Rubrik Sastra

Sajak Kesaksian 1/5 Abad

Oktober 7, 2020

Atap-atap rumah gugur
Beras penghidupan satu minggu kuyup
Sebab langit nangis seharian
Dan bapak termenung putus kerja
Memandangi lantai kian keruh
Kami bingung, kenapa si tetangga berada mendapat santunan negara

Bulan makin matang di celah plafon yang jebol
Dan kutu-kutu gudik bar-bar di tubuh
Kami lihat kulit-kulit mencair jadi nanah
Kemiskinan pun terasa, pada lapar yang tumbuh cakarnya
Pada nasib hitam. Di dada, mengoyak-ngoyak kehidupan

Derita membuat kami bertanya-tanya
Di manakah Negara selain di televisi dan kartu tanda penduduk
Sudah tujuh turunan nasib kami tak berubah, berarti ada yang salah
Pernah punya sawah, tapi yang tumbuh pabrik
Pernah punya rumah, tapi rata jadi lapang bola
Pernah punya hak, tapi hilang sejak kami bernegara

Ya, Rendra orang-orang tua mewarisi kami harkat derajat yang luar
biasa
Ya, Sukarno kami telah merdeka dari rasa bahagia
Ya, Jokowi lihatlah ini!
Lihatlah tanahmu, tanah kau berdiri
Kau ada di pihak mana?
Ya, wakil-wakil rakyat Masih pantaskah kau menyandang “rakyat”?

Matahari terbit pada retakan jendela kaca
Jejak kaki manusia menebah bumi
Mata mereka melata memeriksa keadaan
Buruh-buruh membikin sebuah barisan panjang
Dan perempuan-perempuan bunting siap dengan alat kerja
Sementara, di dalam televisi para cukong girang:

Welcome to Indonesian Heaven land mister!
Surga peradaban dunia!
Di sini, kami punya jutaan jiwa siap kerja
Bebas bayar asal jangan sampai kena busung lapar
Yang putih bisa kerja dengan otak
Yang hitam bebas terserah kalian
Ada hutan-hutan bebas, silakan mainkan!
Ini semua milik kalian, jika ada manusia anggap saja monyet melintas
Mereka dalam kendali
Bicara sedikit, ruji besi siap dikirim
Merdekalah di Indonesian Heaven Land!

Begitukah kami dipandang dan diperlakukan
Hadang kami dengan senjata laras panjang
Paksa kami menangis saat berjuang dengan gas
Tidak akan pernah! Kami rakyat tumbuh dari padi
Yang ditanam sendiri, besar dan terjebak jadi buruh
Ditindas pasti melawan, itu tanah kami, hutan kami
Siapa berani mencuri sejengkal, memonopoli sejengkal
Kami buka setiap perjuangan dengan darah
Hujan timah, bahkan ribuan bencana
Takkan pernah buat kami berhenti
Sebab ari-ari kami berdenyut di tanah
Dan kami berdiri di sini dan bertanya

Mengapa hal baik selalu memihak uang
Hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah
Mengapa segala keputusan terlepas dari persoalan kehidupan
Badan-badan umum negeri Bhineka Tunggal Ika
Berbeda tapi tetap menindas rakyatnya
Hallo pak Presiden, apa kabar investasi?
Masih terkendala kami-kami?
Hayoloh, bantai saja kami, kami abadi.

Burung Kasuari kini bertengger di dahan pagar
Khusyuk mendengar suara kami
Suara keadilan suara dendam burung Kasuari
Yang sebentar lagi hilang habitatnya
Suara tangis pulau Papua yang kian dalam boroknya
Suara kicau burung yang tak pernah terdengar lagi
Suara perempuan yang diperkosa
Suara mesin produksi yang membuat tangan dan kepala kami keras
Suara leluhur kita, ibu kita, nenek kita, dan para moyang
Yang mati-matian menyatukan keberagaman tiap pulau
Mereka mungkin bertanya-tanya, inikah yang telah kami wariskan
kepada kalian?

Ah Indonesia, haha Indonesia
Bagaimana bisa pelindung rakyat
Menjadi pelindung pemerintah dan cukong-cukong
Dan lihat mereka makan beraknya sendiri
Bagaimana bisa wakil rakyat cakap main sulap
Tai-tai bisa juga jadi janji-janji
Tai-tai bisa juga jadi hal bijak
Ya, bapak negara ke mana larinya ibu
Apakah jadi buruh demi hak anak-anaknya
Apa berdiri di sini ikut bersuara dengan kami
Sungguh sayang, kami berkumpul di sini atas ketidakadilan yang
sedang bahagia

Kami bertanya, hal apa yang kelak kalian wariskan
Kepada anak-anak dan cucu-cucu kalian
Langit industri yang mengubah siang jadi malam
Atau daya hidup sehat yang menyejahterakan
Hutan yang ditumbuhi orang-orang asing, sawit, dan kolam hitam
batu bara
Atau hutan yang menghormati kami dengan air, buah, dan udara
untuk bernapas
Apa yang kelak kalian wariskan pada generasi-generasi selanjutnya
Apakah keadaan yang terus menerus genting seperti ini
Atau kesemakmuran seluruh umat
Sungguh kami tak bisa lagi membaca keadaan semacam ini
Inilah suara kami
Suara dari sudut-sudut negeri
Yang terus hidup dan kelak mengganggu tidur kalian

Bulan busuk di celah plafon yang jebol
Kami lihat kemanusiaan menangis
Di setiap rumah-rumah
Di setiap dada orang-orang miskin
Pak Presiden, di hatimu
Tangis siapakah yang nyaring

Fajar Kliwon, 5 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *