
Mainan mungkin tidak lagi menjadi pusat dunia anak seperti dahulu. Namun, kebutuhan anak untuk bermain, membaca, mendengarkan cerita, dan berimajinasi tidak pernah benar-benar hilang. Di tengah perkembangan teknologi yang terus bergerak, tugas orang dewasa bukanlah menjauhkan anak dari dunia digital. Akan tetapi, memastikan bahwa mereka tetap memiliki ruang untuk tumbuh melalui permainan, cerita, dan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Ruang tersebut dapat dihadirkan melalui hal-hal sederhana, seperti meluangkan waktu untuk mendongeng sebelum tidur, menemani anak bermain peran, membaca buku bersama, atau sekadar memberi kesempatan bagi mereka untuk menciptakan cerita dan dunianya sendiri.
Pengalaman-pengalaman kecil inilah yang sering kali menjadi bagian penting dalam pembentukan imajinasi, empati, dan kenangan masa kecil anak. Sebab, masa kanak-kanak tidak hanya dibentuk oleh apa yang mereka lihat di layar, tetapi juga oleh cerita-cerita kecil yang mereka ciptakan sendiri.
Penulis: Kheiza Aulia Putri Andini
Editor: Auliya Nur Affifah




